Apa perbedaan Arca dengan Berhala ?

Perbedaan arca dengan berhala

Pada jaman sekarang, masih banyak orang yang menyalah artikan makna dan tujuan berdirinya arca. Mereka menganggap media(perantara) penyembahan untuk Tuhan ini adalah penyembah/pemuja berhala/batu. Padahal jika mau berfikir secara jernih tanpa mengedepankan ego ataupun pembenaran, maka akan mengerti arca itu berbeda dengan berhala.

Baca juga: - MahaDewa Syirik ?
                   - Aku adalah Jiwa, bukanlah raga

Seseorang bisa dikatakan penyembah atau pemuja batu/berhala apabila seseorang "hanya" tertuju kepada posisi arah dimana lokasi penyembahan batu/berhala itu ditempatkan,
Berhalanya tidak boleh diperbanyak, bentuk dan bahannya tidak boleh beda, dan juga slogan keTuhanannya pasti berbunyi tidak ada yang berhak di sembah selain si berhala/batu yang ditempatkan ini.
Itulah baru bisa dikatakan penyembahan berhala.
Tapi kebalikannya, kami selama ini membuat arca dari bahan yang berbeda, oleh seniman yang berbeda, di lokasi yang berbeda, dalam bentuk yang berbeda - beda sesuai dengan filosofi bentuk/rupa menurut kepercayaan budaya setempat. Apakah Tuhan merasa cemburu ? Apakah Tuhan merasa di saingi ? Apakah Tuhan merasa diduakan jika penyembahnya membuat perantara untuk mewujudkan Tuhan yang tak terfikirkan itu ? Dan apakah salah mempertanyakan hal seperti ini ? Jika mereka berkata tidak, maka betapa munafiknya orang - orang yang menghina media penyembahan berupa arca ini. Bahkan tanpa menggunakan media berupa arcapun, kami diperbolehkan dan tidak akan di cap dosa ataupun dimasukan ke dalam neraka. Maka hal ini sama sekali bukanlah penyembah batu atau yang kerap disebut penyembah berhala, melainkan penyembah Tuhan dalam media(perantara) berupa arca demi memvisualkan serta mengindahkan sifat2 Tuhan oleh karya, rasa dan daya pikir yang terbatas itu.
Setiap arca mengandung filosofi, setiap lekuk arca biasanya mengandung sifat sifat keluhuran Tuhan. Kami mengaplikasikan Tuhan dalam bentuk 3D(Arca), karena kami sadar, bahwa tingkat spritual dan batin setiap orang itu tidak semuanya merasakan keberadaan Tuhan disekitarnya.
Cara kami tidak ada bedanya dengan seluruh agama yang ada di muka bumi ini, yang membedakan itu hanya cara pengaplikasian dan penerapannya saja. Semua itu dilakukan dengan harapan bisa menggapai/memikirkan serta mempusatkan pikiran ke hadapan Dzat sang pencipta serta meningkatkan pemahaman spiritual manusia dengan Alam Semesta.
Dalam agama kami, cara mengaplikasikan Dzat yang tak terfikirkan(Tuhan) itu sebenarnya bisa dengan menggunakan bentuk 3D(Arca) juga bisa 2D(Aksara Suci/kaly grafi Tuhan), bahkan dengan merasakan keberadaan Tuhan didalam setiap keadaan. Karena dalam kitab suci kami menjelaskan bahwa Tuhan itu bersemayam di dalam hati setiap mahluk, Tuhan bersabda :
Bhagavad Gita 15.15
Aku bersemayam di dalam hati setiap mahluk. Ingatan, pengetahuan dan pelupaan berasal dari-Ku.

Bhagavad gita 9.4
Aku berada dimana mana diseluruh alam semesta dalam bentukku yang tidak terwujud. Semua makhluk hidup berada dalam diriku, tetapi aku tidak berada didalam mereka yang tertutupi oleh kekuatan mayaku.

Dalam agama lainpun juga sama, mereka juga mengaplikasikan bentuk 3D(sesuai kepercayaan agamanya) dan bentuk 2D(Aksara/kali grafi nama Tuhan sesuai kepercayaan agamanya). Tentunya tujuan memvisualkan Tuhan disetiap agama itu hanya satu, yaitu mengembangkan kesadaran spritual terhadap kesadaran dari dzat yang tidak dapat digapai oleh alam pikiran itu yaitu Tuhan semesta alam; yang namanya itu disebut dengan berbagai nama yang indah dan agung, pernyataan ini juga tertuang dalam Rig Weda sebagai berikut:
(Reg Weda 1.164.46)
“Ekkam sat vipra bhuda vidyante”
"Tuhan hanya satu, orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama yang indah."
Om Dewa Suksma Parama Acyntia Yanama Swaha, Om Santih Santih Santih Om.

Salam rahayu sedulur jagadku _/|\_





45a3d4be9e2be5145abd5ed0a1fe93c1.jpg (480×301)




Menjadi satu dengan Tuhan/Manunggaling Kawulo Gusti


     Semua umat Hindu, dari berbagai sekte, sepakat mengenai filsafat di atas. Tetapi kesempurnaan bersifat absolut, dan yang absolut tidak bisa mempunyai sifat, tidak bisa bersifat individual. Jadi bila suatu jiwa menjadi sempurna dan absolut, maka ia akan menjadi satu dengan Tuhan; ia akan menyadari Tuhan sebagai kesempurnaan dan kenyataan dari sifat dan eksistensinya sendiri, Eksistensi absolut, Pengetahuan absolut, dan Kebahagiaan absolut. Kita sering sekali membaca bahwa keadaan ini disebut sebagai kehilangan individualitas dan menjadi batu.

    Saya mengatakan, tidaklah demikian. Jika di ibaratkan ini dengan senyawa air tawar yang merupakan individualitas yang kecil dan bergerak kelaut yang sangat luas yang merupakan individualitas yang universal. Air tawar jika sudah menyatu dengan air laut maka seolah olah sudah menyatu dan menjadi air laut, padahal senyawa yang terdapat pada air tawar akan tetap sama dan tidak kehilangan individualitasnya. Karena itu, individualitas kecil yang penuh derita ini harus dihilangkan guna mencapai individualitas universal. Kematian akan sirna ketika saya menjadi satu dengan kehidupan, penderitaan akan berhenti ketika saya bersatu dengan kebahagiaan, dan semua kesalahan pupus ketika saya bersatu dengan pengetahuan itu sendiri. Inilah kesimpulan ilmiah yang amat penting. Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa tubuh saya adalah satu raga kecil yang selalu berubah di dalam lautan materi yang tak terputus. Karena itu diperlukan Advaita (Kesatuan) antara tubuh dengan mitra saya yaitu jiwa.

   Ilmu pengetahuan hanyalah sebuah upaya mencari kesatuan. Begitu ilmu mencapai kesatuan yang sempurna, ia akan berhenti berkembang ketika berhasil menemukan satu unsur yang bisa dijadikan bahan baku untuk semua benda lain. Fisika akan berhenti berkembang apabila sudah berhasil menemukan satu energi yang dapat memanifestasikan semua energi lain. Dan, ilmu agama akan menjadi sempurna apabila sudah menemukan ia yang merupakan satu-satunya kehidupan di dalam semesta kematian, ia yang konstan di dalam dunia yang selalau berubah, Ia satu-satunya Jiwa yang memanifestasikan semua jiwa lain. Artinya, persatuan terakhir dicapai melaui multiplisitas dan dualitas. Agama tidak bisa bergerak lebih maju lagi. Ini adalah tujuan dari semua Ilmu.

   Semua ilmu akan mencapai kesimpulan ini dalam jangka panjang. Manifestasi, bukan penciptaan, adalah kata kunci dalam ilmu dewasa ini. Orang Hindu senang bahwa sesuatu yang ia pelihara dalam pelukannya selama berabad-abad kini akan diajarkan dalam bahasa yang lebih jelas, berlandaskan temuan-temuan ilmiah yang mutakhir.

Beberapa Hal Yang Mungkin Anda Belum Tahu (Atau Lupa) Tentang Karma [bagian 2]

apa yang kita tabur itu yang kita tuai

Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma  bagian II adalah artikel lanjutan dari Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma bagian I, jadi jika anda belum membaca bagian satu saya sarankan anda untuk membacanya terlebih dahulu 

Hukum Karma atau Karma Pala adalah salah satu hukum yang mengatur keseimbangan alam ini. Umat Hindu dan Budha sangat terbiasa dengan hukum ini karena ini adalah salah satu landasan utama dari dua agama tersebut. Namun ternyata banyak yang belum memahaminya. Artikel ini dibuat sebagai pembelajaran bagi yang belum paham, dan pengingatan bagi yang lupa. Artikel ini bukan hanya diperuntukan bagi anda yang beragama Hindu dan Budha. Mengapa demikian akan saya jelaskan dibawah. 

Saya akan memulai membahas Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma bagian dua.

Keempat Karma pala bersifat universal. Bersifat universal disini berarti tidak hanya mengikat mereka yang memeluk agama tertentu. Hal ini bisa dijelaskan bila kita menganalogikan karma pala sebagai listrik. Listrik sudah mengalir di dunia ini sejak lama, dan walupun ada suatu peradaban yang menyatakan bahwa mereka tidak percaya listrik, mengaggap listrik itu tidak ada, mereka akan tetap matang bila tersambar petir. Sebenarnya Karma Pala diajarkan oleh semua ajaran dengan bahasa yang berbeda. Bagi beberapa ajaran karma pala lebih dikenal dengan dosa dan pahala atau konsep tabur tuai. 

Kelima Apa yang anda terima adalah buah dari karma anda. Ini adalah hal yang sangat sering Kita lupakan. Sering pada saat kita mendapat suatu perlakuan yang tidak enak dari orang lain, kitamulai menyalahkan. Menyalahkan orang yang memperlakukan kita secara tidak mengenakan, menyalahkan diri sendiri, bahkan menyalahkan Tuhan dan mengklaim bahwa Tuhan tidak adil. Ini menunjukan bahwa kita belum memahami Karma Pala. Padahal ketidakadilan ini adalah ketidak adilan yang adil. 

Mungkin kita tidak tahu apa yang sudah kita lakukan pada mereka yang memberikan perlakuan tidak enak pada kita. akan menjadi wajar bila mereka memperlakukan kita dengan buruk bila di masa lalu kita memperlakukan mereka dengan buruk. 

terdengar abstrak memang, bamun ini dapat dianalogikan dengan hutang. Misalnya tiba tiba tanpa sebab yang jelas Pak Dogler datang secara tiba tiba mengambil uang Pak Gede sebanyak seratus juta rupiah. Pak Gede akan merasa hal tersebut sangat tidak adil. Ya itu memang suatu tindakan yang sangat tidak adil bila kita hanya melihat saat ini. Namun setelah anda selidiki, suatu saat dimasa lalu, mungkin bukan di kehidupan ini, Pak Gede mengambil sesuatu yang sebanding dengan seratus juta dari Pak Dogler. Jika anda melihatnya dengan cara demikian tentu saja Pak Gede tidak berhak untuk marah. Pak Dogler hanya mengambil apa yang menjadi haknya. 

Keenam, Bagaimana Reaksi kita adalah suatu karma baru. Dan tentu saja akan memberikan buah baru yang sesuai dengan apa yang kita tanam. Kembali ke cerita diatas. Apabila pada saat Pak Dogler tersebut mengambil seratus juta dari Pak Gede dan Pak Gede marah. Pak Gede mengejar Pak Dogler dan memukulnya, saya akan ucapkan selamat, Pak Gede baru saja menanam karma baru, dan tentu bukan suatu Karma yang baik. Karena Karma bersifat pasti dan perlu waktu, suatu saat nanti akan di atur oleh Tuhan dimana Pak Dogler akan memukul (atau menyakiti) Pak Gede. 

Namun bila Pak Gede memahami butir ke lima tadi dan menyadari bahwa itu hanyalah suatu pembayaran Karma, dan Pak Gede memaafakan dan meminta maaf pada Pak Dogler (tidak harus secara fisik, tapi secara batin saja sudah cukup) maka hutang itu selesai. Bila ternyata itu adalah karma terakhir antara pak Gede dan pak Dogler, maka di masa depan Pak Dogler tidak akan mengusik Pak Gede lagi. 

Beberapa orang tidak puas dengan cara seperti itu, mungkin karena menurut mereka itu tidak adil. bila pun merasa perlu dipolisikan, silahkan, karena itu adalah hukum manusia, dan dengan mengambil seratus juta milik Pak Gede, Pak Dogler sudah melanggarnya. Namun yang penting secara batin Pak Gede harus memahami mengapa hal tersebut terjadi dan menahan diri agar tidak menanam makin banyak karma buruk. 

Sepertinya bahasan kali ini lebih berat ya.. hehehehe namun ini adalah bahasan yang penting, karena tanpa memahami karma kita tidak akan bisa melepaskan diri dari samsara dan penderitaan. Jadi, walaupun masih banyak yang ingin saya bahas, mari kita sudahi dulu artikel kali ini dan mari kita resapi, pahami dan mulai mengaplikasikannya dalam hidup kita sehari hari. 

Bila anda berminat membaca blog pribadi saya, silahkan main ke GitaJiwa

Beberapa Hal Yang Mungkin Anda Belum Tahu (Atau Lupa) Tentang Karma. [Bagian 1]

Tentang Karma
Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma. [Bagian 1]



Dalam ajaran Hindu dan Budha kita sering mendengar istilah Karma Phala atau hukum sebab akibat. Hukum ini adalah salah satu dari banyak hukum alam yang mengatur dunia ini. Sekilas hukum Karma ini hanya dipahami oleh Agama Hindu dan Budha, namun hukum ini sebenarnya diajarkan di semua kepercayaan dengan pembahasan dan bahasa yang berbeda. Saudara kita yang beragama lain mengenal konsep Dosa dan Pahala, suatu konsep bahwa apa yang dilakukan seseorang akan dicatat, dan dikembalikan kepada orang yang melakukan dengan ukuran yang tepat dan pasti. Terdengar familiar bukan? Tentu saja itu terdengar sangat familiar, hanya menggunakan bahasa yang berbeda. Namun bahkan tidak semua orang Hindu dan Budha mengerti dan memahami apa itu Karma dan bagaimana Karma bekerja.

Karma adalah salah satu hal yang menarik untuk dibahas karena dengan memahami karma phala atau hukum sebab akibat kita akan lebih mudah menjalani hidup kita dengan indah, dan kita dapat “mengatur” apa yang akan kita terima di masa depan. Tentu semua menginginkan hidup yang indah, berkecukupan dan damai. Dan hal hal tersebut hanya akan anda rasakan dengan memahami hukum karma pala. orang yang tidak memahami karma akan merasa bahwa dunia ini tidaklah adil walaupun sebenarnya Ketidakadilan yang dirasakannya adalah suatu Ketidakadilan Yang Adil.

Secara harafiah, Karma berasal dari bahasa Sansekerta dari urat kata “Kr” yang berarti membuat atau berbuat, maka dapat disimpulkan bahwa karmapala berarti Perbuatan atau tingkah laku. Dan Phala berarti buah atau hasil. Hukum Karma Phala berarti : Suatu peraturan atau hukuman dari hasil dalam suatu perbuatan.  

Disini saya akan bagikan beberapa hal yang tidak dipahami (atau terlupakan) oleh banyak orang. Bagi anda yang belum memahami apa yang saya tulis, saya harap ini akan memberikan pandangan pada anda tentang hukum karma, dan bagi anda yang sudah mengetahuinya, semoga ini menjadi penguatan dan mari sama sama kita berlatih untuk menerapkan semua dalam hidup sehari hari kita. Karena suatu ilmu tanpa diamalkan tidak akan membawa kebaikan bagi kita. 

Pertama, Pada hukum karma dikatakan bahwa kita akan mendapatkan (memanen) apa yang kita tanam. Jadi jangan harap kita mendapatkan sebuah kemakmuran bila kita tidak menanam kemakmuran, jangan berharap kita mendapatkan kesehatan tanpa menanam kesehatan, dan yang sering tidak kita sadari, jangan berharap kita memanen kesehatan setelah menanam kemakmuran karena hukum karma bersifat pasti dan adil dan tepat. Tentu saja anda tidak akan mendapatkan mangga bila menanam tanaman selain mangga. 

Kedua karma perlu waktu untuk berbuah. Sama seperti sebuah pohon, karma perlu waktu untuk menghasilkan pala. Hal ini yang sering dilupakan oleh banyak orang. Ada orang yang dalam beberapa tahun melakukan hal buruk dan bertobat, namun setelah beberapa minggu mencoba menjadi orang baik tapi terus merasakan kesialan dan akhirnya berpikir bahwa percuma melakukan hal baik karena akhirnya akan mengalami kesialan juga. 

Ini dapat dianalogikan sebagai seorang petani yang sudah menanam ubi selama bertahun tahun. Petani itu sudah memanen satu lumbung penuh dengan ubi. Suatu hari petani itu memilih untuk menanam padi. Dia mulai menanam padi dan setelah dua minggu dia merasa percuma karena walaupun menanam padi dia harus tetap memakan ubi hasil panennya sebelumnya. Ya wajar saja dia masih harus makan ubi, padi yang dia tanam memerlukan waktu untuk dapat dipanen dan dia sudah punya satu lumbung penuh ubi. Ya mau tidak mau dia masih harus memakan ubi nya. 

Ketiga  Karma bersifat tepat dan pasti. Artinya siapa yang menanam, dia yang harus menuai. Banyak pemahaman diluar sana bahwa apabila kakeknya melakukan suatu kesalahan, ada kemungkinan cucunya yang akan menerima phala nya. Hal ini tidaklah mungkin. Karma bersifat personal dan tidak dapat di pindah nama kan. Pada saat berdonasi mungkin kita bisa lakukan mewakili ayah/ibu kita, namun karma yang sudah tertulis  atas nama kita ya harus kita terima pada saat matang nanti. Kita dapat menghindar, namun itu hanya suatu penundaan. Karena kita harus menerimanya ya kita pasti menerimanya. 

Masih banyak yang dapat dibahas yang berhubungan dengan karma, namun untuk sekarang biarlah kita meresapi tiga poin yang saya jabarkan diatas. Ingat suatu pengetahuan tidak akan bermakna bila tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari kita.
Semoga artikel ini bermanfaat

-Mahotama Seputra-
Untuk membaca artikel artikel saya yang lain dapat diakses di blog pribadi saya GitaJiwa

Fakta Menakjubkan Dari Nenek-Moyang Kita

Masyarkat Indonesia adalah masyarakat yang budayanya lebih cenderung ke budaya timur. Ditimur sana merupakan salah satu gudangnya filsafat, walaupun indonesia tak kalah hebat dengan filsafatnya, namun kali ini kami ingin mengulas leluhur dari Timur yang sangat berjasa untuk dunia teknology.
   
Fakta historis tentang beberapa jenius India dan penemuan asli mereka luar biasa.

Ini mungkin mengejutkan, banyak dari kita beranggapan bahwa banyak penemuan ilmiah yang diklaim berasal dari Barat, sebenarnya berasal sebagai tanah India oleh para ilmuwan India yang besar dan filsuf. Sebelum itu, kami ingin menjelaskan sedikit tentang sebutan Acharya untuk orang India. Acharya merupakaan salah satu sebutan Guru kerohanian atau Peneliti atau Filsuf bagi masyarakat India. Disini kami ingin menjelaskan Acharya dari timur yang kejeniusannya tak kalah dengan ilmuan modern, diantaranya adalah :

Acharya Kapila (3000 SM)
BAPAK KOSMOLOGI

Dikenal sebagai pendiri filsafat Samkya, Acarya Kapila dipercaya lahir pada tahun 3000 SM dari hasil perkawinan orang suci Kardama dan Devhuti. Beliau mempersembahkan kepada dunia apa yang dikenal dengan nama Sekolah Pikiran Samkhya. Karyanya memberikan pencerahan dalam bidang prinsip – prinsip Jiwa Tertinggi (Purusha) Materi mula (Prakrti) dan penciptaan.

Konsepnya tentng transformasi energi dan penjabarannya yang luar biasa tentang atma, anatma dan elemen halus dari kosmos menempatkan beliau ke dalam posisi kelas elit Sang Master – tiada tertandingi oleh ahli kosmologi manapun. Dalam penjabarannya, Prakrti terinspirasi oleh Purusha, sehingga dikatakanlah bahwa Prakrti adalah ibu dari penciptaan kosmis dan sumber dari segala energi. Layaklah kiranya bila dikatakan bahwa Acarya Kapila mengkontribusikan babak baru bagi dunia kosmologi. Karena observasi beliau yang ekstrasensorik dan penyingkapan tabir rahasia penciptaan ini, beliau dikenal dan diberi penghargaan sebagai Bapak Kosmologi. 

Dalam Bhagavad Gita, Sri Bhagavan Krishna juga menyebutkan : 
                                                                     Bhagavad-gita 10.26
Di antara semua pohon, Aku adalah pohon beringin. Di antara resi-resi di kalangan para dewa Aku adalah Narada. Di antara para Gandharva Aku adalah Citraratha, dan di antara makhluk-makhluk yang sempurna Aku adalah resi Kapila.

http://en.wikipedia.org/wiki/Kapila






Acharya Bharadwaja (800 SM)
PERINTIS TEKNOLOGI PENERBANGAN
Acharya Bharadwaja melewatkan masa hidupnya di kota bernama Prayaga dan merupakan penggubah Ayurweda dan fisika mekanik. Beliau mengarang kitab “Yantra Sarvasva” yang telah menyertakan juga penemuan luar biasa tentang ilmu penerbangan, ilmu ruang angkasa dan mesin terbang. Beliau telah menjelaskan tiga kategori mesin terbang:
1) Mesin terbang yang terbang di bumi dari satu tempat ke tempat lainnya.
2) Mesin terbang yang melintasi satu planet ke planet lainnya.
3) dan mesin terbang yang melintasi satu alam semesta ke alam semesta lainnya.

Beliau mendesain dan mendeskripsikan sesuatu yang bahkan hingga pada masa sekarang pun masih tetap mencengangkan dunia penerbangan. Kecemerlangannya dalam bidang teknologi penerbangan tercermin dari teknik yang dijelaskan oleh beliau:
1.) Rahasia Tertinggi: Teknik untuk membuat mesin terbang agar tidak terlihat dengan penerapan hukum cahaya matahari dan udara.
2.) Rahasia Kehidupan: Teknik untuk membuat mesin angkasa menjadi terlihat melalui penerapan hukum listrik.
3.) Rahasia Spionase: Teknik rahasia untuk mendengarkan percakapan di pesawat lain.
4.) Rahasia Visual: Teknik untuk melihat apa yang terjadi di pesawat lain.
Melalui penemuan yang inovatif dan brilian ini, Acharya Bharadwaja telah dikenal sebagai perintis teknologi penrbangan.
Sumber: vimanas


Acharya Kanada (600 SM)
PENEMU TEORI ATOM
Sebagai penemu “Vaisheshik Darshan"- salah satu dari enam folosofi dasar India - Acharya Kanad adalah seorang jenius di bidang filosofi.Beliau dipercaya terlahir di Prabhas Ksethra di dekat Dwarika di Gujarat. Beliau adalah pionir di bidang realisme, hukum sebab – akibat dan teori atom. Beliau mengklasifikasikan semua benda menjadi sembilan elemen, yakni : bumi, air, cahaya, udara, ether, waktu, ruang, pikiran dan jiwa. Beliau berkata,: Setiap benda ciptaan berasal dari atom – atom yang pada gilirannya berhubungan satu dengan yang lainnya untuk kemudian membentuk molekul.” Pernyataannya mendahului John Dalton sekitar 2500 tahun berselang. Kanad juga menggambarkan dimensi dan pergerakan atom dan reaksi kimianya dengan atom – atom lainnya. Sejarahwan terkenal, T.N. Colebrook, pernah menyatakan, “Dibandingkan dengan para ilmuwan Eropa, Kanad dan ilmuwan – ilmuwan India lainnya adalah para pakar global dalam bidangnya.”http://en.wikipedia.org/wiki/Kanada


Acharya Charaka (370-283 SM)

Acharya Charaka telah dinobatkan sebagai Bapak Pengobatan. Karyanya yang termasyur, "Charaka Samhita", dianggap sebagai ensiklopedinya Ayurveda. Prinsip, diagnosis,dan penyembuhannya masih relevan karena mengandung kebenaran ilmiah, bahkan setelah beratus – ratus tahun lamanya berselang. Ketika sains anatomi dibingungkan oleh berbagai teori di Eropa, Acharya Charaka menyingkap tabir melalui kejeniusannya yang tak tertandingi itu fakta – fakta tentang anatomi manusia, embriologi, farmakologi, sirkulasi darah dan berbagai macam penyakit, seperti diabetes, tuberkulosis, penyakit jantung, dan lain – lain.


BAPAK KEDOKTERAN
Dalam “Charaka Samhita” dia telah menjelaskan kualitas medis serta fungsi dari 100.000 tanaman herbal. Dia telah pula menekankan pengaruh diet dan aktivitas terhadap pikiran dan tubuh. Dia telah membuktikan korelasi antara spiritualitas dan kesehatan fisik yang dikontribusikan luas melalui diagnosis dan sains kuratif. Dia juga mengusulkan kode etis bagi para praktisi pengobatan, dua abad sebelum dikumandangkannya sumpah Hippokrates di bidang kedokteran. Melalui kejeniusan dan intuisinya, Acharya Charak memberikan sudut – pandang yang sangat menyeluruh bagi pembelajaran Ayurweda. Dia selamanya dikenang dalam sejarah sebagai salah satu rsi-ilmuwan yang terbaik dan terhormat.

 http://en.wikipedia.org/wiki/Chanakya


Acharya Patanjali (200 SM)
FATHER OF YOGA
Sains Yoga adalah salah satu dari sekian banyak kontribusi India bagi dunia. Hakekat Yoga adalah pencarian Kenyataan Sejati melalui latihan yang berkesinambungan. Acharya Patanjali, sang penemu, terlahir di Gonda (Gonara), Uttar Pradesh. Beliau mengembangkan metode pengaturan prana (nafas hidup) sebagai sarana mengendalikan badan, pikiran dan jiwa. Hal ini memberi manfaat yang melimpah juga bagi kesehatan dan kebahagiaan di dalam diri. ke-84 posisi yoga Patanjali dengan efektif meningkatkan efisiensi sistem pernafasan, sirkulasi darah, sistem saraf, pencernaan , sistem endokrin dan banyak organ lainnya di dalam tubuh. Yoga memiliki delapan tahapan dimana Acharya Patanjali menunjukkan cara mencapai rahmat Tuhan yang tertinggi melalui disiplin yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dhyana dan dharana. Sains Yoga telah meraih popularitas karena pendekatan dan manfatnya yang ilmiah. Yoga juga menempati tempat terhormat sebagai salah satu dari enam sistem filosofi di India. Acharya Patanjali akan selamanya diingat dan dikenal sebagai seorang perintis dalam bidang ilmu tentang disiplin – diri, kebahagiaan sejati dan kesadaran – diri.

Patanjli Maharishi Meditating
http://en.wikipedia.org/wiki/Patanjali
_________________________


Nagarjuna (100 M)
SANG AHLI KIMIA
Terlahir di desa bernama Baluka, Madhya Pradesh, dia mendedikasikan waktunya untuk melakukan penelitian selama 12 tahun, hingga menghasilkan penemuan – penemuan luar biasa di bidang kimia dan metalurgi. Mahakarya tertulis seperti “Ras Ratnakar,” “Rashrudaya” dan “Rasendramangal” adalah kontribusi fenomenalnya di bidang sains kimia. Saat alkemis Inggris gagal dalam eksperimennya, Nagarjuna telah menemukan proses kimia mentrasmutasi besi menjadi emas. Selain dikenal sebagai pengarang buku – buku kedokteran seperti “Arogyamanjari” dan “Yogasar,” dia juga memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pengobatan kuratif. Karena kejeniusan dan ke”mahabisaan”nya ini, dia krmudian dipercayakan menjadi Penasehat di universitas terkenal, University of Nalanda, dan sampai saat ini masih tetap mengundang decak kagum ilmuwan modern.
Sumber


ARYABHATT (476 M-550M
PAKAR ASTRONOMI DAN MATHEMATIKA
Aryabhatt lahir pada 476  Masehi di Kusumpur. Beliaulah yang menjelajahi batas – batas matematika dan astronomi. Pada 499 M, pada saat beliau berusia 23 tahun, beliau menulis teks tentang astronomi dan risalat non – paralel dalam matematika berjudul “Aryabhatiyam.” Beliau merumuskan proses kalkulasi pergerakan planet – planet dan saat – saat gerhana. Aryabhatt adalah yang pertama kali memproklamirkan bahwa bumi berbentuk bundar, berputar pada sumbunya, mengitari matahari - 1000 tahun sebelum Copernicus mempublikasikan teori heliosentris.

Beliau juga dikenal karena menghitung p (phi) hingga empat digit di belakang koma: 3,1416 dan juga membuat tabel trigonometri. Beratus – ratus tahun kemudian, pada tahun 825 M, matematikawan Arab, Mohammed Ibna Musa mengamini bahwa nilai phi diambil dari India, “Nilai ini telah diberikan oleh Hindu.” Dan yang terpenting, kontribusinya yang paling spektakuler adalah konsep angka nol, yang tanpanya tak mungkin ada teknologi komputer moderen seperti sekarang ini. Aryabhatt adalah Sang Virtuoso dalam bidang matematika.
http://en.wikipedia.org/wiki/Aryabhata


Varahamihira (505-587 M)
AHLI ASTROLOGI DAN ASTRONOMERA TERKENAL
Warahamihira lahir di kapitthaka pada masa 505 M - 587 M, beliau  adalah seorang ahli astrologi dan astronomi yang merupakan salah satu dari sembilan permata Raja Vikramaditya di Avanti (Ujjain). Buku Warahamihira berjudul “Pancha Siddhanta” mendapatkan tempat yang sangat terhormat di bidang astronomi. Dia mencatat bahwa bulan dan planet – planet bersinar bukan atas sinarnya sendiri, melainkan karena memantulkan cahaya matahari. Dalam bukunya yang lain, :"Bhurad Samhita” dan “Bhurad Jatak,” beliau menyingkap tabir cabang ilmu alam, seperti geografi, konstelasi, sains, botani dan ilmu hewan. Dalam risalahnya tentang botani, Varahamihira menyajikan penyembuhan atas berbagai macam penyakit yang sering dialami oleh tanaman. Rsi- ilmuwan masih tetap eksis melalui kontribusinya yang unik bagi sains astrologi dan astronomi.
http://en.wikipedia.org/wiki/Var%C4%81hamihira


 Bhāskarāchārya II (1114-1185 MASEHI)
Sang Jenius Aljabar
Bhaskaracharya lahir di desa bernama Vijjadit (Jalgaon) di Maharastra. Karya – karyanya meliputi Aljabar, Aritmetika dan Geometri, bidang ilmu yang membuatnya kemasyuran dan keabadian. Karya matematikanya diberi judul "Lilavati" dan "Bijaganita" dan dipandang sebagai karya yang tak tertandingi dan fenomenal karena menunjukkan kecerdasannya yang luar – biasa. Karena itulah, tidak mengherankan jika karya – karyanya itu telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa – bahasa dunia.

Dalam salah satu risalahnya, "Siddhant Shiromani" dia menuliskan posisi planet, gerhana, kosmografi teknik matematika dan perlengkapan – perlengkapan astronomi. Dalam "Surya Siddhant" dia membuat sebuah catatan tentang gaya gravitasi: “Benda – benda terjatuh ke bumi disebabkan oleh gaya tarik bumi. Oleh sebab itu, bumi, planet, konstelasi, bulan, dan matahari tetap berada di dalam orbitnya disebabkan oleh gaya tarik ini.” Bhaskaracharya adalah orang pertama yang menemukan teori gravitasi, 500 tahun sebelum Sir Isaac Newton. Dia adalah jawara di antara para matematikawan pada masa abad pertengahan India. Karya – karyanya membakar imajinasi ilmuwan – ilmuwan Persia dan Eropa, yang melalui penelitian terhadap karya – karyanya mendapatkan kemasyuran dan popularitas.
http://en.wikipedia.org/wiki/Bh%C4%81skara_II


Banyak ilmuwan barat terkemuka termasuk pemenang hadiah nobel mengakui atau memuji kesamaan ajaran-ajaran Agama Hindu dengan Ilmu Pengetahuan. Beberapa diantaranya adalah:
  
 Max Muller: Veda akan terus dikagumi dan dihargai selama samudera dan gunung masih ada di atas bumi.
  
 Ralph Waldo Emerson: Veda memuliakan hidup kita. Seluruh filsafat dan ilmu pengetahuan Barat tampak kecil dan tak berarti di hadapan Veda. Seluruh manusia di bumi ini harus kembali ke Veda.
  
 Pall Thema: Veda adalah dokumen mulia, dokumen yang tidak saja bernilai dan menjadi kebanggaan India tetapi bagi seluruh umat manusia, karena di dalamnya kita melihat manusia berupaya untuk mengangkat dirinya di atas keberadaan dunia ini.
  
 Arthur Schoupenhour: Ini meyakinkan orang banyak bahwa Veda adalah abadi dan tidak dapat dijawab oleh manusia dan bahwa Veda berasal dari Brahman, yang adalah penciptanya.
  
 Prof. Heeren: Veda berdiri tegak sendirian dalam kemegahannya sebagai mercusuar cahaya suci bagi gerak maju kemanusiaan.
  
 Lord Morley: Apa yang ditemukan dalam Veda, tidak ada di tempat lain.
  
 Leo Tolstoy: Agama Veda tidak hanya agama yang tertua tapi juga agama yang paling sempurna. Ia menempati posisi pertama dan yang paling utama di antara agama-agama dunia.
  
 Gerald Heard mengatakan, ”Vedanta sangat ilmiah tentang – hukum-hukum yang mengatur alam semesta.”
  
 Dr. Kenneth Walker yang menyanjung kebijaksanaan Veda dan mengatakan, ”Vedanta merupakan suatu usaha untuk meringkas seluruh pengetahuan manusia dan membuat manfaat seluruh pengalaman manusia. Pada suatu saat ia adalah agama, pada saat lainnya filsafat dan saat lainnya lagi ilmu pengetahuan.” Dengan kata lain 3 pilar ilmu pengetahuan dunia, terdapat di dalam kitab suci Hindu (Veda) yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.

    Sarvepalli Radhakrishnan: Setelah musim dingin selama beberapa abad, kita sekarang berada pada periode kreatif dari agama Hindu. Kita mulai melihat pada agama kita yang telah berusia berabad-abad dengan pandangan mata segar.

    Albert Enstein: Ketika saya membaca Bhagavad Gita lalu merenungkan tentang bagaimana Tuhan menciptakan jagat raya ini, segala hal lain terasa begitu tidak bermakna.Kita berhutang   banyak kepada orang India yang mengajarkan kita bagaimana   menghitung, tanpa itu penemuan yang bermanfaat ilmiah ini tidak mungkin dilakukan.

    Dr. Arnold Joseph Toynbee: “Sekarang telah menjadi jelas bahwa satu bab yang memiliki awal Barat akan seharusnya memiliki satu akhir India bila dia tidak ingin berakhir dalam penghancuran diri sendiri dari ras manusia. Pada saat yang amat sangat berbahaya dari sejarah manusia, satu-satunya jalan keselamatan adalah jalan kuno Hindu. Di sini kita memiliki sikap dan semangat yang dapat membuat mungkin bagi ras manusia untuk tumbuh bersama dalam satu keluarga tunggal. Jadi sekarang kita berpaling ke India : hadiah spiritual ini, yang membuat manusia (memiliki) kemanusian (that make a man human), masih tetap hidup dalam jiwa-jiwa India. Teruslah memberikan hal ini pada dunia. Tidak ada apapun yang lain yang dapat memberikan demikian banyak untuk membantu ras manusia (mankind) menyelamatkan dirinya dari penghancuran.” (Sejarawan Inggris 1889 – 1975).

    
W. Heisenberg: “Setelah perbincangan tentang Filosofi India, beberapa ide mengenai Fisika Quantum yang tampaknya gila tiba-tiba menjadi lebih masuk akal.” (Ahli fisika Jerman, 1901-1976)
     Prof. Brian David Josephson: ''Vedanta dan Sankhya memegang kunci proses hukum-hukum pikiran yang berhubungan dengan Bidang Quantum. Seperti operasi dan distribusi partikel-partikel pada level atom dan molekul.” Ahli Fisika Wales, penerima Nobel termuda

    Jean-Sylvain Bailly (1736-1793) seorang Astronom Perancis menyatakan: "Perjalanan bintang dihitung oleh orang-orang Hindu sebelum 4500 tahun bahkan tidak berbeda satu menit pun dari tabel Cassine dan Meyer (digunakan di abad 19). Tabel-tabel Hindu memberikan variasi tahunan yang sama dari bulan sebagai yang ditemukan oleh Tycho Brahe, suatu variasi tidak dikenal sekolah Alexandria dan juga orang Arab yang mengikuti kalkulasi-kalkulasi dari sekolah itu...".
Masih banyak para ilmuan barat yang mengikuti ajaran Upanisad seperti Oppenheimer, Sagan, Capra, Carl Jung, Pierre de Simon, Laplace, Nicola Tesla, dan masih banyak lagi.

     Huston Smith (1919) seorang filsuf, penulis paling fasih, sarjana Agama termasyur yang mempraktekkan Hatha Yoga. Ia berkata, "Selagi barat masih berpikir, barangkali tentang 6.000 tahun usia alam semesta,, Umat Hindu telah memikirkan berbagai zaman, dan beribu-ribu tahun, dan galaksi-galaksi sebanyak pasir dari Gangga. Alam semesta sedemikian luas sehingga Astronomi (ilmu perbintangan) modern terselip kedalam pelukannya tanpa suatu riak."

Sumber artikel : - http://www.cortona-india.org
                           - www.bhupendratechniques.com

Apa itu Samsara ?

Saṃsara atau sangsara dalam agama Buddha adalah sebuah keadaan tumimbal lahir (kelahiran kembali) yang berulang-ulang tanpa henti. Selain agama Buddha, katasamsara juga ditemukan dalam agama Hindu, Jainisme, serta beberapa agama terkait lainnya, dan merujuk kepada konsep reinkarnasi atau kelahiran kembali menurut tradisi filosofikal India.
Hal ini bisa di anologikan ketika di saat seseorang tidak naik kelas, di saat itulah seseorang masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan - kesalahan yang telah kita lakukan, begitu juga sama halnya terhadap siklus samsara yang memperbaiki kesalahan - kesalahan yang kita lakukan selama di dunia.

Baca juga: - Samsara perjalanan Sang Jiwatman
                 - Saya adalah Jiwa, bukanlah Raga

Tuhan maha adil dan pemurah dalam mengatur segalanya, begitu juga adanya siklus Samsara yang sudah merupakan ketetapan Tuhan sebagai Hukum Alam. Dalam siklus kelahiran yang berulang - ulang ini kita terus di kasih kesempatan agar  bisa memperbaiki karma yang telah kita buat di masa lalu .

    Dalam pandangan Agama Semetik/Samawi kehidupan hanya sekali dan manusia akan di adili setelah adanya hari Pengadilan di akhirat setelah kiamat nanti. Sempat saya berdiskusi dengan mereka, saya bertanya kapan hari dimana kita untuk memperbaiki Karma yang telah kita lakukan selama di Dunia ? mereka menjawab, kehidupan ini masih lama, manfaatkanlah kehidupan di dunia yang sekarang ini sebagai hari dimana kita untuk bertobat atau memperbaiki Karma yang telah kita lakukan. Saya berfikir, apa mungkin kehidupan ini masih lama ? ada yang mati di dalam rahim, ada yang mati di gebukin warga ketauan maling, ada yang mati cuman gara gara uang seribu rupiah, ada yang mati kelaparan, dsb serta semua itu belum ada yang sempat bertobat.

    Dan jika kehidupan hanya sekali, apa sebabnya dari beberapa orang yang dilahirkan dengan penuh kebahagian, mempunyai kesehatan baik, dengan tubuh yang indah, mental yang kuat dan semua kebutuhan terpenuhi. Sedangkan orang lain hanya dilahirkan dengan keterbatasan fisik maupun mental, ada yang tanpa tangan atau tanpa kaki, ada yang idiot, dan dengan menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan.
Jika semua itu di ciptakan tanpa sebab dan melainkan hanyalah sebuah takdir Tuhan, maka mengapa Tuhan yang maha adil dan pemurah menciptakan satu orang bahagia tetapi yang lain tidak bahagia ?
Mengapa ia pilih kasih ?
Mengapakah Manusia harus sengsara bahkan disini, dalam rengkuhan Tuhan yang Mahaa adil dan pemurah ?
Tidak ada artinya mengatakan bahwa mereka yang sengsara pada kehidupan ini akan menjadi lebih baik di kehidupan yang akan mendatang.
   
   Gagasan Tuhan sebagai pencipta tidak menjelaskan anomali  di atas, melainkan hanya mengungkapkan tindakan kejam dari seorang makhluk yang mempunyai kekuasaan penuh. Jika semua itu di jawab dengan memberi pernyataan bahwa "terserah Tuhan yang menciptakan", itu sangatlah tidak masuk akal, Karena bertentangan dengan sifat Tuhan yang Maha adil, penyayang dan pemurah. Karena itu, harus ada sebab, sebelum kelahiran, yang membuat seseorang sengsara atau bahagia, yaitu tindakan kehidupannya di masa lalu.

    Pembahasan mengenai Samsara/Purnabhawa/Reinkarnasi tidak lepas dari pembahasan Atman / roh. Dalam pandangan Agama semetik/samawi, Atman / roh seseorang di tiupkan oleh Tuhan ke badan fisik dan mereka hampir tidak bisa membedakan antara roh dan badan, dan tidak sedikit yang menganggap roh dan badan itu sama. Dalam agama Hindu Atman / roh merupakan bagian terkecil dari Tuhan yang berada pada setiap makhluk yang bersifat kekal sedangkan badan hanya sebuah sarananya yang sifatnya tidak kekal, hal ini bisa di ibaratkan dengan air laut yang sangat luas yang merupakan sumber dari Atman / roh yaitu Tuhan, dengan butiran embun dari laut yang terserap oleh sinar matahari yang merupakan Atman/roh itu sendiri. Dalam pandangan Hindu, Atman / roh pada hakikatnya bersifat abadi, suci, dan terbebas dari segala dosa.
Atman/roh memiliki intisari yang sama dengan Tuhan. Atman yang merupakan pusat spritual dalam tubuh manusia adalah sumber dari pengetahuan, kekuatan, cinta kasi, dan kemurnian yang tiada batasnya. Menurut pandangan Hindu, Atman / roh yang sama berada pada dalam semua makhluk hidup termasuk hewan dan tumbuhan. Perbedaannya bukan terletak pada Atman / roh, tetapi pada tingkatan manifestasi yang bergantung pada jenis badan fisik yang berhubungan dengan Atman / roh trsbt.

    Dalam lapisan tubuh menurut agama Hindu, terdapat lapisan yang sangat halus, yang bernama Ananda - maya kosa yang merupakan singgasana emas bagi Atman / roh suci. Lapisan badan ini terbentuk dari energi alam semesta yang transenden. Tidak termanifestasi atau tidak terwujud, tapi ada. Tubuh ini bisa berupa tempat kosong bagi  orang yang belum mengerti  tentang fungsi adanya Atman/Roh sendiri. Tubuh ini merupakan tujuan Utama dari setiap orang yang menjalani spritual. Tubuh Atman / roh ini bersifat pasif terhadap apa yang kita pikirkan, kita perbuat dan kita kerjakan. Tubuh Atman / roh ini tidak terpengaruh dengan urusan duniawi karena tingkat kesadarannya Suci dan Tunggal, Mutlak atau Esa. Tujuan utamanya hanya memberi kekuatan Hidup ( Prana ) pada tubuh fisik kita.

   Weda menjelaskan bahwa Atman / roh adalah energi atau daya hidup yang kekal. penjelasan seperti itu sangat sesuai dengan Hukum Kekalan Energi dalam ilmu Fisika. Bahwa energi tidak dapat di ciptakan dan tidak dapat di musnahkan, energi hanya dapat berpindah dan berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Dengan demikian, Atman / roh tidak bisa musnah, tidak bisa lenyap atau kehilangan sifat individualitasnya. Ia hanya berpindah dari satu badan jasmani ke badan jasmani lainnya, sesuai dengan karma dan kebiasaannya.

          [Bhagavad gita 2.20]
Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang atman/roh pada saat manapun. Dia tidak tidak diciptakan pada masa sekarang, dan dia tidak akan diciptakan di masa yang akan datang. Dia tidak dilahirkan, berada untuk selamanya dan bersifat abadi. Dia tidak terbunuh apabila badan ini terbunuh.

    Walaupun kehidupan ini terlihat sangat singkat dan seolah-olah hanya sekali saja,  tapi sesungguhnya semua mahluk sudah mengalami jutaan pengalaman kelahiran dan kematian dalam siklus samsara.

 Sejak jaman yang sanga kuno sampai jaman sekarang ini,  para orang-orang suci dengan kekuatan mata bathin beliau telah dapat mengetahui adanya fenomena samsara. Di dalam kitab suci Weda sendiri terdapat puluhan sloka yang membahas tentang samsara,  seperti misalnya

        [Bhagavad gita 2.22] 
Sepertinya halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan membuka pakian lama, begitu pula sang atman/roh menerima badan - badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan - badan lama yang tidak berguna.

        [Bhagavad gita 2.27]
Orang yang dilahirkan pasti akan meninggal, dan sesudah kematian, seseorang pasti akan di lahirkan kembali. karena itu, dalam melaksanakan tugas kewajibanmu yang tidak dapat dihindari, hendaknya engkau jangan menyesal.

        [Atharva Veda lX.10.8]
Atman/roh sebuah tubuh yang mati,  mengambil bentuk yang lain [terlahir kembali] menurut perbuatannya di masa lampaunya sesuai akumulasi karmanya sendiri. Mengambil bentuk-bentuk kelahiran yang berbeda-beda, terus mengembara di alam semesta.

Hal ini sesuai dengan hukum afinitas, suatu atman/roh yang mempunyai kebiasaan tertentu akan lahir dalam tubuh yang paling sesuai untuk menampilkan kebiasaan trsbt. Hal ini sejalan dengan sains, karena sains ingin menjelaskan segala sesuatu melalui kebiasaan; Kebiasaan diperoleh dengan repatisi atau mengulang - ulang. Jadi, pengulangan diperlukan untuk menjelaskan kebiasaan yang di alami dari atman/roh yang baru terlahir kembali.
( ilustrasi )

    Ada berbagai sebab mengapa kita terus - menerus mengalami lahir - hidup - mati dalam siklus samsara, tapi ada sebab yang paling penting dan utama adalah manas [pikiran] dan ahamkara [ke-aku-an atau ego]. Pikiran yang terbenam dalam avidya [kesalahan/kebodohan/ke-tidak-tahuan] serta ahamkara [ke-aku-an atau ego] adalah yang menyebabkan kita terus menerus mengalami siklus samsara atau lahir-hidup-mati yang terus berulang - ulang.

Tidak hanya sebatas itu, pikiran yang salah serta ke-aku-an juga adalah yang menyebabkan dimana-mana terjadi persaingan, perebutan, perdebatan, pertengkaran, perceraian, kebencian, konflik, kejahatan, perkelahian bahkan peperangan. Dimana kita saling menyakiti satu sama lain. padahal sesungguhnya kehidupan sebagai manusia dalam siklus samsara, bisa di ibaratkan seperti meniti "titi ugal-agil" [jembatan berupa sebatang kayu kecil yang amat goyah], yang di bawahnya ada jurang yang sangat dalam. Hanya persoaalan waktu yang menentukan kita jatuh ke dalam jurang.

     Artinya kalau kita salah melangkah, dalam perjalanan kehidupan berikutnya kita bisa terjerumus ke dalam kelahiran sebagai manusia yang kehidupannya penuh dengan kesengsaraan, sebagai mahluk - mahluk alam bawah, atau bahkan sebagai binatang.

        [Rig Veda I.164.38]
Atman/Roh yang memiliki tubuh sementara, mengambil bentuk eksistensi lain mahluk seperti ini atau seprti itu [terlahir kembali] menurut perbuatannya [sesuai dengan karmanya] sendiri.

      Dengan kata lain, dalam kelahiran sebagai manusia ini sangat - sangat mendesak bagi kita sebagai manusia untuk segera sadar karena kita semua sedang meniti ugal-ugil. Kita tidak puas dengan gaji kemudian kita korupsi, itu jatuh ke dalam ke dalam jurang. Kita tidak puas dengan pasangan hidup kemudian selingkuh, itu jatuh ke dalam jurang Dsb-nya. Kita akan menyakiti dan melukai diri sendiri maupun orang lain. Pada akhirnya kelak diri kita sendiri juga yang akan terjerumus ke dalam jurang kegelapan dan kesengsaraan.

    Dalam ajaran yang tidak mengenal/mempercayai siklus Samsara [kelahira-hidup-mati], mereka akan selalu bertanya "Kalau siklus Samsara [kelahira-hidup-mati] memang benar - benar ada, kenapa manusia terus bertambah ?" pertanyaan inilah yang paling sering muncul. Dalam pertanyaan ini, jawabannya sangatlah simple, yaitu "Karena dalam kehidupan di Bumi sekarang ini, sesuatu yang bertambah pasti ada yang berkurang". Hal ini merupakan fakta dari perkembangan manusia yang begitu pesat dan mengurangnya spesies hewan/tumbuhan. Dalam hal ini, otomatis kedudukan Atman/Roh dalam hewan/tumbuhan derajat nya naik menjadi manusia, karena hewan/tumbuhan tidak terikat oleh karma. Karena Atman/Roh pada tumbuhan - tumbuhan hanya memiliki kekuatan untuk tumbuh/bergerak/berbuat yaitu Eka Pramana( Bayu ), Atman/Roh pada hewan memiliki daya tumbuh dan bersuara yaitu Dwi Pramana( Bayu, Sabda ), dan Atman/Roh Manusia di anugrahi perbuatan, berbicara dan fikiran/etika yaitu Tri Pramana ( Bayu, Sabda dan idep ). Hanya ciptaan-Nya yang mempunyai Tri Pramana sajalah yang bisa melakukan karma, dengan kata lain tumbuhan dan hewan tidak terikat oleh Asubhakarma, dan bisa naik kedudukan menjadi Manusia.
Mengingat kedudukan Atman/Roh itu sifatnya seperti Tuhan, tidak dapat di pungkiri bahwa Atman/Roh itu tidak terbatas jumlahnya serta Alam semesta ini sangatlah luas dan Bumi bukan hanya Planet satu - satunya yang memiliki kehidupan di Alam semesta yang tak terbatas ini.

Konsep Reinkarnasi antara lain :

1. Karma hanya untuk manusia.
2. Setiap perbuatan dan amalan yang kita lakukan akan menghasilkan karma yang kita raih.
3. Karma ialah perbuatan yang akan menghasilkan buah dari apa yang telah kita perbuat.
4. Setiap Pikiran, perkataan, dan perbuatan adalah Karma, dan setiap karma akan menghasilkan Buah.
5. Setiap perkara yang manusia lakukan dan hasil karmanya akan di rekam di dalam "internal mind" dan "Akasi Record" atau "Karana Sarira"
6. Apabila seseorang meninggal dunia, hanya badan fisik saja yang mati.
7. Atman/Roh, Minda dan internal Mind dia akan keluar dari badan tersebut dan akan menunggu untuk kelahiran seterusnya.
8. Kehidupan seterusnya akan disesuaikan tergantung karma yang telah dilakukan pada kelahiran sebelumnya
9.  Dalam kepercayaan Hindu, Dosa yang lebih besar dari pada Pahala akan di masukkan ke surga terlebih dahulu, begitu sebaliknya.
10. Selepas tempuh  Karmanya habis di sebuah Surga/Neraka, Atman/Roh akan dilahirkan kembali di Dunia.
11. sebuah Atman/Roh yang sudah terbebas dari avidya [kesalahan/kebodohan/ke-tidak-tahuan], mengetahui realitas diri yang sejati [Atma jnana] dan mengalami pembebasan sempurna [Moksha], tidak perlu terlahir kembali ke dunia material ini.

Mohon Maaf jika ada salah kata dan kalimat yang menyinggung
Om santih, santih, santih Om
( Smoga damai di hati, damai di dunia, dan damai di akhirat )




Sumber :


Film MahaDewa Syirik ?


Film MahaDewa sukses mengambil hati sorotan mata Indonesia. Isi film itu banyak sekali pelajaran dan hikmah yang kita terima, akan tetapi ada juga yang iri dengan film ini dengan mengatakan film ini syirik karena bertentangan dengan kaidah ajarannya. Di dalam jejaring sosial Facebook ada seorang ustad bernama Perdana Akhmad menceramahi film bernuansa Hindu ini dengan aqidah islamnya. Tak habis pikir melihat ceramah beliau yang begitu rendah pengetahuannya terhadap Agama Hindu

Aneh bin ajaib sebelum tayangan film tersebut mulai sudah di peringatkan/dipaparkan kurang lebih tulisannya seperti ini "cerita ini di ambil dari sebuah mitology kuno..." Tapi lucu yang katanya seorang ustad itu menceramahi sebuah mitology dengan membandingkan secara serius menurut kaidah yang diyakininya. Padahal sudah jelas, film tersebut hanyalah salah satu mitology timur yang bertujuan untuk menyampaikan suatu pesan moral dan keTuhanan.

Baca juga: - Apa perbedaan Arca dengan Berhala ?
                 - Tuhan hindu mengadili dirinya sendiri ?

Disini saya mau mencoba menjelaskan kekeliruan yang telah ia sampaikan melalui ceramahnya kepada publik.
Ceramah Ustad yang keliru
1 ) - {   Film Mahadewa tayang di ANTV.
Mahadewa merupakan salah satu nama suci Tuhan dalam agama Hindu, Mahadewa artinya Tuhan Yang Maha Besar, nama lainnya adalah Shiwa. 

Keyakinan ini bertentangan dengan konsep Tauhid dalam Islam. Bahwa Yang Maha Besar itu hanyalah Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala (pada ayat kursi),
ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﻠِﻲُّ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ
“ Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar .” (QS. Al Baqarah : 255)
Begitu pula dalam ayat,
ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﻠِﻲُّ ﺍﻟْﻜَﺒِﻴﺮُ
“ Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Saba’ : 23) }


*Penjelasannya Menurut Hindu

Sepertinya Beliau mengomentari masalah Nama dalam hal teology dalam Hindu. Seharusnya kita sudah tau, bahwa Tuhan itu sejatinya tidak dapat di definisikan dan tidak bisa dijelaskan serumit apapun, apa lagi dijelaskan dengan nama. Dalam hal ini, secara langsung beliau menjelaskan Tuhan itu terikat dengan nama. seharusnya sebagai ustad beliau tau hal ini. Sebenarnya masalah nama itu relativ sesuai daya fikir setiap manusia dalam memberi nama yang sempurna untuk sang pencipta. Nama Tuhan itu hanya sarana manusia untuk mengungkapan eksistensi  mengenai konsep ketuhanan yang tidak terdefinisikan itu.

     Dalam keTuhanan Hindu, Tuhan itu tidak terikat sama sekali dengan nama, bentuk/Rupa, tempat dan waktu. Karena Tuhan merupakan sumber dari segala sumber; dia adalah sumber dari segala nama, Awal dari segala awal, pertengahan dan akhir dari segala akhir. 

Hakikatnya jika kita membicarakan ketuhanan dalam hindu itu sejatinya Tuhan  tidak terfikirkan, dalam bahasa Sanskerta keberadaan ini disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia [Tak terfikirkan/tak terdefinisikan]. KeTuhanan dalam itu artinya Neti-neti; bukan begini, juga bukan begitu. Jika di jabarkan artinya Tidak bisa digambarkan dengan apapun juga. Tidak bisa diserupakan dengan apapun juga. Tidak bisa diungkapkan dengan kalimat serumit apapun juga. Dia melampaui segalanya sekaligus adalah segalanya. Dia Ada. Dia juga Tiada. Dia melampaui Ada dan Tiada. Dia adalah Ada dan Tiada itu sendiri. Tuhan bukan sesosok makhluk. Tuhan bukan berjenis kelamin. Tuhan tidak menempati tempat tertentu. Karena semua tempat berada pada-Nya. Bagaimanakah Dia itu sebenarnya? Tan kêna kinayangapa (Tidak bisa diserupakan dengan apapun juga).

Ini petikan beberapa sloka tentang siapa itu Tuhan beserta sifat-Nya menurut Hindu:

Tuhan sebagai sosok yang tidak terbatas, maha kuasa dan awal dari segalanya
Janmadhyyasya yatah
(Brahma Sutra 1.1.2)
Artinya : Tuhan adalah sumber (asal mula) dari segala yang ada.

Bhagavad Gita 7.7

Wahai Arjuna, tidak ada kebenaran yang lebih tinggi daripada-Ku. Segala sesuatu bersandar kepada-Ku, bagaikan mutiara pada seutas tali. 

Bhgvad Gita 9.4
Aku berada dimana mana diseluruh alam semesta dalam bentukku yang tidak terwujud. Semua makhluk hidup berada dalam diriku , tetapi aku tidak berada didalam mereka yang tidak memiliki kesadaran akan keSemestaan.

Bhagavad Gita 15.15
Aku bersemayam di dalam hati setiap mahluk. Ingatan, pengetahuan dan pelupaan berasal dari-Ku.

Bhagavad Gita 10.8
Aku adalah sumber segala dunia rohani dan segala dunia material. Segala sesuatu berasal dari-ku.

Bhagavad Gita 10.32
Di antara segala ciptaan Aku adalah permulaan, akhir dan juga pertengahan, wahai Arjuna. Di antara segala ilmu pengetahuan, Aku adalah ilmu pengetahuan rohani tentang sang diri [roh/atman], dan di antara para ahli logika, Aku adalah kebenaran sebagai kesimpulan.

Orang Hindu mengucapkan Tuhan dalam berbagai nama sesuai sifat -sifat/Bentuk dari kekuatan Tuhan, seperti contoh;

*Tuhan disebut Brahma dalam sifat/bentuk sebagai maha pencipta Alam Semesta,

*Tuhan disebut visnu dalam sifat/bentuk sebagai pemelihara Alam semesta,

*Tuhan disebut Siva(Siwa) dalam sifat/bentuk melebur/menghancurkan Alam semesta sekaligus pencabut nyawa setiap makhluk yang berbadan.

Serta

*Tuhan bisa di sebut Brahman/Sang hyang Widhi/Allah SWT dalam bentuk sebagai yang tidak terwujud, Maha besar, Maha Tunggal, Maha pencipta, berada di atas segalanya sekaligus segalanya, tak terikat oleh apapun, serta tidak terfikirkan(Acintya Rupa).

*Tuhan disebut Sebagai Paramatman bentuk sebagai yang Berada dimana - mana, meresapi semua ciptaannya, dan merupakan inti diri yang sejati dari setiap makhluk Hidup.

*Dan Juga Tuhan disebut sebagai sang Bhagavan sebagai Tuhan yang turun sebagai Avatara dan mengambil bentuk/Badan ke Dunia dan yang jelas ini merupakan kepercayaan Hindu.
Menyebutkan banyak nama Tuhan bukan berarti Tuhan ada banyak, tetaplah Tuhan hanya satu.
Dalam Bhagavata Purana (Srimad Bhagavatam) skanda I bab 2 sloka 11 menyebutkan :
vadanti tat tattva vidas tattvam yaj jnanam advayam brahmeti paramatmeti bhagavan iti sabdyate
Artinya :  Para rohaniwan terpelajar yang mengenal kebenaran Mutlak menjuluki zat yang tidak nisbi tersebut Brahman, Paramatma dan Bhagavan.

    Dari pembicaraan tentang teologi di atas bahwa Yang Mahakuasa yang tidak terjangkau dengan pikiran. Dia yang maha gaib ini dipanggil dengan berbagai nama sesuai dengan batasan pemikiran orang tersebut, walaupun Ia hanya satu dan Tunggal adanya.

“Ekam eva adwityam Brahma”
Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.

"Eko narayanad na dwityo 'sti kascit"
(Puja Trisandhya)
Artinya :
"Tuhan itu hanya satu dan tidak ada duanya."

Selanjutnya Kekawin Sutasoma pun mengajarkan bahwa Tuhan itu tiada duanya, artinya hanya satu adanya:
(Kekawin sutasoma)
" Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangruwa "
"Walaupun berbeda, tetapi kebenaran tetaplah hanya satu tiada dua"

(Rig-Ved 1.164.46)
“Ekkam sat vipra bhuda vidyante”
" Tuhan hanya satu, orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama."

(Rg-veda 1.164.46)
"indram mitrarn varunam agnim ahur
atho divyah sa suparno garutman
ekarn sadvipra bahudhavadanty
agnim yamam matarisvanam ahuh"
Artinya :
"Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia Yang Bercahaya yaitu Garutman yang bersayap indah. Hanya satu Tuhan itu, tetapi orang yang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama seperti Agni, Yama, Matarisvan."

Dalam ceramahnya yang pertama, beliau sudah sangat terlihat tidak memahami sifat² keTuhanan Hindu. Kajian ini ibarat lapisan² yang terdapat pada Bumi, beliau hanya melihat pengetahuan dari sisi lapisan keraknya saja, dan belum melihat lapisan inti Bumi yang merupakan kesimpulan dari lapisan sebelumnya) *

Baca juga: Fanatisme lebih buruk dari takhayul 
                 -  Perjuangan gadis pindah ke Hindu




2 ) - { Shiwa di bumi bersemayam di Kailasha, nama tempat tersuci di puncak gunung Himalaya. Menurut keterangan kitab suci agama Hindu, puncak ini dipercaya perbatasan antara alam nyata dengan surga.
Gunung himalaya dipercaya gunung
paling suci umat Hindu, seperti dinyatakan di dalam Bhagavad Gita; "Di antara gunung, Aku adalah Himalaya", di gunung inilah bhatara
Shiwa beryoga. 

Berbeda sekali dengan Tuhannya umat Islam, kita beriman bahwa Allah beristiwa' di Arsy dilangit ketujuh. Dan yang suka bersemayam di gunung itu sesungguhnya malah bangsa jin yang disembah manusia hehehe. }

Kita tentu sudah tahu bahwa Gunung merupakan wilayah yang sakral. Dalam hal ini kita bisa mengibaratkan Gunung merupakan bentuk tingkatan spritual bagi manusia, sedang kan Dewa Siwa sebagai inti dari sang diri yang diibaratkan sebagai titik tertinggi di puncak gunug Everst. Kita tentu sudah tidak asing lagi bahwa puncak tertinggi di dunia adalah puncak Everest di pegunungan Himalaya. Dengan kata lain, Gunung merupakan tingkatan pencapai tertinggi dari Ilmu Spritual seseorang. Semakin tinggi tingkat spritual, Pemahaman, dan pengetahuan seseorang terhadap kesadaran sang diri, maka ia akan menemui hakikat dari inti sang diri.

     Dalam keberadaan/tempat Tuhan, sebelumnya sudah di jelaskan, Bahwa Tuhan dalam Hindu tidak terikat sama sekali oleh Tempat apapun. Tuhan berada dimana - mana dalam bentuknya yang tidak terwujud, karena semua ciptaan ini adalah mamnifestasi Tuhan,

Bhagvad gita 9.4
Aku berada dimana mana diseluruh alam semesta dalam bentukku yang tidak terwujud (Paramatman). Semua makhluk hidup berada dalam diriku (Brahman), tetapi aku tidak berada didalam mereka (Bhagavan).

Coba kita berfikir rasional, seberapa besar tempatNya jika dikaitkan Tuhan itu maha besar dan maha segalanya, alangkah lucunya jika Tuhan memiliki tempat yang Tuhan sendiri itu terbebas dari segalanya dan di luar dari segala galanya sekaligus segalanya. Karena semua yang ada itu berada pada diri Tuhan YME yang sebagai ciptaanya dan terbuat dari segelintir dari kekuatan Tuhan YME yang kekuatannya itu berasal dari bagian dirinya.
Perhatikan sloka berikut:

Bhagavad gita 7.4
tanah, air, api, udara, angkasa, pikiran, kecerdasan dan keakuan yang palsu- secara keseluruhan delapan unsur ini merupkan tenaga-tenaga material yang terpisah dariku.

Bhagavad gita 9.10
Alam material ini, salah satu di antara tenaga-tenaga-k­u, bekerja di bawah-ku, dan menghasilkan semua makhluk baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, wahaiputera kunti. Di bawah hukum-hukum alam material, manifestasi­ ini diciptakaan dan dilebur berulangkali.

Bhagavad gita 10.8
Aku adalah sumber dari segala dunia rohani dan segala sumber dari segala dunia material.

Bhagavad gita 10.40
Ketahuilah bahwa segala ciptaan yang hebat, indah dan ajaib hanya berasal dari segelintir dari kemuliaanku.

Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden) . Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi –  seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.
(Fikirkan lagi itu)



3 )   -{ Dikisahkan pada film Mahadewa
adalah Shiwa, Tuhan yang berpribadi sebagai Yogin/pertapa, sehingga seolah-olah seperti manusia. 

Hal ini bertentangan dengan konsep Ketuhanan dalam islam bahwa Allah tidak sama dengan manusia:

“Tidak ada yang menyerupainya sesuatu pun, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (As Syuro 110) }

(Coba kita kaji seksama kalimat di atas, di cerita mitology itu siva "Seolah - olah seperti manusia", Dalam hal kecil seperti ini beliau tidak mengerti, "seolah olah" itu bukan berarti Tuhan itu Manusia. Dalam hindu Tuhan itu memang tiada makhluk yang menyerupainya. TETAPI bagi Tuhan "Tiada Makhluk yang tidak bisa Tuhan serupai" dengan kata lain, semua perwujudan yang tiada batasnya itu sejatinya adalah dia.
Perhatikan :

Bhagavad gita 10.40
Wahai penakluk musuh yang agung ( Arjuna ), perwujudan - perwujudan rohani-ku (Tuhan) tidak ada batasannya. Apa yang telah kusabdakan kepadamu hanya sekedar petunjuk saja tentang kehebatan rohani-ku (Tuhan) yang tidak terhingga.

Pewujudan Tuhan bukan berarti Tuhan utuh bulat-bulat mewujud. Perwujudan Tuhan berarti ada sedikit kekuatan-Nya yang mewujud. Kekuatan-Nya ini bisa digapai oleh beberapa pribadi makhluk yang memiliki tingkat kesucian bathin. Sehingga makhluk-makhluk itu lantas bisa disebut sebagai perwujudan Tuhan. Namun kalau mau dikaji lebih dalam, semesta ini bahkan seluruh makhluk yang ada didalamnya adalah perwujudan Tuhan. Bagaimana mungkin keberadaan semesta dan makhluk menjadi ada jika bukan dari Tuhan? Adakah sesuatu selain Tuhan sebagai cikal bakal semesta dan makhluk ini? Tidak ada. Semua bersumber dari Tuhan itu sendiri.

Hindu memiliki dua konsep ketuhanan yaitu berwujud dan tidak berwujud yang keduanya dibenarkan sebagai objek pemujaan, namun yang paling tinggi itu adalah adalah konsep Tuhan yang tanpa wujud.
perhatikan :
Bhagavad-gita 12. 5
Kesukaran pada orang yang pikiranya terpusat pada Yang Tak-termanifestasikan lebih besar, sebab Yang Tak-termanifestasikan sukar dicapai orang yang dikuasai oleh badan fisiknya [Panca Indra].

  Dalam Hindu sosok Tuhan adalah sosok yang berada diatas segala-galanya, sosok yang tidak terpengaruh oleh situasi ciptaannya, yang sangat berbeda dengan konsep keTuhanan dari agama Abrahamik yang memperlihatkan sosok Tuhan begitu terpengaruh, bahkan tenggelam dalam situasi yang dialami ciptaaannya dalam segala penggambaran dari kemurkaan Tuhan akibat dari tidak diturutinya konsep penyembahan tertentu. Dimana dalam agama Hindu menyatakan bahwa pada dasarnya Tuhan memiliki beberapa eksistensi yaitu:

         1) Paranàma
           Tuhan dalam wujud energi yang tidak tampak. Tidak berwujud". Beliau hanya merupakan sinar yang tanpa bentuk. Dalam istilah lain Tuhan seperti ini juga disebut Nirguna Brahman. Nir, berarti' tidak', Nirguna, berarti tidak memiliki sifat Triguna (Sifat Triguna itu adalah sifat: Satwika, Rajasika dan Tamasika', bebas dari sifat-sifat apa pun.). Brahman yang seperti ini juga disebut Nirkara yang artinya ' tidak berbentuk.

         2) Wyuhanàma
            Tuhan hanya dapat dilihat oleh Para Dewa, terbaring di atas lautan yang berada di atas Nagasesa. Tuhan yang seperti ini oleh Umat Hindu di Bali disebut Hana Tan Hana yang artinya,' Ada tetapi Tidak Ada'. Maksud dari ungkapan itu adalah bahwa Tuhan diyakini ada, tetapi tidak berbentuk dan sangat jarang atau hampir tidak pernah dilihat, sehingga disebut Hana tan Hana.

         3) Wibhawanaama
Tuhan yang disebut Wibhawanaama adalah Tuhan yang berbentuk. Dalam istilah lain Tuhan yang seperti ini juga disebut Sakara Brahman atau Saguna Brahman. Artinya Tuhan berwujud dan sekaligus mempunyai sifat atau guna. Tuhan memiliki bentuk agar para mahluk hidup dapat berhubungan dan dekat secara fisik dan emosional sehingga ini dapat meningkatkan kualitas dari nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual umat manusia

         4) Antaraatmanaama
Tuhan berbentuk seperti yang ditempatinya atau Tuhan meresapi seluruh ciptaan-Nya. Tidak ada segala sesuatu yang tidak berisi resapan Tuhan. Secara ilmiah dapat dikatakan bahwa Tuhan dalam wujud yang paling kecil adalah atom yang di dalam bahasa Sanskerta disebut anu. Anu ini dibedakan menjadi dua bagian yakni Danabhaga dan Vibhaga dalam istilah modern Danabhaga adalah unsur molekul yang mengandung muatan positif dan Vibhaga adalah unsur negatif. Molekul yang mengandung muatan unsur positif inilah disebut proton dan unsur muatan yang negatif disebut elektron (Vibhaga). Unsur Danabhaga (positif) senantiasa, tidak pernah berhenti mengejar unsur yang bermuatan Vibhaga (negatif). Bentuk pengejarannya itu berbentuk clips. 

Di dalam istilah modern muatan positif atau proton senantiasa mengejar yang bermuatan negatif (elektron). Di dalam kehidupan para Dewa, terutama Dewa Siwa yang disebut juga Siwa Nataraja, adalah Siwa yang menari. Dewa Siwa Nataraja ini menari yang melambangkan tarian jagat raya atau tarian kosmik. Tarian kosmik itu sebenarnya adalah gerakan universal jagat raya dalam wujud pengejaran Danabhaga mengejar Vibhaga yang berbentuk elips. )



4 )    -{ Dewa Syiwa memiliki 4 sakti/istri. 
Salah satunya adalah Dewi Sati, putri Dewa Daksa (Daksa adalah putra Dewa Brahma)

Dalam Film Mahadewa juga akan
diceritakan percintaan Dewa Shiwa, hingga lahirnya Ganesha dan Kartikeya (di Bali disebut Dewa Kumara, Dewanya para anak kecil).

Keyakinan adanya Tuhan yang beristri dan punya anak bertentangan dengan Firman Allah :

"Dia tidak beristri dan tidak beranak" (Qs 6:101)
"Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri" (Qs 6:101)
"Maha suci Allah dari yang mempunyai anak" (Qs 4:171) }

( Melihat komentar ini terhadap apa yang dia copas itu tidak konsisten... Kenapa ? Coba perhatikan antara ayat yang satu dengan ayat lain, ini saya yang salah liat, atau ustadnya yang salah copas, atau memang benar seperti itu adanya ? Yasudah, itu tidak penting.

   Dalam kisah mitology di atas di jelaskan bahwa dalam penggambaran Tuhan yang memiliki anak itu sebenarnya sebuah makna dari kesetiaan suami istri dengan meletakkan nama Tuhan yang berperan dalam ceritanya, hal ini sekaligus mengandung filosofi dari kebaikan Tuhan demi menghancurkan sifat iblis dari Daksa dengan mengorbankan istri beliau serta Siva yang Turun ke Bumi dan yang jelas kisah itu hanya kiasan, Bukan kejadian sebenarnya. Serta dari filosofi lainnya yang merupakan Sathi/Parwati adalah simbol kesaktian atau kekuatan batin bawah sadar dalam diri manusia. Sedangkan Siwa adalah simbol kebijaksanaan atau Kecerdasan Atas Sadar. Keduanya layak disatukan, karena kebijaksanaan tanpa kekuatan akan menjadi lumpuh, dan kekuatan tanpa kebijaksanaan akan membuat manusia mudah membabi-buta.
Tubuh manusia adalah simbol materi semesta. Sathi/Parwati adalah simbol kekuatan, kesaktian atau energi alam semesta. Dan Siwa adalah simbol Kecerdasan Semesta Tak Terbatas.

   Sathi/Parwati mengambil wujud manusia karena begitulah energi semesta melekat pada setiap unsur materi semesta. Ketika ketiga unsur semesta itu menyatu; Materi, Energi dan Kecerdasan Semesta Tak Terbatas, maka dari situ barulah bisa lahir kehidupan. Karena saat tubuh materi mahluk hidup telah bergabung dengan kekuatan atau energi (Sathi/Parwati), lalu diberi Jiwa (Siwa), disitulah kehidupan dimulai.

    Dalam hindu Tuhan tidaklah mempunyai istri atau anak, melainkan semua yang di ciptakan Tuhan adalah anak Tuhan, dan sejatinya semua makhluk hidup adalah Tuhan yang memiliki kehendak terbatas dengan memiliki kepribadian masing-masing sesuai tingkat spritual masing-masing. Akan tetapi semua tidak sadar karena terbelenggu oleh Avidya (ketidak Tahuan/Kebodohan) dan ke egoan.

Apakah benar konsep Veda menyatakan bahwa Tuhan beranak?

Untuk menjawab permasalahan ini, kita tidak bisa lepas dari konsep badan. Apakah kita adalah badan material ini ataukah sesuatu di balik badan ini? Kepercayaan agama-agama rumpun Semitik/Abrahamik yang mencap diri sebagai agama Langit, umumnya tidak bisa membedakan konsep badan dan diri kita yang sejati ini. Dalam sebuah diskusi dengan seorang rekan Kristen dan Islam, saya mendapat kesimpulan bahwa menurut mereka kita ini adalah badan ini ditambah dengan Ruh/jiwa yang ditiupkan oleh-Nya sehingga memungkinkan badan yang diciptakan dari tanah lihat oleh Tuhan ini bisa hidup.
 Tentunya faham ini sangat jauh berbeda dengan konsep ajaran Hindu yang menyatakan bahwa kita ini bukan badan material. Kita adalah sang Jiva/roh yang kekal abadi.

Veda menyatakan bahwa sang roh memiliki sifat-sifat yaitu; tak termusnahkan (avinasi), abadi (avyayam), kekal (nityam), tak terhancurkan (ana-sinah), tak terukur secara material (aprameyam), tak terlahirkan (ajah) permanen (sasvatah), ada sejak dahulu kala (puranah), tak terlukai senjata apapun (na cindanti çastrani), tak terbakar oleh api (na dahati pavakah), tak terbasahi oleh air (na kledayanti apah), tak terkeringkan oleh angin (na sosayati marutah), tidak bisa dipotong-potong/dipecah-pecah (acedyah), tidak bisa dibakar (adahyah), tidak larut kedalam air (akledyah), tidak terkeringkan (asosyah), bisa berada dimana (sarva-gatah), tidak pernah berobah (sthanuh), tak tergerakkan (acalah), selamanya sama (sanatanah),tak berwujud material (avyaktah) tak terpahami secara material (acintyah), tidak pernah berubah (avikaryah) dan tak bisa dibunuh (avadyah) (Bhagavad Gita 2.17-25). Dikatakan pula bahwa sang roh selamanya merupakan individu spiritual kekal abadi baik ketika berada di dunia fana maupun ketika berada di dunia rohani
perhatikan

Bhagavad Gita 2.12
Pada masa lampau tidak pernah ada sesuatu saat pun aku, engkau maupun semua raja ini tidak ada; dan pada masa yang akan datang tidak satupun di antara kita semua akan lenyap.

Bhagavad Gita 2.16
Orang yang sudah melihat kebenaran sudah menarik kesimpulan bahwa apa yang tidak ada [Badan fisik] tidak tahan lama dan yang kekal [sang roh] tidak berubah. Inilah kesimpulan mereka setelah mempelajari sifat kedua - duanya.

sehingga dengan demikian pada dasarnya kita sebagai roh tidak pernah beranak, malainkan yang beranak dan berkembang biak itu adalah badan kita ini. Pada saat badan material ini melakukan hubungan badan dan terjadi pembuahan, maka roh individu yang berbeda dari roh individu yang berada dalam badan material sang ayah dan sang ibu akan masuk ke dalam janin tersebut dan tumbuh menjadi individu yang terpisah dari kedua orang tuanya (perhatikan Bhagavata Purana 3.31.2- 4 dan 10). Secara fisik material antara anak dan orang tua ini memiliki hubungan yang erat. Sang anak mewarisi genetik dan ikatan kekerabatan, namun jika dipandang dari kedudukan dasar kita sebagai roh yang individu, maka pada dasarnya diri kita tidak ada hubungan apa-apa dengan kedua orang tua kita kecuali dalam kemiripan hasil perbuatan berdasarkan hukum karma yang membuat kita dipertemukan dalam satu keluarga yang sama.

Tuhan sebagai Roh yang utama dan absolut juga memiliki kualitas yang serupa dengan karakter roh mahluk hidup sebagaimana sudah dikutip di atas, namun berbeda secara kuantitas. Tuhan Yang Maha Esa memiliki kehebatan dan kekuasaan yang tidak terbatas, namun sang roh tidak (Acintya Bhedaabheda tattva).
Sang roh tetap hanya merupakan pelayan abadi dari Tuhan, jivera svarupa haya krsna nitya dasa, (CC Madhya-Lila 20.108). 

Ekale isvara krsna ara saba bhrtya, pengendali hanya satu yaitu Tuhan, semua yang lain adalah para pelayan-Nya (CC Adi-Lila 5.142).
 Melihat sifat-sifat Tuhan yang serupa dengan sifat-sifat sang roh, bukankah Tuhan juga sebenarnya tidak beranak? 


5)   -{ Dewa Daksa pada film Mahadewa digambarkan sebagai Dewa pencipta yang arogan terhadap Shiwa, sehingga Shiwa akan memenggalnya dan diganti dengan kepala Kambing.

Kita bisa lihat tuhan-tuhan dalam agama hindu saling berselisih dan berperang saling membinasakan, sungguh benarlah firman Allah :

”Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan- tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa,” (Al-Anbiya’: 22)

”Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta- .Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing- masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” (Al-Mu’minun : 91)

Saya (Penulis) punya hubungan emosi yang khusus pada Dewa Syiwa ini, dewa syiwa pernah mendatangi saya dalam meditasi dan saya sudah disesatkannya. Dewa syiwa ini bukan Tuhan melainkan Jin yang memang memiliki kesaktian yang tinggi yang bertugas menyesatkan manusia.  }

( Sudah di duga bahwa beliau tidak mengerti apa² terhadap apa yang dia copas dari blog sebelah, dan tidak mengetahui sama sekali hakikat kebenaran sejati dalam konsep Ketuhanan Hindu beserta Dewa dewinya. Sungguh sayang sekali ya, title yang namanya ustad itu sama sekali tidak menjamin dan tidak sesuai dari fikiran, ucapan dan perbuatannya, sungguh memalukan. 

Saya tambahkan sedikit lagi.
Dalam hindu, dewa dan dewi berbeda dengan Tuhan, Dewa dan Dewi bukan lah Tuhan, tapi sejatinya Tuhan adalah Dewa Dewi itu sendiri. Dewa Dewi itu berbeda dari sifat Tuhan, tapi Tuhan sama dengan Dewa Dewi dan memiliki semua apa yang dewa dewi miliki. Kita ambil contoh gampangnya sajah, dari pembahasan sebelumnya di atas, saya menjelaskan bahwa Tuhan meresapi semua yang ada, termasuk dalam diri manusia, sejatinya manusia adalah Tuhan, tapi Tuhan dalam kehendak terbatas, begitu juga Dewa Dewi yang merupakan bagian dari Tuhan dan diberikan kekuatan dari Tuhan untuk menjalankan Tugasnya itu yang jika di ibaratkan seperti tangan Tuhan. 

Dewa berasal dari kata "Div" yang artinya sinar suci, jika di simpulkan, dewa dewi merupakan Sinar suci dari Tuhan YME.

Mari kita tengok dan pelajari sekali lagi sloka demi sloka yang berkenaan dengan dewa dan Tuhan.

1.      Rg.Veda X. 129.6 
“Setelah diciptakan alam semesta dijadikanlah Dewa-dewa itu“
Dalam ayat ini dinyatakan bahwa dewa-dewa diciptakan setelah alam semesta material tercipta, berarti dewa adalah ciptaan Tuhan.

2.      Manawa Dharmasastra 1.22 
“Tuhan yang menciptakan tingkatan Dewa-Dewa yang memiliki sifat hidup dan sifat gerak“
Dalam sloka ini dikatakan Dewa adalah ciptaan Tuhan dan memiliki karakter yang sama dengan mahluk hidup, yaitu sifat hidup dan juga bergerak.

3.      Bagavad gita 9.23 
“Orang orang yang menyembah dewa-dewa dengan penuh keyakinan sesungguhnya hanya menyembahku, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang keliru, hai  putra Kunti“
Arti dari sloka itu adalah ketika para bhakta atau pemuja memuja para Dewa, mereka lupa bahwa mereka memuja yang satu, yaitu Tuhan YME. Akhirnya mereka bertengkar karena sifat ego dan saling menyalahkan satu sama lain. Inilah cara memuja para Dewa secara keliru.

    Denngan kata lain Dewa adalah mahluk ciptaan Tuhan yang mengemban misi-misi tertentu. Ada Dewa Indra yang menjaga Surga, Dewa Bayu yang menguasai angin, dewi Pertiwi yang menguasai Bumi dan sebagainya.
Dari sloka idi atas dapat kita simpulkan bahwa Tuhan dan dewa adalah berbeda dengan Tuhan, tetapi sejatinya semua ini adalah Tuhan. Jadi adakah sesuatu selain Tuhan sebagai alat dan bahan untuk mewujudkan semesta dan makhluk ini? Tidak ada. Semua bersumber dari Tuhan itu sendiri.
Serta itu semua adalah segelintir dari kemuliaan Tuhan yang tak terbatas itu.
Dari pembicaraan Teologi di atas, kita sudah dapat menyimpulkan bahwa Ustad tersebut dengan pengetahuan yang sangat rendahnya mengomentari dan menCap bahwa tayangan Film MahaDewa Syirik, bagaikan tong kosong nyaring bunyinya.

Sekian dari Ulasan saya mengenai Kesyirikan MahaDewa. jika ada salah kata dan kalimat yang menyinggung Mohon Maaf, karena jika ada api pasti ada asap. Sekian dan terimakasih
            Om santih santih santih Om



Follow us on Facebook

Translate