Mengenal penggunaan, makna, arti dan filosofi saput poleng kain khas Bali

Mengenal makna, arti dan filosofi saput poleng kain khas Bali

Jika kita kerumah orang bali maupun keBali itu sendiri maka kita akan melihat disekitar rumahnya terdapat gapura, patung, atau pohon yang diselimuti kain bermotiv kotak-kotak yang bercorak hitam dan putih.Nama lain dari kain kotak-kotak bercorak hitam putih yang seperti papan catur itu iyalah ‘saput poleng’. Di Bali sendiri saput poleng ini bertebaran dan menyelimuti pohon khusus terntentu, baik di depan rumah, didalam pura(Tempat Ibadah Hindu Bali), maupun di pinggir-pinggir jalan.

Dalam benak masyarakat awam yang belum mengetahui makna dan tujuan kain poleng ini mungkin akan merasa aneh, gimana tidak aneh, masa pohon diselimuti baju. Dalam ulasan ini kami akan menjelaskan filosofis dari saput poleng tersebut. Makna filosofis Saput poleng merupakan bentuk dasar dari jagat raya kita yaitu positif dan negatif yang dalam kajian masyarakat Bali dikenal sebagai istilah Rwa Bhineda. Rwa Bhineda adalah dua sifat yang bertolak belakang, yakni hitam-putih, baik-buruk, bersih kotor, atas-bawah, suka-duka dan sebagainya.Saput Poleng dalam bahasa bali terdiri atas kalimat ‘saput’ yang artinya selimut, dan ‘poleng’ yang artinya belang. Selimut belang yang bermotiv papan catur dan bercorak hitam putih ini merupakan khas bali. Dalam konteks tradisi di Bali, ‘saput’ bermakna busana yang dalam bahasa Bali disebut ‘wastra’. Hingga akhirnya saput poleng diartikan sebagai ‘busana bermotif kotak kotak dan bercorak hitam putih’ yang dipergunakan secara acara khusus.

Jero Mangku Widya, sesepuh spiritual muda asal Denpasar, menjelaskan bahwa warna kotak-kotak hitam putih itu merupakan simbol Rwa Bhineda.
"Kalau di Tiongkok ada yang namanya Ying dan Yang maksudnya adalah didunia ini terdiri atas positif dan negatif" kata Jero Mangku Paksi, Sabtu 20 Februari 2016. 

Penyematan kain itu terhadap sesuatu itu adalah simbol. Jika sebuah pohon atau patung dikenakan kain tersebut, kata Jero Mangku Widya, di sana bersetana (bersemayam) dzat yang menghitam-putihkan dunia ini. Artinya disetiap sisi itu segala sesuatu berstana sifat hitam dan putih dan keduanya harus seimbang, dan kain poleng itu dimaksudkan untuk penyeimbang antara hitam dan putih dari suatu sisi di Bumi ini.

"Jika terdapat tugu yang diselimuti kain hitam putih kotak-kotak, berarti yang bersetana di tugu itu adalah yang menghitam-putihkan areal pura tersebut," jelas dia.
Namun hakikatnya, Jero Mangku menambahkan, warna hitam putih pada kain poleng merupakan manifestasi keseimbangan alam jagat raya.
"Rwa Bhineda itu ada hitam ada putih, ada benar ada tidak benar, ada bersih ada kotor. Intinya adalah keseimbangan alam," tutup Jero Mangk

Jenis-Jenis Poleng di Bali
Menurut tradisi terdapat tiga jenis Saput Poleng yaitu Saput Poleng Rwa Bhineda, Saput SPoleng Sudha Mala dan Saput Poleng Tri Datu. Saput poleng Rwabhineda bercorakan putih dan hitam. Warna terang dan gelap sebagai symbol baik dan buruk sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas. Saput poleng Sudha Mala bercorakan putih, hitam dan abu. Abu sebagai peralihan hitam dan putih yang artinya menyelaraskan atau menyeimbangkan antara baik dan buruk. Sedangkan Saput Poleng Tridatu berwarna putih, hitam dan merah. Merah simbol rajas (ke-energikan), hitam adalah tamas (kemalasan), dan putih simbol satwam (kebijaksanaan, kebaikan).Saput Poleng sebagai simbul tradisi umat Bali digunakan oleh para pecalang(Orang yang menertibkan jika ada kegiatan adat), patung penjaga depan gerbang, kulkul/kentongan, balian(Orang Spritual Bali), dikenakan oleh dalang wayang kulit ketika melaksanakan pangruwatan/penyucian, pada pohon-pohon tertentu, maupun pada tempat suci yang diyakini berfungsi sebagai penjaga. Pada intinya makna Saput Poleng itu bertujuan untuk menjaga agar terjadi keselarasan antara energy negative dan energy positive.

Penggunaan ‘Saput Poleng’ Kain Kotak Hitam-putih pada tradisi BaliSaput poleng ini khusus dalam artian: Tidak boleh di kenakan di sembarang tempat maupun sembarang benda, acara atau kesempatan. Melainkan hanya boleh ditempat, benda, dan acara khusus tertentu saja.Di Bali, Pura yang dikenakan Saput Poleng masing-masing disebut ‘pelinggih’. Dalam bangunan tempat suci Hindu Bali ini terdapat kelompok yang memiliki tata letak khas yang terdiri dari Tri Mandala atau tiga wilayah yaitu: 1. Utama Mandala, ini merupakan wilayah yang paling dalam yang sering disebut oleh umat Bali yaitu ‘Jeroan’ untuk menyebut Mandala Utama.2. Madya Mandala, ini merupakan wilayah tengah Pura yang sering disebut oleh umat Bali yaitu ‘Jaba Tengah’.3. Nista Mandala, ini merupakan wilayah Pura yang paling luar yang biasa disebut oleh umat Bali yaitu ‘Jaba Pisan’Untuk penggunaan saput poleng pada Pura ini khususnya dipergunakan untuk bangunan pura bagian luar atau Nista Mandala termasuk Patung penjaga gerbang yang berada diwilayah paling luar Pura. Selain di patung, juga dipergunakan sebagai umbul-umbul dan paying yang biasa ditancapkan pada wilayah pura paling luar.Saput oleng dalam Rumah Orang Bali.Dalam pekarangan dan rumah orang Bali memiliki struktur seperti Pura yang ada dibali yaitu memaki konsep Tri Mandala dan juga untuk mempergunakan Saput Poleng ini tidak beda jauh dengan yang ada di Pura yaitu di wilayah paling luar, di pura dalam rumah oran Bali, dan di patung penjaga gerbang yang terdapat di sisi kiri dan kanan gerbang.Saput Poleng sebagai busana khas orang Bali.Saput poleng ini dipergunakan oleh masyarakat Bali sebagai busana khas mereka. Namun Saput Poleng ini tidak boleh dipergunakan sembarang kesempatan, melainkan khusus dipergunakan hanya pada saat sedang melaksanakan tugas adat yang berhubungan dengan upacara/upakara di wilayah luar baik itu di pura, rumah atau desa adat.

Peneliti Agama Lokal: ‘Sesajen untuk Keselarasan Kosmos, Bukan Penyembahan’

Peneliti Agama Lokal: ‘Sesajen untuk Keselarasan Kosmos, Bukan Penyembahan’

Konsultasi-Publik-Raperda-Pengakuan-dan-Perlindungan-Masyarakat-Adat-Kasepuhan-Membuka-Peluang-Partisipasi-Masyarakat-Kasepuhan

Peneliti Studi Agama dan Lintas Agama UGM, Dr. Samsul Maarif, melayangkan kritik pada kategori kultur – natur yang kerap digunakan dalam memandang agama-agama lokal. Bahkan, kata Samsul, kategori ini ‘hancur’ dalam perspektif penganut agama-agama lokal.
“Karena (dalam agama lokal) yang ber-kultur itu juga pohon,” kata peneliti agama lokal ini sambil menjelaskan bahwa manusia juga sejatinya masuk dalam kategori natur.
Samsul lalu menjelaskan kategori yang umum dipakai ini sehingga agama lokal kerap dituding Animisme. Manusia yang masuk dalam kategori kultur, jika berelasi dengan sesuatu yang dianggap supra-natural dinamakan ‘menyembah’. Kultur, jika berelasi dengan ‘natur’ disifatkan sebagai eksploitatif atau menjaga.
“Nah, ketika seseorang (agama lokal) datang ke hutan, disebut relasinya dengan natur. Teori Animisme mengatakan tidak mungkin manusia datang ke pohon kecuali di situ ada spirit (ruh),” katanya di depan peserta seminar yang bertajuk ‘Esoterisme Islam, Agama-agama Lokal dan Islam Jawa’ di Yogyakarta, (17/5).
Dengan demikian, menurut teori Animisme, mereka yang ‘ziarah’ ke pohon tertentu sejatinya berelasi dengan ruh yang ada di balik pohon. Karena itu, hubungan ini masuk dalam kategori supra-natural atau dalam bahasa ‘agama dunia’ disebut penyembahan.
“Orang-orang Kristen dan Islam memahami, yang boleh disembah itu hanya Tuhan. Maka, syirik-lah mereka,” katanya dengan memberikan contoh ritual sesajen yang dituding syirik karena cara pandang yang tidak tepat dalam memahami agama-agama lokal.
Jebolan Arizona State University ini menjelaskan bahwa ada karakter umum yang dimiliki oleh agama-agama lokal atau yang biasa disebut ‘indigenous religions’ di berbagai negara seperti di Afrika, India dan Indonesia. Untuk menangkap karakter itu, Samsul menawarkan cara pandang ‘relasi inter-personal’ sebagaimana yang pernah diajukan peneliti Nurit Bird-David. Apa yang dikenal sebagai spritualitas dalam agama dunia, realitas yang sama dalam agama lokal bisa ditinjau dari cara pandang ‘relasi inter-personal’.
“Sepanjang sejarah, dalam melihat agama lokal, umumnya menggunakan paradigma agama-agama besar atau agama dunia seperti Islam dan Kristen. Sehingga seringkali dalam melihat agama lokal selalu berada dalam bayang-bayang agama dunia,” katanya
Relasi inter-personal juga bisa melihat bahwa tujuan agama-agama lokal itu sejatinya adalah keseimbangan kosmos (alam). Jika tujuan eskatologis penganut agama-agama dunia itu adalah surga, dalam agama lokal, yang menjadi arah penganutnya, ialah keselarasan kosmos.
“Selaras berarti damai di hati, damai di jiwa, enaklah pokoknya,” katanya sambil menjelaskan ‘hidup enak’ menurut agama lokal ketika segala entitas kosmos itu bergerak selaras dan memainkan perannya sesuai dengan kapasitas kodratnya masing-masing.
Setiap entitas wujud ketika memahami dirinya, maka ia pun akan memahami di luar dirinya. Sedemikian sehingga setiap entitas wujud senantiasa menentukan entitas wujud lain dalam relasi kosmos. “Kalau filsuf Rene Descartes bilang, ‘aku berpikir maka aku ada’, maka teori penganut agama lokal atau adat, ‘aku berelasi maka aku ada,” katanya sambil menjelaskan eksistensi seseorang sangat ditentukan oleh relasi dengan yang lain.
Dan semua wujud yang menentukan wujud lainnya disebut person, apapun kapasitas dan perannya di alam ini. “Person, menurut penganut agama lokal, bisa dalam wujud manusia, bisa juga dalam wujud selain manusia.”
Person yang menyadari peran dan relasi dengan sekitarnya yang dengannya kosmos bisa selaras disebut ‘hero’ atau religius. Person dengan karakter ini melahirkan etika tanggungjawab atau penyelaras. Adapun person yang tidak menyadari perannya – karenanya tidak berelasi sebagaimana mestinya, – hingga menyebabkan kosmos tidak selaras disebut ‘monster’ atau ireligius.
Etika tanggung jawab bagi penganut agama lokal terwujud antara lain dengan prinsip timbal-balik. Sebagaimana halnya sesajen, bila seorang telah mengambil suatu dari alam maka dia wajib memberi balik ke alam. Seorang penganut agama lokal memahami tanah ‘adat’ sebagai person lain yang karenanya dia bisa berelasi dan eksis, sehingga kehilangan tanah sama artinya dengan merenggut satu bagian penting dari eksistensinya.
Adapun bentuk ‘ritual’ di dalam berbagai masyarakat adat yang bermacam-macam seperti ke pohon tertentu, gunung, batu, atau ke hutan, “hal ini disebabkan pengenalan sang person ke wujud-wujud yang lain sangat personal.”
Jika seseorang senantiasa ‘ziarah’ ke batu, anaknya belum tentu melakukan hal yang sama. Karena sang anak bisa saja tidak ‘mengenal’ batu yang telah dikenal secara personal oleh ayahnya. Pohon, lanjut Samsul memberi contoh, diyakini memiliki peran khusus dalam kosmos sehingga dianggap sebagai ‘person’. Ketika pohon dianggap person, maka relasi penganut agama lokal kepada pohon adalah relasi inter-personal.
“Hal ini berbeda dengan teori yang banyak dipakai, yaitu teori Animisme. Dimana orang percaya bahwa dibalik pohon itu ada ruh. Bukan ada ruh di balik pohon, tapi relasi itu sendiri mengandung spirit,” katanya sambil menggambarkan apa yang ia saksikan di Tana Toa “Ammatoa”, pedalaman Sulawesi Selatan.
Pembaharuan atau penyegaran relasi ini biasanya dilakukan secara ritual oleh masyarakat adat. contohnya, orang yang mau menghuni rumah baru, ada ritualnya. Seseorang yang hamil 7 bulan juga ada ritualnya dan seterusnya. Selain itu, ritual yang umumnya dilakukan bersama-sama oleh masyarakat setempat ini, juga bertujuan memberi kesempatan bagi yang ingin mencari “kenalan baru” yang dengannya ia dapat berelasi. Dan dengan hubungan yang baru ini mereka bisa berkontribusi pada penyelarasan kosmos.
“Bagi saya, jika ditelusuri genealoginya, (makna) agama dan adat di Indonesia sama saja sebenarnya. Politiklah yang membedakan keduanya. Dari sisi kajian sejarahnya sama, Belanda dan Orde Baru yang membeda-bedakannya.”
Berkat pandangan dunia agama-agama lokal pada alam ini, menurut Samsul, belakangan dipandang sebagai satu alternatif yang tidak bisa diabaikan dalam perbincangan soal krisis ekologi dan pelestarian alam. Di sisi lain, karena berada di luar agama-agama dunia, agama-agama lokal kerap dipandang sebagai ‘agama marginal’. Diakui keberadaannya, tapi disikapi secara marginal. Mereka tidak jarang mendapat hambatan administratif dalam mendapatkan hak dasarnya sebagai warga negara hanya karena tidak menganut agama yang diakui negara.
YS/IslamIndonesia. Foto: epistema.or.id

Menengok kehidupan Sunda Wiwitan di Kota Bekasi - Jawa Barat.

BETAWI DAN KRANGGAN
Penghormatan Warga Kranggan kepada Bumi dan Langit
Penghormatan Warga Kranggan kepada Bumi dan Langit
Kranggan adalah sebuah perkampungan yang terletak persis di perbatasan antara Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor. Meski berada di tengah derasnya laju pembangunan yang berlangsung di Kota Bekasi maupun di Cibubur, Kabupaten Bogor, masyarakat Kampung Kranggan, yang kini termasuk wilayah Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, masih lekat dengan kehidupan budaya dan tradisi masa silam.

Baca juga: - Kisah perjalanan gadis memilih Hindu
                   - Sesajen untuk kesalarasan cosmos, bukan penyembahan
                   Mengapa agama menjebak manusia dalam pemahaman yang terbatas ?

Di kampung ini masih dapat dijumpai rumah-rumah tradisional yang berbentuk rumah panggung, meskipun sudah banyak yang mulai rusak dimakan usia. Disebut rumah panggung karena bangunan rumah ditopang sejumlah tiang penyangga, dengan jarak antara lantai rumah dan tanah rata-rata sekitar 50 sentimeter.
Keunikan lain rumah tradisional di Kampung Kranggan adalah terletak pada bentuk atap rumah yang bervariasi dan fungsi masing-masing ruangan di dalam rumah tersebut.
Sedikitnya ada tiga bentuk atap rumah panggung yang kini masih tersisa di Kampung Kranggan, yakni atap model limas, model jure, dan model julang ngapak. Atap model limas dan jure sepintas mirip, namun atap model limas tidak memiliki ampig, atau penutup bagian depan dan belakang yang terbuat dari anyaman bambu. Atap model julang ngapak berbentuk seperti atap rumah joglo, dengan bagian puncak meruncing.
Rumah panggung ini punya tiga ruangan inti, yaitu ruang tengah berbentuk los, sebuah kamar tidur, dan ruangan belakang digunakan tempat penyimpanan benda pusaka atau padi yang disebut pangkeng atau pandaringan. Selain ketiga ruang itu, rumah panggung dilengkapi balai tambahan, atau paseban, yang berfungsi sebagai tempat bersantai atau menerima tamu.
Di masa silam, pemilik rumah menyediakan gentong berisi air bersih dan gayung di balai paseban rumahnya. Para pengelana yang kehausan dapat menciduk air dan beristirahat di balai paseban itu tanpa harus mengganggu pemilik rumah. Tradisi menyiapkan gentong air dan gayung itu sudah hilang, namun pengelana tidak perlu khawatir kehausan, karena di sepanjang jalan alternatif menuju Cibubur ini sudah banyak berdiri warung makanan dan minuman.
Upacara
Masyarakat Kampung Kranggan sampai saat ini masih taat menjaga dan menghidupkan tradisi leluhur mereka. Nutur galur mapai asal, menjaga kelestarian budaya leluhur, demikian pedoman hidup yang dipegang teguh masyarakat asli kampung ini.
Salah satu tradisi yang dilangsungkan secara periodik oleh warga Kampung Kranggan adalah babarit, sebuah prosesi upacara syukuran dan penghormatan kepada leluhur, langit dan bumi, serta sang pencipta. Prosesi ini sarat nuansa budaya Sunda, baik dari bentuk sesajian, atau sesajen, tata upacara, dan doa yang dilantunkan pemimpin upacara ini.
Upacara babarit atau disebut pula salametan bumi ini digelar setiap tahun menyambut datangnya Tahun Baru Saka, Mapag Taun Baru Saka, dan berlangsung selama sebulan penuh. Puncak acaranya adalah mengarak kerbau putih keliling kampung.
"Ini adalah bentuk ungkapan rasa syukur dan terima kasih warga Kampung Kranggan kepada Yang Maha Kuasa karena kami diberikan berkah dan keselamatan," ujar Suta Tjamin, salah seorang tokoh masyarakat Kranggan dalam perbincangan dengan Kompas, Selasa (20/6).
Dalam salah satu rangkaian upacara babarit, warga Kampung Kranggan berkumpul dan menggelar tikar dan terpal di jalanan. Sebuah ancak, yakni alas dari jalinan bambu berukuran 1,5 m x 1,5 m berisikan sesajen berupa buah-buahan dan hasil bumi lainnya, kue, ikan, daging, serta nasi lima warna dan janur, diletakkan di tengah jalan. Sesajen lainnya ditempatkan di sejumlah baskom.
Upacara ini dipimpin sesepuh desa yang dikenal sebagai Bapak Kolot. Pemuka desa ini biasanya duduk menyendiri di ujung barisan. Sebuah tempat pembakaran kemenyan, atau disebut parupuyan, dan sesajian diletakkan di hadapannya. Sebelum acara doa bersama dimulai, Bapak Kolot membakar kemenyan di pedupaan dan membacakan doa- doa dalam bahasa Sunda.
Upacara dilanjutkan dengan penyampaian maksud dan tujuan acara serta siapa-siapa tokoh warga yang dihadirkan. Disusul dengan penyampaian secara ringkas tentang sejarah dan tradisi di Kranggan serta ucapan terima kasih dan permohonan kepada Tuhan agar warga Kampung Kranggan dan seluruh masyarakat di Indonesia diberikan keselamatan dan berkah.
Sekilas disebutkan, leluhur warga Kampung Kranggan ini adalah keturunan Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran dari tanah Sunda (Nusa Kalapa), yang mengungsi ke wilayah tengah, yang kini meliputi wilayah Bogor, Bekasi, Cirebon, dan Banten. Kampung Kranggan ini diperkirakan mulai dibangun sekitar abad ke-15 atau abad ke-16 Masehi, dan pemuka desa, Bapak Kolot Kampung Kranggan, saat ini merupakan keturunan yang ke-9 dari pendiri desa.
Selesai didoakan, sebagian sesajian di atas ancak kemudian digantung di pohon dan sebagian sesajian lainnya ditanam di tiga lubang yang sudah disiapkan di tepi ujung persimpangan jalan. Bapak Kolot Kisan, sesepuh warga Kampung Kranggan, mengatakan, upacara salametan bumi bukan semata-mata ditujukan bagi kepentingan warga Kampung Kranggan, namun untuk keselamatan dan kesejahteraan Indonesia.
Budayawan Betawi Ridwan Saidi mengungkapkan, tradisi dan budaya yang hidup dan dipertahankan warga Kampung Kranggan adalah akar dari tradisi dan budaya Betawi saat ini. Warga asli Kampung Kranggan diyakini merupakan sebagian penduduk asli Jakarta yang leluhur mereka tersingkir ke pedalaman akibat penyerbuan Fatahillah ke gerbang utama Jayakarta, Pelabuhan Kalapa.
"Bagi kami, orang Betawi, tentu sangat berkepentingan untuk mengetahui sejarah. Betawi kini mengalami krisis identitas," ungkap Ridwan dalam perbincangannya dengan Kompas.
"Tradisi yang dipertahankan masyarakat Kranggan menunjukkan bahwa budaya Betawi sangat plural. Karena itu, orang Betawi di Kota Jakarta sekarang ini seharusnya menghormati pluralisme," ujarnya.
Teropong - KOMPAS

Falsafah Blangkon yang sesungguhnya.

Melihat foto profil saya di Facebook yang memajang gambar anak memakai blangkon, teman saya nyeletuk, "walau anakmu pakai blangkon yang penting tidak meniru falsafah blangkon". 

Sedikit bingung saya lalu tanya tentang falsafah blangkon menurut sobat saya itu. Dan dia menjawab ."Dari depan blangkon terlihat rapi tetapi di belakang ada mbendholnya (mondholan), persis dengan sikap beberapa orang Jawa yang pandai menyimpan maksud sebenarnya dari sebuah sikap yang menipu".

Saya tersenyum kecut mendengar jawaban itu. Memang banyak orang yang sudah menyampaikan falsafah blangkon, orang luar jogja, maupun orang jogja sendiri yang latah asal ngikut dengan filosofi keblinger itu. Kalau saya pribadi urusan jahat yang disimpan di hati dan hanya menampakkan hal baik di depan untuk menutupi akal bulusnya bukan hanya orang jawa saja. Ahhh... malah ethnosentris banget, bukan bermaksud membela budaya jawa loh..

Saya jadi ingat dengan tetangga saya, tukang sepatu yang dipanggil Pak Mondol, karena tiap hari selalu memakai iket blangkon. Dulu sebelum dia pergi dari kampung, beliau sempat bertutur tentang falsafah blangkon yang sesungguhnya. Falasafah blangkon ternyata jauh bertolak belakang dari yang diketahui kebanyakan orang, luar biasa!

Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas. 

Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Ada 2 jenis blangkon yaitu gaya Surakarta (Sala) dan gaya Yogyakarta. Blangkon gaya Surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya Yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.

Bagi orang jawa rambut, wajah ataupun kepala adalah mahkota. Dari sudut kepala segala model perwatakan dan gejala emosi dapat terbaca. Orang jaman dahulu biasa memanjangkan rambutnya. Meskipun memanjangkan rambut bukan berarti mereka akan membiarkan rambutnya tergerai urakan seperti dalam film-film. Rambut biasanya akan digelung/diikat dengan ikatan kain diatas kepala atau disisi belakang kepala. Ini bermakna bahwa orang tersebut mampu menata rambutnya dan tidak membiarkan tergerai awut-awutan adalah manusia yang mampu menata kepribadiannya. Mampu mengendalikan diri dengan mengikatnya erat-erat di belakang kepala.


Orang jawa jaman dahulu hanya akan membiarkan rambutnya tergerai hanya saat sedang di rumah dan saat akan berperang! Ya, saat sedang berada dalam sebuah kancah konflik yang berarti sengaja membiarkan seluruh emosinya keluar apa adanya. Dan perlu diketahui sebelum memasuki masa berkonflik mereka sudah melalui berbagai tahap pengendalian diri hingga konflik adalah jalan terakhir. Dan terpaksa rambut yang telah digelung rapi & diikat dengan iket blangkon harus terurai, mbendolnya hilang dong...

Jadi blangkon adalah sebuah wujud pengendalian diri dengan menampakkan bagian depan blangkon yang diikat rapi (diwiru dengan halus) lalu menahan gejolak emosi, dalam hal ini rambut sebagai lambang gejolak emosi, dengan mengikatnya di belakang kepala hingga berbentuk benjolan tadi. Meski hati panas tapi kepala harus dingin. Maka bila emosi sudah tak tertahankan dan meledak maka lelaki jawa harus mengurai mondolan di blangkonnya, membiarkan rambut panjangnya tergerai.

Hal inilah yang sering disalah pahami sebagai halus di depan tapi dongkol dibelakang untuk menyembunyikan niat busuknya. Sebagai orang jawa tulen sudah semestinya saya meluruskan kesalah pahaman itu. Sekali lagi etnis manapun berpotensi seperti itu. Falsafah blangkon di jaman sekarang tidak jauh berbeda dengan EQ Kecerdasan Emosi. Bila anda adalah orang jawa tapi tidak mampu mengendalikan emosi, nafsu, syahwat maka anda tidak berhak mengenakan iket blangkon di kepala...memalukan!
"NGLURUG TANPA BOLO, MENANG TANPO NGASORAKE"


Follow us on Facebook

Translate