Mengenal Lapisan Badan Astral Pada Manusia

Mengenal Lapisan Badan Astral sebagai wahana mempersiapkan KEMATIAN

Di dalam ajaran Hindu Dharma disebutkan bahwa eksistensi atau keberadaan kita sebagai manusia sesungguhnya ada dalam berbagai lapisan badan, yang merupakan wahana bagi atma di dalam mengarungi siklus samsara.

Brahmande api asti yat kincit tat pinde asti sarvatho, apa yang ada di dalam semesta [bhuwana agung] juga ada dalam diri kita [bhuwana alit]. Bisa dipahami bahwa sesungguhnya diri kita sebagai manusia ini sangat kompleks, tidak sesederhana apa yang hanya bisa dilihat oleh mata biasa. Karena avidya [kebodohan] seringkali kita mengidentikkan diri kita sebagai “aku” atau seorang manusia.

Mengidentikkan diri kita sebagai sebagai pikiran dan perasaan. Serta mengidentikkan diri sebagai sebagai badan fisik ini. Padahal sesungguhnya tidak sesempit dan sedangkal itu. Keseluruhan alam semesta ini adalah Purusha dan Prakriti. Dalam konteks manusia [bhuwana alit], Prakriti adalah lapisan-lapisan badan yang membungkus kesadaran murni [Purusha atau Atman]. Dimana perpaduan keduanya membentuk dua jenis wahana atau badan, yaitu badan fisik dan badan pikiran.

Badan fisik mudah kita ketahui. Tapi badan-badan pikiran kita berada pada alam yang lebih halus, tidak bisa kita lihat dan rasakan dengan indriya badan fisik kita, sehingga kita tidak memperhatikannya. Sebagaimana termuat dalam Taittriya Upanishad dan buku-buku suci Hindu
lainnya, atman [kesadaran murni] dibungkus oleh lima lapisan badan yang terbentuk dari lima jenis energi-materi dan energi-kesadaran, yang disebut dengan Panca Maya Kosha. Lima lapisan badan ini sebagai wahana atma dalam siklus samsara, yaitu :

1. Annamaya Kosha – lapisan badan yang tersusun dari energi sari-sari makanan.
2. Pranamaya Kosha – lapisan badan yang tersusun dari energi prana, yaitu samudera besar energi pembentuk kehidupan yang ada di semua penjuru alam semesta.
3. Manomaya Kosha – lapisan badan yang tersusun dari energi pikiran biasa.
4. Vijnanamaya Kosha – lapisan badan yang tersusun dari energi pikiran yang halus dan sadar.
5. Anandamaya Kosha – lapisan badan yang tersusun dari energi alam semesta yang transenden.

Ini berarti dilihat dari energi pembentuknya, manusia terdiri dari lima lapisan badan disertai beberapa sub-lapisan badan yang membungkus atman [kesadaran murni]. Lapisan-lapisan badan kita ini secara fisikal tidak merupakan satu kesatuan, tapi saling terkunci dan terkait kuat dalam lapisan-lapisannya. Yang kalau dicarikan analoginya persis seperti lapisan-lapisan bawang. Masing-masing bekerja dan berfungsi secara bersama-sama dalam kesadaran kita sehari-hari. Lapisan-lapisan badan ini disebut kosha dan sarira. Kosha dalam bahasa sansekerta berarti "lapisan". Sarira dalam bahasa sansekerta berarti "sesuatu yang gampang terurai” atau “sesuatu yang mudah lenyap” atau “sesuatu yang sifatnya sementara atau tidak abadi"

                    687474703a2f2f34312e6d656469612e74756d626c722e636f6d2f63363161373434353237303738326162343836356437386264643564343265632f74756d626c725f6d6d7038316833367075317263663130636f315f3530302e6a7067 (500×561)
1. ANNAMAYA KOSHA

Annamaya kosha adalah lapisan badan yang terbentuk dari energi sari-sari makanan. Terdiri dari dua sub-lapisan, yaitu sthula sarira dan linga sarira.

- Sthula Sarira

Sthula sarira adalah badan fisik kita sebagaimana yang bisa kita lihat secara paling nyata saat ini. Wujud dari sthula sarira adalah tubuh kita yang telanjang bulat. Bagi kebanyakan manusia umumnya lapisan badan ini adalah satu-satunya badan yang dia kenali dalam kelahiran sebagai manusia di alam marcapada. Sehingga umumnya sangat melekat dengan badan fisik ini, seperti badan fisik ini dapat menyebabkan rasa minder, rasa tidak percaya diri, rasa sombong, rasa sedih, rasa malu, dsb-nya. Tidak sadar bahwa ada banyak lapisan-lapisan badan lainnya. Tidak sadar bahwa badan fisik ini sangat sementara dan sangat tidak kekal.

Dalam siklus samsara, dalam kelahiran-kelahiran sebelumnya kita sebenarnya sudah pernah menggunakan jutaan sthula sarira atau badan fisik yang berbeda-beda. Sifat badan ini adalah yang paling sangat tidak kekal dan penuh kepalsuan. Lapisan badan ini akan mengalami pralina [badan fisik ini otomatis terurai] dengan sendirinya ketika saat kematian tiba Karena itu banyak satguru yang memberi nasehat, sadari kalau diri kita yang sejati bukanlah badan fisik ini. Karena badan fisik kita ini sangat sementara dan sangat tidak kekal.

- Linga Sarira

Linga Sarira adalah lapisan badan fisik kita yang lebih halus. Bentuknya identik dengan badan fisik kita yang kasat mata. Hanya saja badan fisik yang lebih halus ini bagi kebanyakan manusia tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Linga sarira adalah badan fisik halus yang digunakan untuk bergentayangan sebagai “hantu” di alam halus dari alam marcapada [mrtya loka] disaat kematian terjadi. Kalau ada diantara kita ada yang mata bathinnya terbuka akan bisa linga sarira ini sebagai "hantu" dari orang yang sudah meninggal.

Sebenarnya yang dilihat adalah linga sarira dari orang yang sudah meninggal tersebut. Linga sarira ini biasanya diselimuti warna agak keungu-unguan. Umumnya linga sarira akan perlahan-lahan terurai secara bersamaan dengan terurainya sthula sarira [badan fisik] kita. Akan tetapi hal itu hanya secara umum saja, karena tidak mutlak terjadi seperti itu. Terdapat berbagai kemungkinan lain tentang pralina dari linga sarira atau “hantu” ini, seperti misalnya :

1. Bagi mereka yang sudah maju secara spiritual [bathinnya bersih, tenangseimbang dan menyambut kematian dengan damai sempurna], tidak melekat dengan keduniawian, sehingga berhasil masuk alam-alam suci saat kematian tiba, maka linga sarira-nya akan langsung mengalami pralina tanpa perlu menunggu sthula sarira [badan fisik]-nya terurai.
2. Sebaliknya bagi mereka yang lumpur kekotoran bathinnya banyak, keterikatan duniawi-nya begitu kuat [sehingga dia belum rela meninggalkan dunia ini], sehingga demikian melekat dengan badan fisik atau kehidupan duniawi, linga sarira-nya bisa lama bergentayangan sebagai “hantu” walaupun sthula sarira [badan fisik]-nya sudah habis terurai.
3. Kemudahan bagi orang yang meninggal karena di-kremasi (pembakaran mayat) dan di-upacarai dengan baik.
Inilah salah satunya alasan mengapa umat Hindu Bali mengajarkan kami melakukan kremasi atau ngaben (pembakaran mayat) saat ada yang meninggal. Dengan peleburan (pembakaran) sthula sarira atau badan fisiknya, akan menyebabkan secepatnya terurai kembali menjadi panca maha bhuta (lima unsur alam semesta; api, air, udara, tanah, dan akasa/ruang) yang membentuknya. Disertai dengan upacara yang baik, akan membuat diikuti dengan terurainya linga sarira. Sehingga seorang tidak akan perlu lama-lama bergentayangan menjadi "hantu" dengan linga sarira.

2. PRANAMAYA KOSHA

Alam semesta ini diselimuti oleh samudera besar energi pemberi kehidupan yang disebut energi prana. Pranamaya kosha adalah lapisan badan yang terbentuk dari energi prana, yaitu energi yang memberikan gerak kehidupan kepada badan fisik kita. Setiap organisme, mulai yang terkecil [mikroba] s/d yang terbesar, saat punarbhawa [kelahiran kembali], menarik ke dalam dirinya sendiri energi prana dari samudera energi prana alam semesta ini. Kekuatan kehidupan [prana] yang terdapat di dalam diri kita sebagai lapisan badan inilah yang disebut dengan pranamaya kosha.

Wujud dari pranamaya kosha adalah kemilau warna keemasan. Saat kematian datang, lapisan badan ini dengan sendirinya akan keluar dari badan dan kembali kepada samudera energi prana alam semesta. Di dalam lapisan badan pranamaya kosha kita [tidak bisa kita lihat dengan mata biasa] terdapat jutaan dan jutaan noktah-noktah kecil [laksana debu] energi prana atau energi kehidupan yang berputar dan berpusat pada apa yang disebut sebagai chakra. Chakra dalam bahasa sansekerta berarti roda berputar, karena energi ini berputar dan bentuknya cenderung bulat seperti roda. Melalui jejaring saluran-saluran energi prana yang disebut nadi, setiap chakra ini terhubung satu sama lain dan mempengaruhi seluruh lapisan-lapisan tubuh kita. Terkait jejaring energi prana dalam pranamaya kosha, terdapat hal-hal mendasar yang perlu dijelaskan terlebih dahulu, yaitu :

1. Nadi adalah jejaring saluran-saluran energi prana. Jumlahnya ada 72.000 nadi. Seluruh nadi bermula dari kanda, daerah diatas chakra muladhara. Diantaranya terdapat 14 nadi yang penting, tapi yang terpenting ada 3 yaitu Ida, Pingala dan Sushumna. Ida adalah saluran kiri, energi feminim yang
dingin. Pingala adalah saluran kanan, saluran maskulin yang panas. Sushumna adalah saluran tengah.

2. Chakra adalah titik pusat-pusat energi prana yang berada sepanjang shusumna [letaknya pada poros tulang belakang]. Dalam lapisan tubuh prana kita terdapat ribuan chakra mikro, 114 chakra kecil dan 7 chakra utama. Ke-tujuh chakra utama ini masing-masing terkait erat dengan pikiran, emosi, kesehatan dan dinamika perilaku kita dalam kehidupan kita sehari-hari.

3. Granthi adalah tiga simpul energi penghalang yang terletak di sepanjang sushumna, yaitu : Brahma Granthi, Vishnu Granthi dan Rudra Granthi.

4. Kundalini adalah api energi berupa gulungan yang terletak pada chakra muladhara [chakra dasar], pada titik antara kemaluan dan anus.
Tujuh chakra utama

Ada ribuan chakra di dalam lapisan badan pranamaya kosha kita, akan tetapi yang disebut sebagai chakra utama jumlahnya ada tujuh. Masing-masing chakra ini berbentuk seperti bunga teratai dengan warna-warni yang berbeda, dan masing-masing mempunyai fungsi dan efek masing-masing. Ketujuh chakra tersebut adalah :

1. Chakra muladhara [chakra dasar].

Terletak pada titik antara kemaluan dan anus. Warnanya merah. Bentuknya seperti bunga teratai dengan empat daun bunga. Chakra muladhara merupakan pusat energi yang terkait erat dengan semangat untuk bertahan hidup [survival]. Bila chakra muladhara dalam kondisi selaras, bersih, mekar dan berputar dengan baik, maka seseorang cenderung akan penuh gairah hidup dan mengerjakan segala sesuatu [terutama kerja fisik] dengan penuh semangat dan motivasi. Sebaliknya bila chakra muladhara dalam kondisi kacau, energi-nya tersumbat, kecil [tidak mekar] dan berputar dengan lambat, maka seseorang cenderung akan hidup dengan malas, tanpa semangat dan mudah putus asa. Efek paling buruk dari dinamika chakra ini yang tidak berjalan dengan baik adalah punya kecenderungan bunuh diri.

2. Chakra svadishthana [chakra seks].

Terletak pada titik tepat diatas kemaluan. Warnanya oranye. Bentuknya seperti bunga teratai dengan enam daun bunga. Chakra svadishthana merupakan pusat energi yang terkait erat dengan kreatifitas penciptaan, reproduksi dan aktifitas seksual. Bila chakra svadishthana dalam kondisi selaras, bersih, mekar dan berputar dengan baik, maka seseorang cenderung akan penuh kreatifitas dan ide, mudah berpikir positif, percaya diri serta nafsu seks-nya sangat terkendali. Sebaliknya bila chakra svadishthana dalam kondisi kacau, energi-nya tersumbat, kecil [tidak mekar] dan berputar dengan lambat, maka seseorang akan cenderung kurang kreatif, tidak pedulian, kasar, mudah berpikir negatif, kurang percaya diri dan sulit mengendalikan nafsu seks.

3. Chakra manipura [chakra pusar].

Terletak pada pusar. Warnanya kuning. Bentuknya seperti bunga teratai dengan sepuluh daun bunga.
Chakra manipura merupakan pusat energi yang terkait erat dengan beberapa bentuk emosi dan perasaan. Chakra manipura yang dalam kondisi kacau, energi-nya tersumbat, kecil [tidak mekar] dan berputar dengan lambat, ditandai dengan munculnya salah satu atau beberapa bentuk emosi dan perasaan berikut ini, yaitu : iri hati, marah, benci, tidak puas, kemurungan [sedih, muram], rasa takut dan rasa malu. Seseorang yang memiliki chakra manipura yang terus stabil dalam kondisi selaras, bersih, mekar dan berputar dengan baik, maka dia dengan mudah dapat mengatasi setiap munculnya salah satu atau beberapa bentuk emosi dan perasaan tersebut. Tetap merasa riang, tenang, puas, nyaman dan percaya diri.

4. Chakra anahata [chakra jantung].

Terletak pada titik di tengah dada. Warnanya hijau. Bentuknya seperti bunga teratai dengan duabelas daun bunga. Chakra anahata merupakan pusat energi yang terkait erat dengan seluruh perasaan halus [rasa simpati, rasa cinta dan welas asih]. Perhatikan misalnya ketika kita sedang jatuh cinta atau merasa simpati [kasihan] kepada seseorang, pastilah ada terasa di dada sebagai ciri dari dinamika chakra ini. Bila cakra anahata dalam kondisi selaras, bersih, mekar dan berputar dengan baik, maka seseorang cenderung akan punya sifat penuh welas asih, kebaikan tanpa syarat, mudah simpati dan berempati. Sebaliknya bila chakra anahata dalam kondisi kacau, energi-nya tersumbat, kecil [tidak mekar] dan berputar dengan lambat, maka seseorang akan cenderung punya sifat mementingkan diri sendiri [egois], sombong, fanatik, serakah, munafik dan sering resah-gelisah.

5. Chakra visuddha [chakra tenggorokan].

Terletak pada titik tengah di bawah leher. Warnanya biru. Bentuknya seperti bunga teratai dengan enam belas daun bunga. Chakra visuddha merupakan pusat energi yang terkait erat dengan pemahaman mengenai keterkaitan antar-hubungan satu hal dengan hal lainnya, hubungan antar manusia dan komunikasi. Bila chakra visuddha dalam kondisi selaras, bersih, mekar dan berputar dengan baik, maka seseorang akan memiliki pengertian yang mendalam mengenai keterkaitan hubungan berbagai hal, hubungan antar sesama manusia dan kemampuan untuk berekspresi secara lisan [mengekspresikan seluruh isi hati dan pikiran dengan baik]. Ini dapat berakibat kepada keberhasilan hidup, kesejahteraan, banyak teman [disukai orang] dan pengembangan pengetahuan duniawi.

6. Chakra ajna [chakra mata ketiga].

Terletak pada titik di tengah dahi, sedikit diatas diantara titik tengah kedua alis. Warnanya ungu. Bentuknya seperti bunga teratai dengan dua daun bunga. Chakra ajna merupakan pusat energi yang terkait erat dengan limpahan pengetahuan duniawi dan pengetahuan spiritual. Bila chakra ajna dalam kondisi selaras, bersih, mekar dan berputar dengan baik, maka seseorang cenderung akan memiliki kecerdasan spiritual, intuisi benar yang kuat [anthra guru, berkomunikasi dengan kesadaran diri kita yang lebih tinggi], memberikan  kewaskitaan penglihatan [trineta atau mata ketiga, mata bathin] serta kekuatan-kekuatan supranatural lainnya.

7. Chakra sahasrara [chakra mahkota].

Terletak pada titik di tengah ubun-ubun. Warnanya lembayung senja. Bentuknya seperti bunga teratai dengan seribu daun bunga. Chakra sahasrara merupakan pusat energi yang terkait erat dengan rahasia alam semesta dan kesadaran kosmik. Bila chakra sahasrara seseorang mekar sempurna, maka dia akan mengalami kesadaran sempurna dan mengetahui banyak rahasia alam semesta. Dia juga dapat melakukan perjalanan astral dengan sangat mudah.

3. MANOMAYA KOSHA

Manomaya kosha adalah lapisan badan yang terbentuk dari energi pikiran biasa. Terdiri dari dua sub-lapisan, yaitu sukshma sarira dan karana sarira.

- Sukshma Sarira

Sukshma sarira wujud dasarnya mirip dengan kabut atau awan tanpa bentuk, dengan warna yang selalu berubah-ubah sesuai dengan kondisi pikiran kita sendiri. Orang yang biasa mengikuti hawa nafsu keinginan dan indriya, serta emosi negatif [marah, benci, iri hati, dll], sukshma sarira-nya cenderung kasar, tebal dan wujudnya tidak sempurna. Sebaiknya orang yang telah maju di dalam spiritualitas, bathinnya bersih, wujud sukshma sarira-nya lembut, cerah dan berpendar. Kalau ada diantara kita ada yang mata bathinnya terbuka untuk bisa melihat dimensi yang lebih halus, akan bisa melihat sukshma sarira ini sebagai apa yang sering disebut sebagai “aura” [walaupun sebenarnya yang dilihat adalah bagian dari wujud sukshma sarira].

Dalam literatur spiritual timur di dunia barat, sukshma sarira juga sering disebut sebagai “astral body” [badan astral], dimana hal ini cukup tepat, karena bagi seorang yogi yang siddhi, sukshma sarira-nya [astral body] bisa dia gunakan untuk bepergian ke segala tempat yang sangat jauh di berbagai dimensi alam [loka] dengan sadar, dengan wujudnya bisa diatur seperti badan fisiknya sendiri.

Karena aspek “astral body” [badan astral] itu juga oleh sebagian orang sukshma sarira juga sering dianggap sebagai sebagai “soul” [jiwa, roh]. Hal ini tentu sebenarnya tidak tepat, karena atma adalah kesadaran murni yang absolut yang dilapisi oleh berbagai lapisan-lapisan badan. Dan sukshma sarira hanya salah satu lapisan badan saja.

Aspek lain dari sukshma sarira adalah lapisan badan ini memiliki sifat interaktif dengan energi-energi yang datang dari luar. Sukshma sarira bila bersinggungan dengan energi-energi yang tidak baik dari lingkungan sekitar dapat menyebabkan kita berpikir tidak jernih, mudah marah, buntu, nafsu tidak terkendali, cepat lelah atau bahkan kesurupan. Tapi juga berlaku sebaliknya, sukshma sarira dapat menarik energi-energi alam semesta yang baik yang bersifat menyucikan diri. Misalnya dengan kita mempraktekkan metode-metode yoga tertentu, dengan melukat atau ruwatan [media air] di mata air suci [beji atau pathirtan] yang memiliki vibrasi sangat baik, dengan menyatukan diri dengan alam, dsb-nya. Dengan cara demikian pikiran kita dapat dijernihkan dan dimurnikan.

Ketika bathin mulai bersih dan mulai menjauh dari sad ripu [enam kegelapan bathin], wujud sukshma sarira akan semakin lembut, semakin cerah dan semakin berpendar. Ketika sad ripu sudah banyak terkikis dari bathin kita lapisan badan ini akan sangat cerah.

- Karana Sarira

Karana sarira berbeda tapi sekaligus sama menjadi satu dengan sukshma sarira. Wujudnya bundar oval yang membungkus badan kita. Orang yang biasa mengikuti hawa nafsu keinginan dan indriya, serta emosi negatif [marah, benci, iri hati, dll], karana sarira-nya cenderung rusak dan sulit dikenali. Bentuknya samarsamar dan tidak sempurna, perlu konsentrasi khusus agar seorang siddha bisa melihat keseluruhan wujudnya. Sebaiknya orang yang telah maju di dalam spiritualitas, bathinnya bersih, karana sarira-nya tampak jelas dan pasti, dikelilingi warna cerah [cenderung putih terang, tapi tidak menyilaukan mata] yang indah dan penuh daya.

Aspek lain dari karana sarira adalah lapisan badan ini merupakan "gudang" tempat penyimpanan rekaman dan ingatan atau memory seluruh kehidupankehidupan kita dan karma-karma kita. Ketika bathin mulai bersih, terkendali dengan baik dan makin dekat dengan welas asih dan kebaikan yang tidak terbatas, wujud karana sarira akan semakin cerah dan sempurna. Ketika sifat-sifat mulia tersebut telah mekar berkembang maka lapisan badan ini akan sangat cerah.

4. VIJNANAMAYA KOSHA

Vijnanamaya Kosha adalah lapisan badan yang terbentuk dari energi pikiran yang halus dan sadar. Wujudnya berupa cahaya murni yang sangat luas, terang benderang dan maha-damai. Dalam lapisan badan ini mengalir pengetahuan tentang realitas keberadaan, kebijaksanaan sejati dan pengetahuan universal. Di lapisan badan ini tidak lagi ada pembatasan. Kita dapat merasakan secara luas dan mutlak kesadaran mahluk lain juga tercakup di dalam kesadaran kita sendiri. Sebab realitas-nya mahluk lain juga bagian dari diri kita [sarvam khalvidam brahman].

Sebagai manusia kalau bathin kita bersih, kita dapat terserap ke dalam kesadaran yang lebih luas di dalam diri kita sendiri, yaitu kesadaran lapisan badan vijnanamaya kosha ini, maka kita akan dapat berjumpa dengan apa yang disebut sebagai anthra guru [guru yang ada di dalam diri kita sendiri]. Anthra guru adalah “suara” dari dalam diri kita sendiri yang terkait dengan lapisan badan pikiran vijnanamaya kosha. Pada badan citta kosmik kita ini terdapat kesadaran dengan limpahan pengetahuan dinamika kehidupan, pengetahuan duniawi dan pengetahuan spiritual. Bila kesadaran kita berada pada vijnanamaya kosha, maka kita cenderung akan memiliki kecerdasan spiritual, intuisi dan firasat yang kuat, serta dapat mendengar suara “di dalam”.

Bagi yang tidak memahami adanya Panca Maya Kosha, ada yang menganggap kesadaran lapisan badan vijnanamaya kosha ini sebagai intuisi, kata hati atau suara hati. Dan memang demikian adanya. Lapisan badan vijnanamaya kosha ini adalah sumber dari intuisi, kata hati atau suara hati. Tapi juga perlu bersikap sangat berhati-hati menyangkut intuisi, kata hati atau suara hati ini. Karena intuisi, kata hati atau suara hati tidak selalu benar. Ini ada sebabnya. 

Analogi-nya seperti kolam, kalau airnya keruh, isi kolam tidak akan dapat terlihat dengan baik. Artinya kalau dalam keadaan bathin yang masih keruh mau mencoba mendengarkan intuisi, kata hati atau suara hati, kemungkinan salahnya tinggi. Sehingga bagi orang yang kolamnya bathinnya masih keruh, tidak disarankan untuk mendengarkan semua intuisi, kata hati atau suara hati, karena kolam bathin yang keruh itu menjadi penghalang yang menyebabkan terjadinya kekaburan di dalam mengakses vijnanamaya kosha atau anthra guru. Pada dasarnya semua mahluk dalam tingkat kesadaran manapun memiliki intuisi, kata hati atau suara hati, tapi ini tidak selalu benar tergantung dari kejernihan kolam bathinnya sendiri.

Kalau bathin kita bersih, barulah kita dapat terserap ke dalam kesadaran luas di dalam diri kita sendiri, yaitu kesadaran lapisan badan vijnanamaya kosha. Seperti para yogi yang bathinnya sudah sangat bersih, air kolam yang keruh itu sudah lama beliau endapkan kotorannya, sehingga airnya bersih dan jernih. Kalau bathin sudah sejernih itu, intuisi, kata hati atau suara hati, atau tepatnya disebut anthra guru, akses kepada kesadaran lapisan badan vijnanamaya kosha, baru bisa bersih sekali dan akurat. Dalam Atharva Veda, kejernihan intuisi terkait kemampuan akses yang sempurna pada kesadaran lapisan badan vijnanamaya kosha ini disebut rtam bhara prajna [Atharva Veda XX.115.1].

5. ANANDAMAYA KOSHA

Anandamaya Kosha adalah lapisan badan yang terbentuk dari energi alam semesta yang transenden. Tidak termanifestasi atau tidak berwujud, tapi ada. Kesadaran kosmik yang murni, abadi dan konstan laksana meditasi terusmenerus, serta luas tidak terbatas melingkupi seluruh penjuru ruang alam semesta dan para mahluk. Kesadaran seperti ini disebut juga chittakash. Tapi perlu diperhatikan bahwa anandamaya kosha ini tetaplah juga sebagai lapisan badan yang membungkus Atman [kesadaran murni]. Ketika lapisan badan ini pralina atau terurai [meninggal], maka disanalah Atman akan mengalami Moksha, atau penyatuan kosmik dengan keseluruhan keberadaan.

Samsara Perjalanan Sang Jiwatman

Samsara Perjalanan Sang Jiwatman

Walaupun kehidupan ini terlihat sangat singkat dan seolah-olah hanya sekali saja, tapi sesungguhnya semua mahluk sudah mengalami jutaan kali pengalaman lahir-hidup-mati lahir-hidup-mati dalam siklus samsara [kelahiran kembali yang berulang-ulang].

Sejak jaman yang sangat kuno sampai jaman sekarang ini, para orang-orang suci dengan kekuatan mata bathin beliau telah dapat mengetahui adanya fenomena samsara. Di dalam kitab suci Veda sendiri terdapat puluhan sloka yang membahas tentang samsara, seperti misalnya :

Jivo mrtasya carati svadhabhih
A varivarti bhuvanesu-antah
[Atharva Veda IX.10.8]
Artinya :
Jiwa sebuah tubuh yang mati, mengambil bentuk yang lain [terlahir kembali] menurut perbuatannya di masa lampaunya [akumulasi karmanya sendiri]. Mengambil bentuk-bentuk [kelahiran] yang berbeda-beda, terus mengembara di alam semesta.

Ada berbagai sebab mengapa kita terus-menerus mengalami lahir-hidupmati dalam siklus siklus samsara, tapi sebab yang paling penting dan utama adalah manas [pikiran] dan ahamkara [ke-aku-an atau ego]. Pikiran yang terbenam dalam avidya [salah, bodoh, tidak tahu] serta ahamkara [ke-aku-an, ego] adalah yang menyebabkan kita terus menerus mengalami siklus samsara atau siklus lahir-hidup-mati yang terus berulang-ulang.

Tidak hanya sebatas itu, pikiran yang salah serta ke-aku-an juga adalah juga yang menyebabkan dimana-mana terjadi persaingan, perebutan, perdebatan, pertengkaran, perceraian, kebencian, konflik, kejahatan, perkelahian bahkan peperangan. Dimana kita saling menyakiti satu sama lain. Padahal sesungguhnya kehidupan sebagai manusia dalam siklus siklus samsara, bisa diibaratkan seperti meniti “titi ugal-agil” [jembatan berupa sebatang kayu kecil yang amat goyah], yang dibawahnya ada jurang yang sangat dalam. Hanya persoalan waktu kita jatuh ke dalam jurang.

Artinya kalau kita salah melangkah, dalam perjalanan kehidupan berikutnya kita bisa terjerumus ke dalam kelahiran sebagai sebagai manusia yang hidupnya penuh kesengsaraan, sebagai mahluk-mahluk alam bawah, atau bahkan sebagai binatang.

Apan pran eti svadhaya grbhito
Amartyo martyena sayonih
[Rig Veda I.164.38]

Artinya :
Jiwa yang memiliki tubuh yang sementara, mengambil bentuk eksistensi lain mahluk seperti ini atau seperti itu [terlahir kembali] menurut perbuatannya [sesuai dengan karmanya] sendiri.

Dengan kata lain, dalam kelahiran sebagai manusia ini sangat-sangat mendesak bagi kita sebagai manusia untuk segera sadar karena kita semua sedang meniti titi ugal-agil. Kita tidak puas dengan gaji kemudian kita korupsi, itu jatuh ke dalam jurang. Kita tidak puas dengan pasangan hidup kemudian selingkuh, itu jatuh ke dalam jurang. Dsb-nya. Kita akan menyakiti dan melukai diri kita sendiri maupun orang lain. Pada akhirnya kelak diri kita sendiri juga yang akan terjerumus ke dalam jurang kegelapan dan kesengsaraan.

Sehingga dalam hidup ini kita tidak punya pilihan lain selain berjalan di jalan dharma. Karena hanya dengan begitu kita bisa memperoleh keselamatan, kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup. Terlebih lagi kalau kita bisa terbebas dari avidya [kebodohan], mengetahui realitas diri yang sejati [atma jnana] dan mengalami pembebasan sempurna [moksha].
Ulasan selanjutnya membahas tentang KEMATIAN, ingin lihat kelannjutannya ? Bisa klik MENGENAL KEMATIAN
reinkanasi.jpg (566×781)


 Sumber: Buku Samsara, Perjalanan Sang Atma, Karya I Nyoman Kurniawan

Mengenal Kematian

KEMATIAN

Umumnya kalau berbicara kematian, biasanya reaksi yang muncul macam macam, tapi yang paling sering adalah reaksi takut, ngeri atau tidak rela. Padahal kematian itu sesuatu yang pasti. Siapapun kita, selebritis atau petani miskin, presiden atau pegawai rendahan, konglomerat atau pengemis, orang suci atau penjahat, dsb-nya, kita semua pasti akan mati. Jangankan orang biasa seperti kita, para yogi, mpu, danghyang, maha-siddha, jivan-mukta atau maharsi-pun hampir tidak ada yang bisa menghentikan berakhirnya kehidupan. Dan sesungguhnya semua mahluk sudah mengalami jutaan kali pengalaman lahir-hidup-mati lahirhidup-mati dalam siklus samsara [kelahiran kembali yang berulang-ulang].

Semua perjalanan kehidupan pasti menuju akhir kepada kematian. Ada yang mempercepatnya ke dalam ke sia-siaan hidup [hidup dengan melakukan banyak pelanggaran dharma yang berbahaya], ada yang menikmati keduniawian perjalanan kehidupan walau hanya sesaat [hanya sebatas saat badan fisik ada] dan ada yang bertindak benar dengan berjuang dalam perjalanan kehidupan untuk memenangkan kesadaran yang sempurna. Dalam buku-buku suci Hindu Dharma disebutkan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini tidak akan dapat lepas dari hukum mutlak alam semesta, yaitu utpetti [tercipta, terbentuk atau terlahirkan], stithi [keberadaan] dan pralina [penghancuran atau berakhirnya keberadaan]. Sehingga ada empat kemutlakan akhir, yaitu :

1. Semua kehidupan akan berakhir pada kematian.
2. Semua pertemuan akan berakhir pada perpisahan.
3. Semua pengumpulan akan berakhir pada pembubaran.
4. Segala yang ada tercipta akan berakhir pada penghancuran.

Siapa saja yang ada di sekeliling kita [termasuk orang tua, saudara, anak, istri atau suami], apa saja yang kita miliki semasih hidup [termasuk kekayaan yang sangat banyak], kita pasti akan berpisah dengannya. Dan dari semua hal yang kita miliki semasih hidup, umumnya kita paling melekat kepada badan fisik dan pikiran-perasaan kita, sehingga yang paling sangat sulit untuk kita relakan untuk berpisah adalah kehidupan kita sendiri.

Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati. Bisa 7 jam lagi, 7 hari lagi, 7 bulan lagi, 7 tahun lagi, 70 tahun lagi ? Kita tidak tahu. Walaupun demikian, kematian jangan dilihat sebagai ancaman menakutkan, tapi sebagai kesempatan yang sangat baik untuk memasuki wilayah kehidupan baru yang terang dan indah. Kematian datang bukan karena sakit, kematian datang bukan karena kesengajaan [dibunuh] orang lain, kematian datang bukan karena kecelakaan, dsb-nya, tapi kematian datang semata-mata hanya karena waktunya sudah tiba.



Karena kematian tidak bisa dihentikan oleh apapun, daripada bersedih, sengsara atau ketakutan memikirkan perpisahan [yang pasti akan terjadi] tersebut, alangkah baiknya kalau kita mencari perlindungan. Dan perlindungan terbaik adalah ajaran suci dharma. Kita hanya punya satu pilihan : mempersiapkan kematian sejak jauh-jauh hari. Sebelum kita “pergi pulang ke tanah wayah” secara kacau, lebih baik kita siapkan sejak sekarang. Anda dan saya sangat beruntung, karena sebelum “pergi pulang ke tanah wayah”, sudah dapat ilmunya, sudah dapat rahasianya. Dalam artikel selanjutnya, dijelaskanlah bahwa manusia memiliki badan astral sebagai wadah jiwatman untuk memasuki alam baru yaitu alam kematian, untuk lebih jelasnya bisa klik Mengenal Lapisan Badan Astral Pada Manusia
1425025510343130793

 Sumber: Buku Samsara, Perjalanan Sang Atma, Karya I Nyoman Kurniawan

Beberapa Hal Yang Mungkin Anda Belum Tahu (Atau Lupa) Tentang Karma. [Bagian 1]

Tentang Karma
Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma. [Bagian 1]



Dalam ajaran Hindu dan Budha kita sering mendengar istilah Karma Phala atau hukum sebab akibat. Hukum ini adalah salah satu dari banyak hukum alam yang mengatur dunia ini. Sekilas hukum Karma ini hanya dipahami oleh Agama Hindu dan Budha, namun hukum ini sebenarnya diajarkan di semua kepercayaan dengan pembahasan dan bahasa yang berbeda. Saudara kita yang beragama lain mengenal konsep Dosa dan Pahala, suatu konsep bahwa apa yang dilakukan seseorang akan dicatat, dan dikembalikan kepada orang yang melakukan dengan ukuran yang tepat dan pasti. Terdengar familiar bukan? Tentu saja itu terdengar sangat familiar, hanya menggunakan bahasa yang berbeda. Namun bahkan tidak semua orang Hindu dan Budha mengerti dan memahami apa itu Karma dan bagaimana Karma bekerja.

Karma adalah salah satu hal yang menarik untuk dibahas karena dengan memahami karma phala atau hukum sebab akibat kita akan lebih mudah menjalani hidup kita dengan indah, dan kita dapat “mengatur” apa yang akan kita terima di masa depan. Tentu semua menginginkan hidup yang indah, berkecukupan dan damai. Dan hal hal tersebut hanya akan anda rasakan dengan memahami hukum karma pala. orang yang tidak memahami karma akan merasa bahwa dunia ini tidaklah adil walaupun sebenarnya Ketidakadilan yang dirasakannya adalah suatu Ketidakadilan Yang Adil.

Secara harafiah, Karma berasal dari bahasa Sansekerta dari urat kata “Kr” yang berarti membuat atau berbuat, maka dapat disimpulkan bahwa karmapala berarti Perbuatan atau tingkah laku. Dan Phala berarti buah atau hasil. Hukum Karma Phala berarti : Suatu peraturan atau hukuman dari hasil dalam suatu perbuatan.  

Disini saya akan bagikan beberapa hal yang tidak dipahami (atau terlupakan) oleh banyak orang. Bagi anda yang belum memahami apa yang saya tulis, saya harap ini akan memberikan pandangan pada anda tentang hukum karma, dan bagi anda yang sudah mengetahuinya, semoga ini menjadi penguatan dan mari sama sama kita berlatih untuk menerapkan semua dalam hidup sehari hari kita. Karena suatu ilmu tanpa diamalkan tidak akan membawa kebaikan bagi kita. 

Pertama, Pada hukum karma dikatakan bahwa kita akan mendapatkan (memanen) apa yang kita tanam. Jadi jangan harap kita mendapatkan sebuah kemakmuran bila kita tidak menanam kemakmuran, jangan berharap kita mendapatkan kesehatan tanpa menanam kesehatan, dan yang sering tidak kita sadari, jangan berharap kita memanen kesehatan setelah menanam kemakmuran karena hukum karma bersifat pasti dan adil dan tepat. Tentu saja anda tidak akan mendapatkan mangga bila menanam tanaman selain mangga. 

Kedua karma perlu waktu untuk berbuah. Sama seperti sebuah pohon, karma perlu waktu untuk menghasilkan pala. Hal ini yang sering dilupakan oleh banyak orang. Ada orang yang dalam beberapa tahun melakukan hal buruk dan bertobat, namun setelah beberapa minggu mencoba menjadi orang baik tapi terus merasakan kesialan dan akhirnya berpikir bahwa percuma melakukan hal baik karena akhirnya akan mengalami kesialan juga. 

Ini dapat dianalogikan sebagai seorang petani yang sudah menanam ubi selama bertahun tahun. Petani itu sudah memanen satu lumbung penuh dengan ubi. Suatu hari petani itu memilih untuk menanam padi. Dia mulai menanam padi dan setelah dua minggu dia merasa percuma karena walaupun menanam padi dia harus tetap memakan ubi hasil panennya sebelumnya. Ya wajar saja dia masih harus makan ubi, padi yang dia tanam memerlukan waktu untuk dapat dipanen dan dia sudah punya satu lumbung penuh ubi. Ya mau tidak mau dia masih harus memakan ubi nya. 

Ketiga  Karma bersifat tepat dan pasti. Artinya siapa yang menanam, dia yang harus menuai. Banyak pemahaman diluar sana bahwa apabila kakeknya melakukan suatu kesalahan, ada kemungkinan cucunya yang akan menerima phala nya. Hal ini tidaklah mungkin. Karma bersifat personal dan tidak dapat di pindah nama kan. Pada saat berdonasi mungkin kita bisa lakukan mewakili ayah/ibu kita, namun karma yang sudah tertulis  atas nama kita ya harus kita terima pada saat matang nanti. Kita dapat menghindar, namun itu hanya suatu penundaan. Karena kita harus menerimanya ya kita pasti menerimanya. 

Masih banyak yang dapat dibahas yang berhubungan dengan karma, namun untuk sekarang biarlah kita meresapi tiga poin yang saya jabarkan diatas. Ingat suatu pengetahuan tidak akan bermakna bila tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari kita.
Semoga artikel ini bermanfaat

-Mahotama Seputra-
Untuk membaca artikel artikel saya yang lain dapat diakses di blog pribadi saya GitaJiwa

Mencari Kebahagiaan Abadi


  Jiwa  manusia bersifat abadi, sempurna, tidak terbatas; dan kematian hanyalah perubahan dari satu badan ke badan lainnya. Masa lalu merupakan jawaban atas kehidupan masa kini, masa depan merupakan ketentuan pada saat kehidupan masa ini. Jiwa akan terus bervolusi dalam siklus samsara. Tetapi ada pertanyaan lain: Apakah manusia layaknya kapal kecil di laut  yang bergolak, terlempar ke atas dan ke bawah, berguling maju mundur di atas kemurahan hati dari tindakan baik dan buruk, dan tak berdaya menghadapi arus sebab-akibat yang tidak mengenal belas kasihan; atau sebuah rama - rama kecil yang di letakkan di bawah roda sebab-akibat yang akan menggilasnya tanpa belas kasihan ?

   Hati serasa menciut memikirkan hal semacam ini, akan tetapi inilah Hukum Alam. Apakah tidak ada Harapan, jalan keluar ? Haruskah kita putus asa ? Seorang pendeta Vedic ingin menjawab pertanyaan itu; maka ia berdiri di hadapan Dunia dan mengatakan: ''Dengarlah, anak - anak dengan kebahagian abadi! Saya telah menemukan Orang Bijak yang melampaui semua kegelapan dan kegelisahan; dengan mengetahuiNya saja kamu akan dibebaskan dari siklus Samsara''. Izinkan saya menyebut anda, saudara - saudaraku, sebagai pewaris kebahagiaan abadi. Ya orang Hindu menolak memanggil anda sebagai Pendosa. Anda adalah anak - anak Tuhan Semesta, pewaris kebahagiaan abadi, orang - orang suci dan sempurna. Mengatakan seseorang sebagai pendosa justru merupukan tindakan yang berdosa; tindakan itu menghina sifat manusia, sekaligus menghina penciptanya. Dengan kata lain memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, menghina dan menistakan manusia berarti menghina dan menistakan penciptanya.  Bangkitlah para singa, dan hentikan menganggap dirimu sebagai domba. Kau adalah jiwa yang abadi, jiwa yang bebas dan diberkahi. Kau bukanlah sebuah benda, bukan pula sebuah tubuh. Materi (tubuh) adalah pelayanmu, janganlah kau menjadi pelayan bagi Materi (tubuh). Dengan kata lain, janganlah kamu di jadikan Budak fikiran yang terus-menerus membuat-mu keluar kendali dan jatuh kelembah kebodohan (Avidya) dalam mengendalikan nafsu. Dari semua musuh yang telah kutemui, musuh terberat dan terbesar adalah diri sendiri.

   Jadi, Veda tidak menyajikan berbagai hukum yang tidak mengenal ampun, atau hukum sebab-akibat yang tidak ada ujungnya. Tetapi, di atas semua hukum itu, dan dalam setiap partikel materi dan kekuatan, hanya ada satu, dan  ''atas perintahnya angin bertiup, api membakar, awan menjadi hujan dan kematian melintas di bumi''.

   Ia ada di mana-mana, ia yang murni dan tak berbentuk, Yang berkuasa dan pemurah. Para orang suci Vedic (Resi) bernyanyi kepada Semesta, ''Kau adalah ayah kami. Kau adalah ibu kami. Kau adalah teman yang paling kami kasisihi. Kau adalah sumber semua kekuatan; berilah kami kekuatan. Kau adalah sumber adalah yang memikul beban semesta; bantulah kami memikul beban kehidupan yang kecil ini''. Jadi bagaimana kita menyembahnya ? Melalui cinta. ''Izinkan aku untuk menyembah kemuliaanmu sebagai seorang Ibu, Ayah, Kekasih Dsb, yang lebih berharga dari apapun di dunia ini saat ini maupun pada kehidupan yang akan mendatang.

Apa itu Samsara ?

Saṃsara atau sangsara dalam agama Buddha adalah sebuah keadaan tumimbal lahir (kelahiran kembali) yang berulang-ulang tanpa henti. Selain agama Buddha, katasamsara juga ditemukan dalam agama Hindu, Jainisme, serta beberapa agama terkait lainnya, dan merujuk kepada konsep reinkarnasi atau kelahiran kembali menurut tradisi filosofikal India.
Hal ini bisa di anologikan ketika di saat seseorang tidak naik kelas, di saat itulah seseorang masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan - kesalahan yang telah kita lakukan, begitu juga sama halnya terhadap siklus samsara yang memperbaiki kesalahan - kesalahan yang kita lakukan selama di dunia.

Baca juga: - Samsara perjalanan Sang Jiwatman
                 - Saya adalah Jiwa, bukanlah Raga

Tuhan maha adil dan pemurah dalam mengatur segalanya, begitu juga adanya siklus Samsara yang sudah merupakan ketetapan Tuhan sebagai Hukum Alam. Dalam siklus kelahiran yang berulang - ulang ini kita terus di kasih kesempatan agar  bisa memperbaiki karma yang telah kita buat di masa lalu .

    Dalam pandangan Agama Semetik/Samawi kehidupan hanya sekali dan manusia akan di adili setelah adanya hari Pengadilan di akhirat setelah kiamat nanti. Sempat saya berdiskusi dengan mereka, saya bertanya kapan hari dimana kita untuk memperbaiki Karma yang telah kita lakukan selama di Dunia ? mereka menjawab, kehidupan ini masih lama, manfaatkanlah kehidupan di dunia yang sekarang ini sebagai hari dimana kita untuk bertobat atau memperbaiki Karma yang telah kita lakukan. Saya berfikir, apa mungkin kehidupan ini masih lama ? ada yang mati di dalam rahim, ada yang mati di gebukin warga ketauan maling, ada yang mati cuman gara gara uang seribu rupiah, ada yang mati kelaparan, dsb serta semua itu belum ada yang sempat bertobat.

    Dan jika kehidupan hanya sekali, apa sebabnya dari beberapa orang yang dilahirkan dengan penuh kebahagian, mempunyai kesehatan baik, dengan tubuh yang indah, mental yang kuat dan semua kebutuhan terpenuhi. Sedangkan orang lain hanya dilahirkan dengan keterbatasan fisik maupun mental, ada yang tanpa tangan atau tanpa kaki, ada yang idiot, dan dengan menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan.
Jika semua itu di ciptakan tanpa sebab dan melainkan hanyalah sebuah takdir Tuhan, maka mengapa Tuhan yang maha adil dan pemurah menciptakan satu orang bahagia tetapi yang lain tidak bahagia ?
Mengapa ia pilih kasih ?
Mengapakah Manusia harus sengsara bahkan disini, dalam rengkuhan Tuhan yang Mahaa adil dan pemurah ?
Tidak ada artinya mengatakan bahwa mereka yang sengsara pada kehidupan ini akan menjadi lebih baik di kehidupan yang akan mendatang.
   
   Gagasan Tuhan sebagai pencipta tidak menjelaskan anomali  di atas, melainkan hanya mengungkapkan tindakan kejam dari seorang makhluk yang mempunyai kekuasaan penuh. Jika semua itu di jawab dengan memberi pernyataan bahwa "terserah Tuhan yang menciptakan", itu sangatlah tidak masuk akal, Karena bertentangan dengan sifat Tuhan yang Maha adil, penyayang dan pemurah. Karena itu, harus ada sebab, sebelum kelahiran, yang membuat seseorang sengsara atau bahagia, yaitu tindakan kehidupannya di masa lalu.

    Pembahasan mengenai Samsara/Purnabhawa/Reinkarnasi tidak lepas dari pembahasan Atman / roh. Dalam pandangan Agama semetik/samawi, Atman / roh seseorang di tiupkan oleh Tuhan ke badan fisik dan mereka hampir tidak bisa membedakan antara roh dan badan, dan tidak sedikit yang menganggap roh dan badan itu sama. Dalam agama Hindu Atman / roh merupakan bagian terkecil dari Tuhan yang berada pada setiap makhluk yang bersifat kekal sedangkan badan hanya sebuah sarananya yang sifatnya tidak kekal, hal ini bisa di ibaratkan dengan air laut yang sangat luas yang merupakan sumber dari Atman / roh yaitu Tuhan, dengan butiran embun dari laut yang terserap oleh sinar matahari yang merupakan Atman/roh itu sendiri. Dalam pandangan Hindu, Atman / roh pada hakikatnya bersifat abadi, suci, dan terbebas dari segala dosa.
Atman/roh memiliki intisari yang sama dengan Tuhan. Atman yang merupakan pusat spritual dalam tubuh manusia adalah sumber dari pengetahuan, kekuatan, cinta kasi, dan kemurnian yang tiada batasnya. Menurut pandangan Hindu, Atman / roh yang sama berada pada dalam semua makhluk hidup termasuk hewan dan tumbuhan. Perbedaannya bukan terletak pada Atman / roh, tetapi pada tingkatan manifestasi yang bergantung pada jenis badan fisik yang berhubungan dengan Atman / roh trsbt.

    Dalam lapisan tubuh menurut agama Hindu, terdapat lapisan yang sangat halus, yang bernama Ananda - maya kosa yang merupakan singgasana emas bagi Atman / roh suci. Lapisan badan ini terbentuk dari energi alam semesta yang transenden. Tidak termanifestasi atau tidak terwujud, tapi ada. Tubuh ini bisa berupa tempat kosong bagi  orang yang belum mengerti  tentang fungsi adanya Atman/Roh sendiri. Tubuh ini merupakan tujuan Utama dari setiap orang yang menjalani spritual. Tubuh Atman / roh ini bersifat pasif terhadap apa yang kita pikirkan, kita perbuat dan kita kerjakan. Tubuh Atman / roh ini tidak terpengaruh dengan urusan duniawi karena tingkat kesadarannya Suci dan Tunggal, Mutlak atau Esa. Tujuan utamanya hanya memberi kekuatan Hidup ( Prana ) pada tubuh fisik kita.

   Weda menjelaskan bahwa Atman / roh adalah energi atau daya hidup yang kekal. penjelasan seperti itu sangat sesuai dengan Hukum Kekalan Energi dalam ilmu Fisika. Bahwa energi tidak dapat di ciptakan dan tidak dapat di musnahkan, energi hanya dapat berpindah dan berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Dengan demikian, Atman / roh tidak bisa musnah, tidak bisa lenyap atau kehilangan sifat individualitasnya. Ia hanya berpindah dari satu badan jasmani ke badan jasmani lainnya, sesuai dengan karma dan kebiasaannya.

          [Bhagavad gita 2.20]
Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang atman/roh pada saat manapun. Dia tidak tidak diciptakan pada masa sekarang, dan dia tidak akan diciptakan di masa yang akan datang. Dia tidak dilahirkan, berada untuk selamanya dan bersifat abadi. Dia tidak terbunuh apabila badan ini terbunuh.

    Walaupun kehidupan ini terlihat sangat singkat dan seolah-olah hanya sekali saja,  tapi sesungguhnya semua mahluk sudah mengalami jutaan pengalaman kelahiran dan kematian dalam siklus samsara.

 Sejak jaman yang sanga kuno sampai jaman sekarang ini,  para orang-orang suci dengan kekuatan mata bathin beliau telah dapat mengetahui adanya fenomena samsara. Di dalam kitab suci Weda sendiri terdapat puluhan sloka yang membahas tentang samsara,  seperti misalnya

        [Bhagavad gita 2.22] 
Sepertinya halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan membuka pakian lama, begitu pula sang atman/roh menerima badan - badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan - badan lama yang tidak berguna.

        [Bhagavad gita 2.27]
Orang yang dilahirkan pasti akan meninggal, dan sesudah kematian, seseorang pasti akan di lahirkan kembali. karena itu, dalam melaksanakan tugas kewajibanmu yang tidak dapat dihindari, hendaknya engkau jangan menyesal.

        [Atharva Veda lX.10.8]
Atman/roh sebuah tubuh yang mati,  mengambil bentuk yang lain [terlahir kembali] menurut perbuatannya di masa lampaunya sesuai akumulasi karmanya sendiri. Mengambil bentuk-bentuk kelahiran yang berbeda-beda, terus mengembara di alam semesta.

Hal ini sesuai dengan hukum afinitas, suatu atman/roh yang mempunyai kebiasaan tertentu akan lahir dalam tubuh yang paling sesuai untuk menampilkan kebiasaan trsbt. Hal ini sejalan dengan sains, karena sains ingin menjelaskan segala sesuatu melalui kebiasaan; Kebiasaan diperoleh dengan repatisi atau mengulang - ulang. Jadi, pengulangan diperlukan untuk menjelaskan kebiasaan yang di alami dari atman/roh yang baru terlahir kembali.
( ilustrasi )

    Ada berbagai sebab mengapa kita terus - menerus mengalami lahir - hidup - mati dalam siklus samsara, tapi ada sebab yang paling penting dan utama adalah manas [pikiran] dan ahamkara [ke-aku-an atau ego]. Pikiran yang terbenam dalam avidya [kesalahan/kebodohan/ke-tidak-tahuan] serta ahamkara [ke-aku-an atau ego] adalah yang menyebabkan kita terus menerus mengalami siklus samsara atau lahir-hidup-mati yang terus berulang - ulang.

Tidak hanya sebatas itu, pikiran yang salah serta ke-aku-an juga adalah yang menyebabkan dimana-mana terjadi persaingan, perebutan, perdebatan, pertengkaran, perceraian, kebencian, konflik, kejahatan, perkelahian bahkan peperangan. Dimana kita saling menyakiti satu sama lain. padahal sesungguhnya kehidupan sebagai manusia dalam siklus samsara, bisa di ibaratkan seperti meniti "titi ugal-agil" [jembatan berupa sebatang kayu kecil yang amat goyah], yang di bawahnya ada jurang yang sangat dalam. Hanya persoaalan waktu yang menentukan kita jatuh ke dalam jurang.

     Artinya kalau kita salah melangkah, dalam perjalanan kehidupan berikutnya kita bisa terjerumus ke dalam kelahiran sebagai manusia yang kehidupannya penuh dengan kesengsaraan, sebagai mahluk - mahluk alam bawah, atau bahkan sebagai binatang.

        [Rig Veda I.164.38]
Atman/Roh yang memiliki tubuh sementara, mengambil bentuk eksistensi lain mahluk seperti ini atau seprti itu [terlahir kembali] menurut perbuatannya [sesuai dengan karmanya] sendiri.

      Dengan kata lain, dalam kelahiran sebagai manusia ini sangat - sangat mendesak bagi kita sebagai manusia untuk segera sadar karena kita semua sedang meniti ugal-ugil. Kita tidak puas dengan gaji kemudian kita korupsi, itu jatuh ke dalam ke dalam jurang. Kita tidak puas dengan pasangan hidup kemudian selingkuh, itu jatuh ke dalam jurang Dsb-nya. Kita akan menyakiti dan melukai diri sendiri maupun orang lain. Pada akhirnya kelak diri kita sendiri juga yang akan terjerumus ke dalam jurang kegelapan dan kesengsaraan.

    Dalam ajaran yang tidak mengenal/mempercayai siklus Samsara [kelahira-hidup-mati], mereka akan selalu bertanya "Kalau siklus Samsara [kelahira-hidup-mati] memang benar - benar ada, kenapa manusia terus bertambah ?" pertanyaan inilah yang paling sering muncul. Dalam pertanyaan ini, jawabannya sangatlah simple, yaitu "Karena dalam kehidupan di Bumi sekarang ini, sesuatu yang bertambah pasti ada yang berkurang". Hal ini merupakan fakta dari perkembangan manusia yang begitu pesat dan mengurangnya spesies hewan/tumbuhan. Dalam hal ini, otomatis kedudukan Atman/Roh dalam hewan/tumbuhan derajat nya naik menjadi manusia, karena hewan/tumbuhan tidak terikat oleh karma. Karena Atman/Roh pada tumbuhan - tumbuhan hanya memiliki kekuatan untuk tumbuh/bergerak/berbuat yaitu Eka Pramana( Bayu ), Atman/Roh pada hewan memiliki daya tumbuh dan bersuara yaitu Dwi Pramana( Bayu, Sabda ), dan Atman/Roh Manusia di anugrahi perbuatan, berbicara dan fikiran/etika yaitu Tri Pramana ( Bayu, Sabda dan idep ). Hanya ciptaan-Nya yang mempunyai Tri Pramana sajalah yang bisa melakukan karma, dengan kata lain tumbuhan dan hewan tidak terikat oleh Asubhakarma, dan bisa naik kedudukan menjadi Manusia.
Mengingat kedudukan Atman/Roh itu sifatnya seperti Tuhan, tidak dapat di pungkiri bahwa Atman/Roh itu tidak terbatas jumlahnya serta Alam semesta ini sangatlah luas dan Bumi bukan hanya Planet satu - satunya yang memiliki kehidupan di Alam semesta yang tak terbatas ini.

Konsep Reinkarnasi antara lain :

1. Karma hanya untuk manusia.
2. Setiap perbuatan dan amalan yang kita lakukan akan menghasilkan karma yang kita raih.
3. Karma ialah perbuatan yang akan menghasilkan buah dari apa yang telah kita perbuat.
4. Setiap Pikiran, perkataan, dan perbuatan adalah Karma, dan setiap karma akan menghasilkan Buah.
5. Setiap perkara yang manusia lakukan dan hasil karmanya akan di rekam di dalam "internal mind" dan "Akasi Record" atau "Karana Sarira"
6. Apabila seseorang meninggal dunia, hanya badan fisik saja yang mati.
7. Atman/Roh, Minda dan internal Mind dia akan keluar dari badan tersebut dan akan menunggu untuk kelahiran seterusnya.
8. Kehidupan seterusnya akan disesuaikan tergantung karma yang telah dilakukan pada kelahiran sebelumnya
9.  Dalam kepercayaan Hindu, Dosa yang lebih besar dari pada Pahala akan di masukkan ke surga terlebih dahulu, begitu sebaliknya.
10. Selepas tempuh  Karmanya habis di sebuah Surga/Neraka, Atman/Roh akan dilahirkan kembali di Dunia.
11. sebuah Atman/Roh yang sudah terbebas dari avidya [kesalahan/kebodohan/ke-tidak-tahuan], mengetahui realitas diri yang sejati [Atma jnana] dan mengalami pembebasan sempurna [Moksha], tidak perlu terlahir kembali ke dunia material ini.

Mohon Maaf jika ada salah kata dan kalimat yang menyinggung
Om santih, santih, santih Om
( Smoga damai di hati, damai di dunia, dan damai di akhirat )




Sumber :


Saya adalah Jiwa, bukanlah raga


     Saya berdiri di sini dan bila saya menutup mata serta mencoba melahirkan eksistensis saya sendiri "saya" "saya" "saya"--- apa gagasan yang ada dalam diri saya? Suatu tubuh. Lalu, apakah saya bukan apa2 tetapi hanya kombinasi substansi material? Veda mengatakan "Tidak". Saya adalah jiwa yang hidup dalam sebuah tubuh. Saya bukanlah tubuh. Tubuh akan mati, saya tidak akan mati. Saya ada dalam tubuh; tubuh akan hancur, tapi saya akan terus hidup. Saya juga mempunyai masa lalu. Jiwa tidak diciptakan, karena penciptaan berarti suatu kombinasi, yang artinya pasti akan terdisintegrasi di masa datang. Jika jiwa diciptakan, maka ia harus mati (sama halnya seperti badan yang di ciptakan dan mati)

Baca juga: - Mengenal kematian

Beberapa orang dilahirkan penuh kebahagiaan, mempunyai kesehatan baik, dengan tubuh yang indah, mental yang kuat dan semua kebutuhan terpenuhi. Orang lain dilahirkan, ada yang tanpa tangan atau kaki, ada yang idiot, dan menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan. Jika semuanya diciptakan, mengapa Tuhan yang maha adil dan pemurah menciptakan suatu orang bahagia tetapi yang lain tidak bahagia? Mengapa ia pilih kasih?
 Tidak ada artinya mengatakan bahwa mereka yang sengsara pada kehidupan ini akan menjadi lebih baik di kehidupan mendatang serta tidak ada artinya jika semua itu adalah cobaan untuk manusia yg dipilih oleh tuhan. Mengapakah manusia harus sengsara bahkan di sini, dalam rengkuhan tuhan yang adil dan pemurah?

Gagasan Tuhan sebagai pencipta tidak menjelaskan anomali di atas, melainkan hanya mengungkapkan tindakan kejam dari mahkluk yang mempunyai kekuasaan penuh, disini kita menggunakan fikiran terbuka. Karena itu, harus ada sebab, sebelum kelahiran, yang membuat seseorang manusia sengsara atau bahagia, yaitu tindakannya di masa lalu.
Kita tidak bisa menolak bahwa tubuh mendapatkan kecenderungan tertentu karena keturunan. Tetapi kecenderungan trsbt hanyalah konfigurasi fisik sebagai sarana bagi pikiran tertentu untuk bertindak dalam cara tertentu. Ada kecenderungan lain dalam jiwa yang disebabkan oleh tindakannya di masa lalu. Dan, sesuai hukum afinitas, suatu jiwa yang mempunyai kcenderungan tertentu akan lahir dalam tubuh yang paling sesuai untuk menampilkan kecenderungan trsbt. Hal ini sejalan dengan sains, karena sains ingin menjelaskan segala sesuatunya melalui kebiasaan; kebiasaan diperoleh dengan repetisi atau mengulang ulang. Jadi, pengulangan diperlukan untuk menjelaskan kebiasaan alami dari jiwa yang baru. Dan karena kebiasaan trsbt tidak diperoleh pada kehidupan saat ini, tentunya hal itu diperoleh dari kehidupan yg lalu.

Ada gagasan lain. Mengapa sya tidak dpat mengingat sesuatupun dari kehidupan lalu saya? Ini dapat dijelaskan dengan mudah. Sekarang saya sedang berbicra dalam bahasa ingris, yang bukan bahasa ibu saya. Bahkan tidak ada satu katapun dalam bahasa ibu saya yang saat ini terlintas dalam kesadaran sya. Tetapi kalau saya mencoba mengeluarkannya, maka bahasa ibu saya akan muncul dalam benak sya. Hal ini menunjukan bahwa kesadaran hanyalah permukaan dari samudra mental dalam samudra itulah tersimpan semua pengalaman kita. Coba dan cobalah, maka pengalaman itu muncul, dan anda akan sadar mengenai kehidupan yang lalu.
Bukti trsbt sudah jelas. Verifikasi adalah bukti sempurna dari sebuah teori. Dan itulah tantangan yang dihadapi para resi( orang suci ). Kami telah menemukan rahasia bagaimana samudera memori yang amat dalam bisa dimunculkan, cobalah dan anda akan memperoleh ingatan menyeluruh tentang kehidupan anda di masa lalu.

Jadi seorang hindu percaya bahwa dia adalah sebuah jiwa. Ia yang tidak bisa ditusuk oleh pedang- ia yang tidak bisa dibakar oleh api - ia yg tidak bisa dicairkan oleh air - ia yang tidak bisa dikeringkan oleh udara. Seorang hindu prcya bahwa setiap jiwa adalah sebuah lingkaran, yang kelilingnya tidak berada dimana², tetapi pusatnya terletak di dalam badan. Dan, bahwa kematian berarti perpindahan inti tersebut dari sbuah badan ke badan lain. Jiwa juga tidak terikat oleh kondisi material. Pada dasarnya, jiwa adalah bebas, tidak terikat, suci murni, dan sempurna. Tetapi karena sesuatu sebab, jiwa menemukan dirinya terikat pada materi dan berfikir bhwa ia adalah materi.

Follow us on Facebook

Translate