Apa perbedaan Tempat Ibadah dan Tempat Suci ?

PERBEDAAN TEMPAT IBADAH DAN TEMPAT SUCI
[ sebuah tempat dimana hadirnya Tuhan sebagai bentuk energi atau konsep agama ]
Tempat ibadah adalah hanya lambang agama yang belum tentu memiliki sifat kesucian, belum tentu mampu memberi mamfaat kesucian pada masyarakatnya. Tempat ibadah adalah hanya sebagai tempat yang mengarahkan manusia untuk berkumpul dan membahas kesucian untuk mampu memahami konsep ketuhanan. Bagi agama Tuhan itu adalah konsep, dan terkadang Tuhan itu dianggap sosok pribadi, agama belum mampu menjadikan Tuhan itu adalah kesadaran kesucian itu sehingga agama belum mampu mengantar manusia pada kesucian itu sendiri yang teraplikasi pada kehidupan harmonis, moral yang tinggi serta menjaga alam semesta seperti yang diwajibkan Tuhan.

Bagi sebagian besar masyarakat agama pasar (maksudnya agama pada umumnya) menyatakan bahwa tempat ibadah itu adalah tempat suci dan tempat menemukan Tuhan sebagai bentuk pribadi. Tempat ibadah adalah tempat eksklusif yang menjadikan manusia itu memiliki nilai keTuhanan yang matang serta mendatangi tempat ibadah adalah simbul dari perilaku keagamaan yang tinggi diantara masyarakat biasa.

Bagi mereka yang memiliki kesadaran Tuhan sebagai bentuk pengetahuan tertinggi yang ditempatkan pada kesadaran yang tertinggi pula, maka tempat suci itu tidak mesti menunjuk pada tempat ibadah atau tempat yang terdapat simbul agama. Tempat ibadah itu menjadi tempat suci ketika masyarakat yang hadir ditempat ibadah itu melakukan kontemplasi bathin pada kesadaran Tuhan. Pertemuan antara tempat ibadah dengan kesadaran pada Tuhan inilah yang sempurna dan akan memberi manfaat kesucian pada seluruh masyarakat yang berada pada tempat ibadah saat itu.

Tempat suci bagi mereka yang memiliki kesadaran tertinggi dan prinsip moralitas yang utama adalah seluruh tempat diatas dunia ini. Karena mereka yang berkesadaran itulah yang menyucikan tempat itu, karena dimanapun mereka yang berkesadaran dan memiliki prinsip moral yang tinggi akan selalu mampu menghadirkan kuasa Tuhan secara nyata pada setiap aplikasi hidupnya. Penderitaan dan kenestapaan masyarakat akan hilang secara perlahan ketika tempat mereka itu diwujudkan menjadi tempat suci oleh manusia yang berkesadaran Tuhan. Maka dimanapun mereka berada tempat itu akan menjadi suci. Dengan kata lain Tuhan tidak hanya bersemayam/tinggal ditempat-tempat yang kita anggap suci, tapi Tuhan akan hadir ketika kita sudah memiliki kesadaran tinggi serta prinsip moralitas bagi tubuhnya, karena tubuh manusialah Rumah Sucinya.
Oleh Ki Dukuh

MENGENAL KIBLAT DALAM BERSPIRITUAL

MENGENAL KIBLAT DALAM BERSPIRITUAL
ARAH TIMUR ADALAH KIBLAT KAHURIPAN [ SIWA ]
ARAH BARAT ADALAH KIBLAT KASUNYATAAN [ MOKSHA-NIRVANA ]
TENGAH/DIRI ADALAH KIBLAT BUDDHI [ BUDDHA ]

Memahami kiblat diri/ bathin adalah mutlak karena kiblat lainnya adalah kelanjutan dalam proses kehidupan yang dinamis dan holistik. Diri atau Tengah adalah awal dan akhir dari perjalanan proses spiritual, kenapa dinamakan awal dan akhir karena berawal dari dalam diri, juga akan berakhir didalam diri.Proses kehidupan alam materi ini adalah merupakan kuasa ruang dan waktu kehidupan itu sendiri. Kuasa ini meliputi kehidupan dan kematian sel hidup tersebut, begitupun mengenai kehidupan zat pelengkap sel yakni unsur air, unsur plasma, unsur udara, unsur panas termasuk sisa pembakaran yang dibuang oleh pertumbuhan sel tersebut.Namun gelap bukan berarti akhir dari perjalanan proses kehidupan, sejatining urip sesungguhnya tidak menganal kematian dan kehidupan, sejatining urip adalah zat yang kekal dan abadi, dialah hidup sejati itu. Gelap identik dengan terhentinya kehidupan alam materi, maka saat gelap inilah sesungguhnya mulainya kehidupan sejati urip atau roh / spirit itu. Bagaimana mengenali sejati/urip/roh tersebut ada didalam diri manusia. Sekali lagi disinilah fungsi mengenal kiblat tengah itu yakni sang diri/buddhi/bathin. Mengenal kiblat diri atau tengah menunjuk pada ada sinar atau cahaya yang berkilauan pada dasar hati, dimana cahaya itu berasal dari kontemplasi bathin yang telah bangkit. Cahaya inilah menurut kitab teologi timur dinamakan BUDDHA [ kabuddhaan ]


Memahami ada dimana, sedang apa, dengan siapa dan bagaimana langkah selanjutnya adalah sikap yang mengarah pada tengah/diri yang merupakan kiblat buddhi atau bathin. Kiblat ini yang sesungguhnya merupakan proses panjang dan memerlukan tenaga dan pikiran yang agak matang karena kiblat ini merupakan dasar dari arah atau kiblat selanjutnya.
Banyak masyarakat yang mengabaikan kiblat ini, buru buru mengarah pada kiblat yang lainnya, disinilah mereka terjebak dengan hal yang paling terpuruk sepanjang proses kehidupan spiritual maupun kehidupan lainnya. 
Cara terbaik dari mengenal kiblat diri atau tengah ini adalah dengan mengembangkan sikap peka terhadap kehidupan lain, peduli dengan kehidupan mereka, tumbuh rasa welas asih pada proses kehidupan mereka, rasa tolong menolong pada setiap tindakan kehidupan mereka. Yang terpenting adalah dengan cara tapa, brata, yoga dan samadhi sebagai inti pengetahuan semuanya. Menurut kitab teologi timur proses ini yang dinamakan sifat BUDDHA [ Gomo Buddhi Luhur ].
Kiblat kahuripan ada di arah timur [ matahari terbit ], kenapa dinamakan demikian karena segala sesuatu yang berkenaan dengan hidup/urip alam materi pasti memerlukan sinar matahari sebagai asupan bahan bakar proses kehidupan yang bersumber dari sari-sari makanan yang ada dialam semesta.
Memahami kiblat kahuripan sebelumnya harus mengerti tentang pertumbuhan, apa itu pertumbuhan adalah perkembangbiakan. Berkembang baik adalah hasil perkawinan atau pertemuan dua buah unsur yakni unsur energi feminime dan maskulin yang memiliki kutub yang berbeda. Dimana posisi kedua energi tersebut adalah berlawanan. Mempertemukan kedua buah energi ini adalah dengan cara menghidupkan jiwanya, menumbuhkan rasa yang saling tertarik. Munculah persepsi kasmaran diantara keduanya, kemudian persepsi asmara keduanya memicu terjadi percumbuan energi. Ruang percumbuan ini dilakukan pada rasa hening, sinar remang-remang, penuh suasana kasemaran dengan alunan kidung semarandhana. Hasil dari percumbuan inilah yang akan melahirkan sel kehidupan yang sempurna yang akan menjadi zat inti kehidupan itu yang dinamakan sel kehidupan.
Didalam kitab teologi timur inilah hang dinamakan SIWA, pengetahuan tentang kehidupan dan proses dinamisasi kehidupannya yang memiliki sifat pengetahuan tamasika.
Kiblat Barat adalah kiblat kasunyataan [ arah matahari tenggelam ], kenapa dinamakan demikian karena gelap adalah akhir dari tenggelamnya matahari, gelap adalah lambang tidak adanya pertumbuhan sel kehidupan, bahkan gelap adalah pertanda genderang kematian alam materi.
Kasunyataan adalah proses menghubungkan urip/roh/spirit kepada inti urip yang dinamakan sejatining urip [ istilah kedjawen adalah GUSTI ]. Keterhubungan antara urip/roh/spirit dengan gusti maka lahirlah energi yang berupa rasa dan persepsi yang sangat supra yakni wujud suci, shakti dan wisesa. Rasa dan persepsi suci, shakti dan wisesa ini akan menimbulkan kepercayaan diri yang sangat kuat pada sel hidup alam materi pada kiblat kahuripan.
Hidup yang penuh percaya diri akan menjadikan kesempurnaan dalam proses kehidupan apapun, kesempurnaan ini akan ,menghasilkan mamfaat hidup yang layak bahkan bisa digunakan untuk membantu kehidupan lainnya dialam semesta. Mamfaat lainnya adalah berupa kemahardikaan hidup, menurut kitab teologi timur ini dinamakan nirvana-moksa semasih berkehidupan dialam semesta.
Inilah yang menjadi tujuan seluruh manusia yang hidup didunia ini yang sering disebut dengan istilah sukses dan bahagia. Hanya dengan memiliki rahasia pengetahuan kiblat ini manusia akan mampu melangkah dan berjalan dengan efisien waktu, tepat prinsip hukum karma dan terarah pada singasana tuhan yang benar.
Oleh Ki Duku Krena Dwajaya

Renungan diri Tatwam Asi

Renungan Diri TAT TWAM ASI (तत् त्वम् असि)

“Sebuah Sadhana Maha Welas Asih”
Mahavakya (Slogan dharma yang agung) yang sangat terkenal dari buku suci Chandogya Upanishad yaitu “Tat Twam Asi”. Arti sebenarnya dari Tat Twam Asi dalam bahasa sansekerta adalah “ENGKAU ADALAH ITU".

“ITU” menunjuk pada Sang Hyang Widhi, Sang Sumber Semesta, sesuatu yang tak tergambarkan, melampaui segalanya, senantiasa murni, kebahagiaan sejati, asal dan tujuan segala makhluk dan tentunya NETI-NETI (bukan ini, bukan itu) alias tak ada definisi yang tepat untuk menggambarkan, menguraikan, dan menjelaskan-Nya.

Sejatinya segala yang ada dan mewujud hanyalah Sang Sumber Semesta.

Semua pergerakan dan kejadian (penciptaan, pemeliharaan, hingga peleburan semesta) adalah tarian kosmis keESAan-Nya.

Apa yang sebenarnya ingin disampaikan dalam mahavakya ini adalah mengenai Moksha, mengenai kemanunggalan kosmik antara Atman dengan Brahman atau Ruh dengan Ruh Agung Semesta.

Tapi bagi sebagian besar masyarakat, umumnya ajaran tentang kemanunggalan kosmik sangat sulit dimengerti. Hal ini wajar karena ajaran ini sangat dalam.

Kemanunggalan kosmik hanya bisa dimengerti melalui pengalaman langsung (Pratyaksa pramana), melalui ketekunan praktek sadhana dan meditasi selama bertahun-tahun. Tidak melalui bacaan atau mendengar ajaran, tapi secara langsung mengarah sangat dalam kepada pikiran-perasaan, ego dan kesadaran diri sendiri.

Sehingga bagi masyarakat luas agar bisa mengerti, tatarannya perlu diturunkan dari kesadaran kemanunggalan kosmik menjadi kesadaran keterhubungan kosmik.

Sehingga Tat Twam Asi kemudian juga diterjemahkan sebagai “KAMU (Semua makhluk, seluruh keberadaan, dan segala hal) ADALAH AKU, AKU ADALAH KAMU (Semua makhluk, seluruh keberadaan, dan segala hal)”.
Sakitmu adalah sakitku, bahagiamu adalah bahagiaku juga.

Karena memang semua adalah pancaran wujud tunggal Sang Sumber Semesta.

Dan semua adalah satu kesatuan dalam wujud tunggal Nya.
Maka akar segala kesadaran jiwa adalah keterhubungan dan kemanunggalan segala keberadaan.

Di dalam Upanishad tertulis sebuah sloka “ketika aku melupakan diriku, aku melayanimu. Dengan melayanimu aku menemukan kembali bahwa Aku Adalah Kamu".

Sloka dalam Upanishad ini bermakna bahwa kita jiwa-jiwa yang tersesat dapat menemukan kembali hakikat sejati sang diri di dalam ketekunan melakukan kebaikan. Dalam jiwa dengan limpahan welas asih dan kebaikan, ke-aku-an (ahamkara) lenyap dan membukakan pintu kesadaran yang baru : “Aku Adalah Kamu”.

Juga inilah bukti nyata keterhubungan kosmik kita, “Setiap kali menghirup napas, kita menghirup 10 pangkat 22 atom dari alam semesta. Sejumlah atom tersebut masuk ke tubuh kita menjadi sel-sel otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Setiap kali kita menghembuskan napas, kita mengeluarkan atom 10 pangkat 22 yang terdiri dari kepingan otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Secara teknis, kita mempertukarkan organ tubuh kita dengan organ tubuh orang lain, dengan orang yang pernah hidup, bahkan dengan semua makhluk, semua zat, yang pernah hidup. Berdasarkan perhitungan isotop-isotop radio aktif, tubuh kita memiliki jutaan atom yang pernah singgah di tubuh orang-orang suci dan orang-orang genius. Dalam waktu kurang dari 1 tahun, 98% dari semua atom dalam tubuh kita telah berganti secara total”.

Jadi, "atom milikku pernah menjadi atom milikmu" dan "atom milikmu pernah menjadi atom milikku".

Atom-atom terdiri dari partikel-partikel, partikel adalah fluktuasi dari energi. Segala-galanya di bumi ini sejatinya adalah energi. Hakekatnya kita semua adalah satu.

Keharmonisan dengan sesama makhluk akan membawa keseimbangan alam semesta, sebaliknya permusuhan dengan sesama makhluk akan membawa kehancuran alam semesta.
Karena hukum semesta sebab akibat begitu nyata sebagai manifestasi keadilan-Nya.

Jika kita menyakiti apalagi membunuh sesama makhluk, termasuk menyembelih makhluk-makhluk lemah seperti binatang, maka pasti pantulan kesakitan dan penderitaan yang sama akan kembali pada diri kita, selain itu hanya akan mematikan benih welas asih agung.

Jika kita mengembangkan kasih universal dengan mengasihi semua makhluk maka pantulan kasih semesta dan kebahagiaan yang akan kembali pada diri kita, selain itu akan mengikis kekotoran-kekotoran bathin dan membangkitkan bodhicitta.

Doktrin welas asih Tat Twam Asi memotivasi pancaran kasih universal, tidak hanya terbatas pada kesamaan agama dan bangsa atau umat manusia. Kasih sayang yang terbatas bukanlah Tat Twam Asi.

Pun mengasihi bukan saja makhluk yang kasat mata (sekala) seperti manusia, hewan, dan tumbuhan melainkan juga makhluk yang tak kasat mata (niskala), semena-mena dan menyengsarakan makhluk niskala (semisal dengan mengurung dalam botol), pastilah suatu saat pantulan kesengsaraan yang sama akan kita terima.

Sejatinya seluruh makhluk sekala dan niskala adalah “saudara seasuhan” dari Bunda Alam Semesta dan lebih dari itu adalah “Saudara Kandung dalam kandungan tunggal illahi, Hyang Maha Meliputi Segalanya".

Maka dari itu makhluk-makhluk lemah seperi binatang adalah adik kandung sendiri, dengan menyembelihnya akan benar-benar mematikan benih welas asih agung.

Kita berbeda dalam tataran rupa, fisik, dan sukma tapi kita adalah tunggal dalam tataran Ruh, Ruh Esa yang berasal dari pancaran Ruh Agung Sang Sumber Semesta.

Dan dalam tataran jasad material pun sebenarnya kita juga bersaudara dengan semua makhluk dan alam semesta, Sains membuktikan genome dan DNA manusia sama dengan genome dan DNA mahluk hidup lainnya di bumi, hal itu jelas menunjukan kita semua berkerabat dengan pohon, rumput, burung, ikan, anjing, babi, lumba-lumba, paus, harimau, singa, onta, gajah, dan tentunya berkerabat dekat dengan simpanse atau orang utan.

Sedangkan bukti kita bersaudara dengan alam semesta, adalah unsur asal pembentuk tubuh kita dengan unsur awal pembentuk bumi, matahari, bulan, serta semua planet di alam semesta adalah sama dan terbentuk milyaran tahun yang lalu di perapian yang berasal dari keruntuhan sebuah bintang. Kita semua terbuat dari materi bintang.

Pada akhirnya perbedaan galaksi, planet, alam, rupa, serta wujud fisik tak mampu merubah dan mengingkari kenyataan persaudaraan kita. Apalagi perbedaan-perbedaan lahiriah sepele seperti perbedaan gender, orientasi seksual, suku, agama, keyakinan, sesembahan, komunitas perguruan, dan lain sebagainya tak akan bisa menyekat dan merubah status hakiki kita sebagai saudara.

Pemahaman Tat Twam Asi sejalan dengan Sains dalam memandang sesama makhluk di alam semesta, yaitu kerendahan hati mengakui bahwa kasta kita setara dengan makhluk-makhluk lainnya, kita bukanlah pemimpin dari makhluk-makhluk lainnya dan kita tentunya juga bukan makhluk yang paling sempurna, senyatanya alam semesta maha luas dengan banyaknya galaksi yang di dalamnya ada bermilyar-milyar matahari dan bumi kita hanyalah satu titik kecil yang terdapat pada suatu galaksi yang diberi nama Bimasakti.
Akan sangat mubazir manakala kehidupan dan makhluk paling sempurna hanya ada di bumi.
Merasa spesial dan paling sempurna hingga merasa diberi titah oleh Hyang Maha Kuasa menjadi pemimpin makhluk-makhluk lainnya, tidak lain hanyalah kesombongan dan delusi manusia semata.

Pertanda seseorang sudah mencapai tingkat kesadaran keterhubungan kosmik Tat Twam Asi adalah manakala sudah bisa mengasihi sesama penghuni semesta melebihi mengasihi diri sendiri.

Seperti sumpah agung Bodhisattwa yang memilih tinggal di neraka dan tak mau memasuki kebahagiaan Nirwana, sebelum berhasil menyebrangkan semua makhluk menderita di neraka menuju Nirwana.

Karena senyatanya praktik Tat Twam Asi adalah sadhana tertinggi melebihi sadhana pencapaian Nirwana itu sendiri.

Tat Twam Asi adalah tekad agung maha welas asih yang dimiliki para Buddha dan Bodhisattwa.

Tat Twam Asi adalah ruh kehidupan para Buddha dan Bodhisattwa itu sendiri, mereka yang senantiasa berusaha membebaskan semua makhluk dari dukkha dan selalu berharap semua makhluk di seluruh penjuru semesta berbahagia.

Jika Reshi Gotama mengungkapkan “Tat Twam Asi”, yang berarti "Itu adalah kau" atau "aku adalah kamu, kamu adalah aku".

Maka Buddha Gotama mengungkapkan “Anatman”, yang berarti “Tiada Aku”.

Sebenarnya pernyataan "Aku" dalam Tat Twam Asi ini berimplikasi pada “Tiada Aku”/Anatman. Si Aku hanya dapat menyatakan ke-aku-annya apabila ada pihak lain (Kamu,Itu). Tetapi Tat Twam Asi menyatakan Aku tak lain adalah Kamu, maka kepada siapa kah Si Aku dapat menyatakan ke akuannya??? Tidak ada kan? karena tidak dapat menyatakan keakuannya, maka sebenarnya tidak ada yang disebut "Aku".

Orang yang merealisasikan Tat Twam Asi otomatis akan menembus ANATMAN, yang di dalam kesadarannya tidak lagi punya aku, diri atau ego, tidak lagi menganggap dirinya punya roh individual yang terpisah dari makhluk lain.

Pada akhirnya ungkapan “Itu adalah Kau" atau "Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku” hanya ternyatakan di tatar pikiran. Di saat ego atau pikiran berhenti, padam, nirwana, atau moksha tidak ada lagi yang disebut “Itu”, “Kau”, “Aku”, maupun “Kamu”, hanya ketunggalan saja yang ada.

~ Hakikat ajaran Sang Reshi Gotama dan ajaran Sang Buddha Gotama adalah satu adanya ~

Mengenal Tat Twam Asi atau Sira Iku Ingsun (Kamu adalah Aku)

TAT TWAM ASI (तत् त्वम् असि)

Tatwam Asi merupakan filsafat kuno yang menegaskan bahwa manusia bukanlah suatu individu, melainkan suatu kesatuan dari alam semesta yang mewujud menjadi sekarang ini. 

Dalam suatu cerita dari timur, ada pemuda yang sangat pandai di berbagai bidang ilmu pengetahuan, namanya Svetaketu.
Dalam usia yang tergolong masih muda, Svetaketu telah menguasai berbagai cabang ilmu. Ia baru berusia 24 tahun, namun para cendekiawan dan sarjana senior yang jauh lebih tua mengakui penguasaannya. Sayangnya, bersama pengetahuan datang pula keangkuhan.

Resi Gotama, Ayah Svetaketu melihat kesia-siaan putranya. Suatu hari ia memanggil anaknya dan berkata, "Shvetaketu, berbagai cabang ilmu telah kau kuasai, tetapi apakah kau bisa mendengar Ia yang tak terdengar? Merasakan Ia yang melampaui segala macam rasa? Dan, mengetahui Ia yang berada di atas segala macam pengetahuan? Apakah ilmu itu pun telah kau kuasai?"


Svetaketu bingung, setelah membisu sebentar ia menjawab, "Adakah ilmu semacam itu?"

"Ada, dan kau dapat menguasainya" jawab sang ayah.

"Bagaimana, Ayah? Tolong ajarkan kepadaku." Svetaketu baru menyadari kegagapannya. Ternyata masih ada ilmu yang belum dikuasainya. Ilmu yang jauh lebih penting daripada segala macam cabang ilmu yang pernah dipelajarinya.

Resi Gotama menjelaskan, "Tanah liat di seluruh dunia berada di luar jangkauanmu. Namun, segumpal tanah liat berada dalam jangkauanmu. Dengan mengetahui sifat segumpal itu, kau dapat mengetahui sifat tanah secara keseluruhan, secara utuh. Dengan mempelajari sifat benda-benda yang berada dalam jangkauanmu, kau dapat mempelajari sifat Yang Tak Terjangkau!"

"Aku masih bingung, ayah," tanggap Svetaketu jujur.

"Tanah liat itu digunakan untuk membuat berbagai macam peralatan, bahkan mainan, patung, dan lain sebagainya. Bentuk peralatan dan benda-benda itu memang beda, tetapi intinya satu dan sama, tanah liat. Nama dan sebutan yang kita berikan pada setiap benda beda, namun perbedaan itu pun tidak mempengaruhi inti setiap benda. Walau berbeda bentuk, wujud atau rupa, maupun nama atau sebutannya, bahan dasarnya masih tetap sama, tanah liat."

"Contoh lain, emas. Kita menggunakannya untuk membuat berbagai macam perhiasan. Setiap perhiasan beda bentuknya, beda pula sebutannya, namun bahan bakunya tetap satu dan sama. Beda rupa dan nama adalah pemberian manusia; buatan kita. Kita membentuk tanah liat dan emas sesuai dengan kebutuhan kita. Nama atau sebutan pun semata untuk mempermudah perkenalan rupa yang beda-beda itu."

Tak ada yang sulit dipahami. Svetaketu mengerti.

"Nama dan rupa berasal dari manusia. Bahan baku bersifat alami. Nama dan rupa berbeda dan dapat berubah. Bahan bakunya tetap sama, tidak ikut berubah."

"Saya baru paham, Ayah. Terima kasih. Tapi saya ingin tahu lebih banyak... lebih banyak tentang gumpalan tanah yang dapat kupelajari untuk mengetahui sifat tanah liat. Adakah kitab yang harus kubaca untuk itu?" Svetaketu masih tidak dapat memisahkan diri dari pengetahuan yang diperoleh dari buku, dari sumber-sumber di luar diri. Resi Gotama tersenyum, "Svetaketu, janganlah kau terjebak oleh lembaran kitab. Pengetahuan yang kau peroleh dari kitab hanyalah satu sisi dari Pengetahuan Sejati. Keseluruhannya hanya untuk menyadarkan dirimu bahwa masih ada yang jauh lebih tinggi, lebih mulia. Sesuatu yang tak tertuliskan, tak terjelaskan lewat kata-kata. Pengetahuan Sejati adalah Pengetahuan tentang Sifat yang Satu itu. Segala sesuatu dalam alam ini berasal dari Yang Satu Itu." Svetaketu mengangguk-angguk, dan ayahnya meneruskan, "Untuk memahaminya pelajarilah dirimu. Svetaketu, gumpalan tanah liat itu adalah dirimu. Tat Twam Asi __Itulah Kau. Dengan mempelajari diri yang berada dalam jangkauanmu, kau dapat mengetahui sifat dasar Yang Tak Terjangkau Itu!"

Resi Gotama menjelaskan lebih lanjut, "Awal mula, Keberadaan itulah Yang Ada.

"Walau ada yang berpendapat bahwa Ketiadaan itulah yang abadi, Ketiadaan itulah yang ada pada awalnya, tetapi mungkinkah Keberadaan berawal dari Ketiadaan?"

Tentunya tidak bisa, kecuali bila Ketiadaan itulah Keberadaan; kecuali, ketiadaan itulah "definisi kita" tentang Keberadaan; kemudian, Ketiadaan itulah Keberadaan "bagi kita". "Unsur unsur dasar dalam alam ini: tanah, air, api, angin, dan ruang kosong atau langit, semuanya berasal dari Keberadaan itu. Kita semua berasal dari Keberadaan itu. Dunia benda ini, segala yang terlihat maupun tak terlihat oleh mata, semuanya berasal dari Keberadaan. Dan, setiap kita tertidur(tertidur lelap tanpa mimpi) kita kembali menyatu dengan Keberadaan yang adalah Kebenaran Sejati dibalik segalanya, yang menjadi dasar bagi segalanya."

"Bila memang demikian," tanya Svetaketu, "kenapa kita tidak mengingatnya saat terjaga kembali? Kenapa kita tidak mengetahuinya? Kenapa kita masih merasakan perbedaan yang disebabkan oleh nama dan rupa yang berbeda-beda?"

Sang resi menjawab, "Madu terbuat dari sari sekian banyak bunga... bunga-bunga yang berbeda warna, bentuk, dan nama. Sari setiap bunga ada di dalam madu, namun mereka tidak bisa berkata lagi, `Aku sari bunga mawar' atau `Aku sari bunga melati'. Demikian juga dengan bunga-bunga lain. Dalam keadaan tidur lelap tanpa mimpi, bagaikan sari setiap bunga kita menyatu dengan Keberadaan. Saat itu, tidak ada lagi perbedaan antara jiwa yang menghuni badan manusia atau badan hewan."

"Saat terjaga, identitas badan kembali berperan. Identitas berdasarkan nama dan rupa kembali memisahkan manusia dari makhluk lain, bahkan seorang manusia dari manusia lain."

"Kita semua, tanpa kecuali, setiap saat keluar dari alam kesadaran murni Keberadaan dan memasukinya kembali, namun kita tidak menyadarinya. Persis seperti seorang pejalan kaki yang melewati jalan raya di mana terpendam harta karun di bawah tanah. Ia melintasi jalan itu, tetapi tidak menyadari keberadaan harta karun di bawahnya."

"Dan, seperti itu pula kesadaranmu, Shvetaketu. Khazanah, harta karun kesadaran murni ada di dalam dirimu. Selama ini kau tidak menyadarinya. Sesungguhnya, Shvetaketu, Tat Twam Asi__Itulah Kau!"






Falsafah Blangkon yang sesungguhnya.

Melihat foto profil saya di Facebook yang memajang gambar anak memakai blangkon, teman saya nyeletuk, "walau anakmu pakai blangkon yang penting tidak meniru falsafah blangkon". 

Sedikit bingung saya lalu tanya tentang falsafah blangkon menurut sobat saya itu. Dan dia menjawab ."Dari depan blangkon terlihat rapi tetapi di belakang ada mbendholnya (mondholan), persis dengan sikap beberapa orang Jawa yang pandai menyimpan maksud sebenarnya dari sebuah sikap yang menipu".

Saya tersenyum kecut mendengar jawaban itu. Memang banyak orang yang sudah menyampaikan falsafah blangkon, orang luar jogja, maupun orang jogja sendiri yang latah asal ngikut dengan filosofi keblinger itu. Kalau saya pribadi urusan jahat yang disimpan di hati dan hanya menampakkan hal baik di depan untuk menutupi akal bulusnya bukan hanya orang jawa saja. Ahhh... malah ethnosentris banget, bukan bermaksud membela budaya jawa loh..

Saya jadi ingat dengan tetangga saya, tukang sepatu yang dipanggil Pak Mondol, karena tiap hari selalu memakai iket blangkon. Dulu sebelum dia pergi dari kampung, beliau sempat bertutur tentang falsafah blangkon yang sesungguhnya. Falasafah blangkon ternyata jauh bertolak belakang dari yang diketahui kebanyakan orang, luar biasa!

Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas. 

Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Ada 2 jenis blangkon yaitu gaya Surakarta (Sala) dan gaya Yogyakarta. Blangkon gaya Surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya Yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.

Bagi orang jawa rambut, wajah ataupun kepala adalah mahkota. Dari sudut kepala segala model perwatakan dan gejala emosi dapat terbaca. Orang jaman dahulu biasa memanjangkan rambutnya. Meskipun memanjangkan rambut bukan berarti mereka akan membiarkan rambutnya tergerai urakan seperti dalam film-film. Rambut biasanya akan digelung/diikat dengan ikatan kain diatas kepala atau disisi belakang kepala. Ini bermakna bahwa orang tersebut mampu menata rambutnya dan tidak membiarkan tergerai awut-awutan adalah manusia yang mampu menata kepribadiannya. Mampu mengendalikan diri dengan mengikatnya erat-erat di belakang kepala.


Orang jawa jaman dahulu hanya akan membiarkan rambutnya tergerai hanya saat sedang di rumah dan saat akan berperang! Ya, saat sedang berada dalam sebuah kancah konflik yang berarti sengaja membiarkan seluruh emosinya keluar apa adanya. Dan perlu diketahui sebelum memasuki masa berkonflik mereka sudah melalui berbagai tahap pengendalian diri hingga konflik adalah jalan terakhir. Dan terpaksa rambut yang telah digelung rapi & diikat dengan iket blangkon harus terurai, mbendolnya hilang dong...

Jadi blangkon adalah sebuah wujud pengendalian diri dengan menampakkan bagian depan blangkon yang diikat rapi (diwiru dengan halus) lalu menahan gejolak emosi, dalam hal ini rambut sebagai lambang gejolak emosi, dengan mengikatnya di belakang kepala hingga berbentuk benjolan tadi. Meski hati panas tapi kepala harus dingin. Maka bila emosi sudah tak tertahankan dan meledak maka lelaki jawa harus mengurai mondolan di blangkonnya, membiarkan rambut panjangnya tergerai.

Hal inilah yang sering disalah pahami sebagai halus di depan tapi dongkol dibelakang untuk menyembunyikan niat busuknya. Sebagai orang jawa tulen sudah semestinya saya meluruskan kesalah pahaman itu. Sekali lagi etnis manapun berpotensi seperti itu. Falsafah blangkon di jaman sekarang tidak jauh berbeda dengan EQ Kecerdasan Emosi. Bila anda adalah orang jawa tapi tidak mampu mengendalikan emosi, nafsu, syahwat maka anda tidak berhak mengenakan iket blangkon di kepala...memalukan!
"NGLURUG TANPA BOLO, MENANG TANPO NGASORAKE"


Menjadi satu dengan Tuhan/Manunggaling Kawulo Gusti


     Semua umat Hindu, dari berbagai sekte, sepakat mengenai filsafat di atas. Tetapi kesempurnaan bersifat absolut, dan yang absolut tidak bisa mempunyai sifat, tidak bisa bersifat individual. Jadi bila suatu jiwa menjadi sempurna dan absolut, maka ia akan menjadi satu dengan Tuhan; ia akan menyadari Tuhan sebagai kesempurnaan dan kenyataan dari sifat dan eksistensinya sendiri, Eksistensi absolut, Pengetahuan absolut, dan Kebahagiaan absolut. Kita sering sekali membaca bahwa keadaan ini disebut sebagai kehilangan individualitas dan menjadi batu.

    Saya mengatakan, tidaklah demikian. Jika di ibaratkan ini dengan senyawa air tawar yang merupakan individualitas yang kecil dan bergerak kelaut yang sangat luas yang merupakan individualitas yang universal. Air tawar jika sudah menyatu dengan air laut maka seolah olah sudah menyatu dan menjadi air laut, padahal senyawa yang terdapat pada air tawar akan tetap sama dan tidak kehilangan individualitasnya. Karena itu, individualitas kecil yang penuh derita ini harus dihilangkan guna mencapai individualitas universal. Kematian akan sirna ketika saya menjadi satu dengan kehidupan, penderitaan akan berhenti ketika saya bersatu dengan kebahagiaan, dan semua kesalahan pupus ketika saya bersatu dengan pengetahuan itu sendiri. Inilah kesimpulan ilmiah yang amat penting. Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa tubuh saya adalah satu raga kecil yang selalu berubah di dalam lautan materi yang tak terputus. Karena itu diperlukan Advaita (Kesatuan) antara tubuh dengan mitra saya yaitu jiwa.

   Ilmu pengetahuan hanyalah sebuah upaya mencari kesatuan. Begitu ilmu mencapai kesatuan yang sempurna, ia akan berhenti berkembang ketika berhasil menemukan satu unsur yang bisa dijadikan bahan baku untuk semua benda lain. Fisika akan berhenti berkembang apabila sudah berhasil menemukan satu energi yang dapat memanifestasikan semua energi lain. Dan, ilmu agama akan menjadi sempurna apabila sudah menemukan ia yang merupakan satu-satunya kehidupan di dalam semesta kematian, ia yang konstan di dalam dunia yang selalau berubah, Ia satu-satunya Jiwa yang memanifestasikan semua jiwa lain. Artinya, persatuan terakhir dicapai melaui multiplisitas dan dualitas. Agama tidak bisa bergerak lebih maju lagi. Ini adalah tujuan dari semua Ilmu.

   Semua ilmu akan mencapai kesimpulan ini dalam jangka panjang. Manifestasi, bukan penciptaan, adalah kata kunci dalam ilmu dewasa ini. Orang Hindu senang bahwa sesuatu yang ia pelihara dalam pelukannya selama berabad-abad kini akan diajarkan dalam bahasa yang lebih jelas, berlandaskan temuan-temuan ilmiah yang mutakhir.

Beberapa Hal Yang Mungkin Anda Belum Tahu (Atau Lupa) Tentang Karma [bagian 2]

apa yang kita tabur itu yang kita tuai

Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma  bagian II adalah artikel lanjutan dari Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma bagian I, jadi jika anda belum membaca bagian satu saya sarankan anda untuk membacanya terlebih dahulu 

Hukum Karma atau Karma Pala adalah salah satu hukum yang mengatur keseimbangan alam ini. Umat Hindu dan Budha sangat terbiasa dengan hukum ini karena ini adalah salah satu landasan utama dari dua agama tersebut. Namun ternyata banyak yang belum memahaminya. Artikel ini dibuat sebagai pembelajaran bagi yang belum paham, dan pengingatan bagi yang lupa. Artikel ini bukan hanya diperuntukan bagi anda yang beragama Hindu dan Budha. Mengapa demikian akan saya jelaskan dibawah. 

Saya akan memulai membahas Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma bagian dua.

Keempat Karma pala bersifat universal. Bersifat universal disini berarti tidak hanya mengikat mereka yang memeluk agama tertentu. Hal ini bisa dijelaskan bila kita menganalogikan karma pala sebagai listrik. Listrik sudah mengalir di dunia ini sejak lama, dan walupun ada suatu peradaban yang menyatakan bahwa mereka tidak percaya listrik, mengaggap listrik itu tidak ada, mereka akan tetap matang bila tersambar petir. Sebenarnya Karma Pala diajarkan oleh semua ajaran dengan bahasa yang berbeda. Bagi beberapa ajaran karma pala lebih dikenal dengan dosa dan pahala atau konsep tabur tuai. 

Kelima Apa yang anda terima adalah buah dari karma anda. Ini adalah hal yang sangat sering Kita lupakan. Sering pada saat kita mendapat suatu perlakuan yang tidak enak dari orang lain, kitamulai menyalahkan. Menyalahkan orang yang memperlakukan kita secara tidak mengenakan, menyalahkan diri sendiri, bahkan menyalahkan Tuhan dan mengklaim bahwa Tuhan tidak adil. Ini menunjukan bahwa kita belum memahami Karma Pala. Padahal ketidakadilan ini adalah ketidak adilan yang adil. 

Mungkin kita tidak tahu apa yang sudah kita lakukan pada mereka yang memberikan perlakuan tidak enak pada kita. akan menjadi wajar bila mereka memperlakukan kita dengan buruk bila di masa lalu kita memperlakukan mereka dengan buruk. 

terdengar abstrak memang, bamun ini dapat dianalogikan dengan hutang. Misalnya tiba tiba tanpa sebab yang jelas Pak Dogler datang secara tiba tiba mengambil uang Pak Gede sebanyak seratus juta rupiah. Pak Gede akan merasa hal tersebut sangat tidak adil. Ya itu memang suatu tindakan yang sangat tidak adil bila kita hanya melihat saat ini. Namun setelah anda selidiki, suatu saat dimasa lalu, mungkin bukan di kehidupan ini, Pak Gede mengambil sesuatu yang sebanding dengan seratus juta dari Pak Dogler. Jika anda melihatnya dengan cara demikian tentu saja Pak Gede tidak berhak untuk marah. Pak Dogler hanya mengambil apa yang menjadi haknya. 

Keenam, Bagaimana Reaksi kita adalah suatu karma baru. Dan tentu saja akan memberikan buah baru yang sesuai dengan apa yang kita tanam. Kembali ke cerita diatas. Apabila pada saat Pak Dogler tersebut mengambil seratus juta dari Pak Gede dan Pak Gede marah. Pak Gede mengejar Pak Dogler dan memukulnya, saya akan ucapkan selamat, Pak Gede baru saja menanam karma baru, dan tentu bukan suatu Karma yang baik. Karena Karma bersifat pasti dan perlu waktu, suatu saat nanti akan di atur oleh Tuhan dimana Pak Dogler akan memukul (atau menyakiti) Pak Gede. 

Namun bila Pak Gede memahami butir ke lima tadi dan menyadari bahwa itu hanyalah suatu pembayaran Karma, dan Pak Gede memaafakan dan meminta maaf pada Pak Dogler (tidak harus secara fisik, tapi secara batin saja sudah cukup) maka hutang itu selesai. Bila ternyata itu adalah karma terakhir antara pak Gede dan pak Dogler, maka di masa depan Pak Dogler tidak akan mengusik Pak Gede lagi. 

Beberapa orang tidak puas dengan cara seperti itu, mungkin karena menurut mereka itu tidak adil. bila pun merasa perlu dipolisikan, silahkan, karena itu adalah hukum manusia, dan dengan mengambil seratus juta milik Pak Gede, Pak Dogler sudah melanggarnya. Namun yang penting secara batin Pak Gede harus memahami mengapa hal tersebut terjadi dan menahan diri agar tidak menanam makin banyak karma buruk. 

Sepertinya bahasan kali ini lebih berat ya.. hehehehe namun ini adalah bahasan yang penting, karena tanpa memahami karma kita tidak akan bisa melepaskan diri dari samsara dan penderitaan. Jadi, walaupun masih banyak yang ingin saya bahas, mari kita sudahi dulu artikel kali ini dan mari kita resapi, pahami dan mulai mengaplikasikannya dalam hidup kita sehari hari. 

Bila anda berminat membaca blog pribadi saya, silahkan main ke GitaJiwa

Mencintai Tuhan Demi Cinta itu Sendiri


    Inilah doktrin cinta yang dinyatakan dalam Veda. Kali ini kita akan membahas bagaimana doktrin ini dikembangkan dan di ajarkan oleh Khrisna, yang dipercaya oleh kaum Hindu sebagai Inkarnasi Tuhan yang turun ke Bumi.
                                                                                                                           
    Ia mengajarkan bahwa manusia seyogyanya hidup di dunia ini seperti daun teratai, yang hidup di air tapi tidak pernah dibasahi air itu sendiri; jadi manusia seharusnya hidup di dunia, tapi hatinya tetap mengarah kepada Tuhan dan tangannya tetap kepada pekerjaannya.
                                                                                                                                        
    Mencari Tuhan dengan harapan mendapatkan imbalan saat ini maupun di dunia lain memang baik. Tetapi lebih baik mencintai Tuhan demi cinta itu sendiri. Ada doa permohonan berbunyi: ''Tuhan, saya tidak menginginkan kekayaan, atau anak, atau kepintaran. Jika kau berkenan, saya ingin menjalani kelahiran demi kelahiran, namun beri saya satu berkah saja, agar saya bisa mencintaiMu tanpa mengharapkan imbalan - mencintai tanpa pamrih demi cinta itu sendiri''.
                                                                                                                                        
    Salah seorang pengikut Krishna, yang waktu itu adalah Kaisar India, diusir dari kerajaannya oleh musuh-musuhnya dan harus tinggal di hutan bersama Ratunya yang bukan lain adalah para Putra Pandu dan Ibu Kunti dari serial kisah Mahabrata. Pada suatu hari, sang Ratu(Ibu Kunti) bagaimana bisa, ia, Manusia yang berbudi paling luhur, harus menanggung derita yang sedemikian besar ? Yudistira putra tertua menjawab ''Wahai Ratuku, lihatlah betapa Indahnya dan megahnya Himalaya; Saya begitu mencintainya. Gunung itu tidak memberikan apa-apa kepadaku, akan tetapi sifatku adakah mencintai semua yang indah dan megah, dan karenanya saya mencintainya. Demikian pula, saya mencintai Tuhan. Ia adalah sumber semua keindahan dan semua kelembutan. Ia adalah satu - satunya obyek untuk di cintai; adalah sifatku mencintainyaNya dan karenanya aku mencintainya. Saya tidak bersembahyang untuk apapun; dan saya tidak meminta apapun. Kumohon jika aku berdoaNya hanya karena takut akan Nerakanya, maka bukalah Nerakamu bagiku, Jika aku beribadah kepadanya karena menginginkan surganya, maka tutupulah Surgamu bagiku. Biarkan Ia menempatkanku sesukaNya. Karena aku harus mencintaiNya demi cinta. Saya tidak bisa memperdagangkan Cinta.


Beberapa Hal Yang Mungkin Anda Belum Tahu (Atau Lupa) Tentang Karma. [Bagian 1]

Tentang Karma
Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma. [Bagian 1]



Dalam ajaran Hindu dan Budha kita sering mendengar istilah Karma Phala atau hukum sebab akibat. Hukum ini adalah salah satu dari banyak hukum alam yang mengatur dunia ini. Sekilas hukum Karma ini hanya dipahami oleh Agama Hindu dan Budha, namun hukum ini sebenarnya diajarkan di semua kepercayaan dengan pembahasan dan bahasa yang berbeda. Saudara kita yang beragama lain mengenal konsep Dosa dan Pahala, suatu konsep bahwa apa yang dilakukan seseorang akan dicatat, dan dikembalikan kepada orang yang melakukan dengan ukuran yang tepat dan pasti. Terdengar familiar bukan? Tentu saja itu terdengar sangat familiar, hanya menggunakan bahasa yang berbeda. Namun bahkan tidak semua orang Hindu dan Budha mengerti dan memahami apa itu Karma dan bagaimana Karma bekerja.

Karma adalah salah satu hal yang menarik untuk dibahas karena dengan memahami karma phala atau hukum sebab akibat kita akan lebih mudah menjalani hidup kita dengan indah, dan kita dapat “mengatur” apa yang akan kita terima di masa depan. Tentu semua menginginkan hidup yang indah, berkecukupan dan damai. Dan hal hal tersebut hanya akan anda rasakan dengan memahami hukum karma pala. orang yang tidak memahami karma akan merasa bahwa dunia ini tidaklah adil walaupun sebenarnya Ketidakadilan yang dirasakannya adalah suatu Ketidakadilan Yang Adil.

Secara harafiah, Karma berasal dari bahasa Sansekerta dari urat kata “Kr” yang berarti membuat atau berbuat, maka dapat disimpulkan bahwa karmapala berarti Perbuatan atau tingkah laku. Dan Phala berarti buah atau hasil. Hukum Karma Phala berarti : Suatu peraturan atau hukuman dari hasil dalam suatu perbuatan.  

Disini saya akan bagikan beberapa hal yang tidak dipahami (atau terlupakan) oleh banyak orang. Bagi anda yang belum memahami apa yang saya tulis, saya harap ini akan memberikan pandangan pada anda tentang hukum karma, dan bagi anda yang sudah mengetahuinya, semoga ini menjadi penguatan dan mari sama sama kita berlatih untuk menerapkan semua dalam hidup sehari hari kita. Karena suatu ilmu tanpa diamalkan tidak akan membawa kebaikan bagi kita. 

Pertama, Pada hukum karma dikatakan bahwa kita akan mendapatkan (memanen) apa yang kita tanam. Jadi jangan harap kita mendapatkan sebuah kemakmuran bila kita tidak menanam kemakmuran, jangan berharap kita mendapatkan kesehatan tanpa menanam kesehatan, dan yang sering tidak kita sadari, jangan berharap kita memanen kesehatan setelah menanam kemakmuran karena hukum karma bersifat pasti dan adil dan tepat. Tentu saja anda tidak akan mendapatkan mangga bila menanam tanaman selain mangga. 

Kedua karma perlu waktu untuk berbuah. Sama seperti sebuah pohon, karma perlu waktu untuk menghasilkan pala. Hal ini yang sering dilupakan oleh banyak orang. Ada orang yang dalam beberapa tahun melakukan hal buruk dan bertobat, namun setelah beberapa minggu mencoba menjadi orang baik tapi terus merasakan kesialan dan akhirnya berpikir bahwa percuma melakukan hal baik karena akhirnya akan mengalami kesialan juga. 

Ini dapat dianalogikan sebagai seorang petani yang sudah menanam ubi selama bertahun tahun. Petani itu sudah memanen satu lumbung penuh dengan ubi. Suatu hari petani itu memilih untuk menanam padi. Dia mulai menanam padi dan setelah dua minggu dia merasa percuma karena walaupun menanam padi dia harus tetap memakan ubi hasil panennya sebelumnya. Ya wajar saja dia masih harus makan ubi, padi yang dia tanam memerlukan waktu untuk dapat dipanen dan dia sudah punya satu lumbung penuh ubi. Ya mau tidak mau dia masih harus memakan ubi nya. 

Ketiga  Karma bersifat tepat dan pasti. Artinya siapa yang menanam, dia yang harus menuai. Banyak pemahaman diluar sana bahwa apabila kakeknya melakukan suatu kesalahan, ada kemungkinan cucunya yang akan menerima phala nya. Hal ini tidaklah mungkin. Karma bersifat personal dan tidak dapat di pindah nama kan. Pada saat berdonasi mungkin kita bisa lakukan mewakili ayah/ibu kita, namun karma yang sudah tertulis  atas nama kita ya harus kita terima pada saat matang nanti. Kita dapat menghindar, namun itu hanya suatu penundaan. Karena kita harus menerimanya ya kita pasti menerimanya. 

Masih banyak yang dapat dibahas yang berhubungan dengan karma, namun untuk sekarang biarlah kita meresapi tiga poin yang saya jabarkan diatas. Ingat suatu pengetahuan tidak akan bermakna bila tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari kita.
Semoga artikel ini bermanfaat

-Mahotama Seputra-
Untuk membaca artikel artikel saya yang lain dapat diakses di blog pribadi saya GitaJiwa

Mencari Kebahagiaan Abadi


  Jiwa  manusia bersifat abadi, sempurna, tidak terbatas; dan kematian hanyalah perubahan dari satu badan ke badan lainnya. Masa lalu merupakan jawaban atas kehidupan masa kini, masa depan merupakan ketentuan pada saat kehidupan masa ini. Jiwa akan terus bervolusi dalam siklus samsara. Tetapi ada pertanyaan lain: Apakah manusia layaknya kapal kecil di laut  yang bergolak, terlempar ke atas dan ke bawah, berguling maju mundur di atas kemurahan hati dari tindakan baik dan buruk, dan tak berdaya menghadapi arus sebab-akibat yang tidak mengenal belas kasihan; atau sebuah rama - rama kecil yang di letakkan di bawah roda sebab-akibat yang akan menggilasnya tanpa belas kasihan ?

   Hati serasa menciut memikirkan hal semacam ini, akan tetapi inilah Hukum Alam. Apakah tidak ada Harapan, jalan keluar ? Haruskah kita putus asa ? Seorang pendeta Vedic ingin menjawab pertanyaan itu; maka ia berdiri di hadapan Dunia dan mengatakan: ''Dengarlah, anak - anak dengan kebahagian abadi! Saya telah menemukan Orang Bijak yang melampaui semua kegelapan dan kegelisahan; dengan mengetahuiNya saja kamu akan dibebaskan dari siklus Samsara''. Izinkan saya menyebut anda, saudara - saudaraku, sebagai pewaris kebahagiaan abadi. Ya orang Hindu menolak memanggil anda sebagai Pendosa. Anda adalah anak - anak Tuhan Semesta, pewaris kebahagiaan abadi, orang - orang suci dan sempurna. Mengatakan seseorang sebagai pendosa justru merupukan tindakan yang berdosa; tindakan itu menghina sifat manusia, sekaligus menghina penciptanya. Dengan kata lain memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, menghina dan menistakan manusia berarti menghina dan menistakan penciptanya.  Bangkitlah para singa, dan hentikan menganggap dirimu sebagai domba. Kau adalah jiwa yang abadi, jiwa yang bebas dan diberkahi. Kau bukanlah sebuah benda, bukan pula sebuah tubuh. Materi (tubuh) adalah pelayanmu, janganlah kau menjadi pelayan bagi Materi (tubuh). Dengan kata lain, janganlah kamu di jadikan Budak fikiran yang terus-menerus membuat-mu keluar kendali dan jatuh kelembah kebodohan (Avidya) dalam mengendalikan nafsu. Dari semua musuh yang telah kutemui, musuh terberat dan terbesar adalah diri sendiri.

   Jadi, Veda tidak menyajikan berbagai hukum yang tidak mengenal ampun, atau hukum sebab-akibat yang tidak ada ujungnya. Tetapi, di atas semua hukum itu, dan dalam setiap partikel materi dan kekuatan, hanya ada satu, dan  ''atas perintahnya angin bertiup, api membakar, awan menjadi hujan dan kematian melintas di bumi''.

   Ia ada di mana-mana, ia yang murni dan tak berbentuk, Yang berkuasa dan pemurah. Para orang suci Vedic (Resi) bernyanyi kepada Semesta, ''Kau adalah ayah kami. Kau adalah ibu kami. Kau adalah teman yang paling kami kasisihi. Kau adalah sumber semua kekuatan; berilah kami kekuatan. Kau adalah sumber adalah yang memikul beban semesta; bantulah kami memikul beban kehidupan yang kecil ini''. Jadi bagaimana kita menyembahnya ? Melalui cinta. ''Izinkan aku untuk menyembah kemuliaanmu sebagai seorang Ibu, Ayah, Kekasih Dsb, yang lebih berharga dari apapun di dunia ini saat ini maupun pada kehidupan yang akan mendatang.

Weda bukanlah kumpulan Kitab



    Masyarakat Hindu mendapatkan agamanya dari Wahyu, yaitu Weda. Mereka mengatakan bahwa Weda adalah tanpa awal dan tanpa akhir. Mungkin hal ini membingungkan bagi anda, bagaimana mungkin buku tidak mempunyai awal maupun akhir:
Tetapi Veda bukanlah kumpulan kitab. Weda adalah kumpulan kaidah spritual yang kaya, ditemukan oleh orang - orang berbeda, pada saat yang berbeda.

Baca juga: - Mencari kebahagiaan abadi ?
                 - apa itu samsara ?      Ibaratnya hukum gravitasi yang sudah ada sebelum ditemukan orang,  dan akan tetap ada kulaupun umat manusia melupakannya demikian pula dengan kaidah yang mengatur dunia spiritual.  Hubungan moral,  etika dan spiritual antara jiwa dengan jiwa,  dan antara spirit individual dengan Bapak dari semua spirit,  sudah ada sebelum manusia menyadarinya, dan akan tetap ada, kalaupun kita melupakannya.
   
     Penemu kaidah-kaidah tersebut disebut Resi Rishi dan kami menghormati mereka sebagai mahluk yang sempurna.  Dengan senang hati saya mengatakan kepada anda bahwa yang paling hebat di antara mereka adalah Resi perempuan.

     Pada titik itu,  bisa diperdebatkan bahwa sebagai kaidah,  mungkin saja tidak ada akhirnya.  Tapi kaidah itu pasti punya awal.  Weda mengajarkan bahwa penciptaan adalah tanpa awal atau akhir. Ilmu juga membuktikan bahwa jumlah total dari energi kosmik selalu sama.  Jadi,  jika ada saat di mana tidak ada eksistensi apapun,  di manakah semua energi tersebut termanifestasikan?  Beberapa pihak mengatkan energi itu ada dalam bentuk potensial di dalam diri Tuhan.  Jika demikian maka Tuhan kadang-kadang bersifat potensial,  dan kadang-kadang bersifat kinetik,  artinya Dia bisa berubah.  Segala sesuatu yang bisa berubah adalah senyawa,  dan semua senyawa harus mengalami perubahan yang disebut sebagai perusakan.  Jadi Tuhan akan mati, -- sebuah gagasan absrud. Jadi, tidak pernah ada masa di mana tidak ada penciptaan.

     Izinkan saya menggunakan kiasan, kreasi ( penciptaan ) dan kreator ( pencipta ) adalah dua garis tanpa awal dan tanpa akhir, terbentang sejajar. Tuhan adalah pemelihara yang selalu aktif;  melalui kekuatannya sistem sistem berevolusi dari kekacauan, berjalan beberapa saat, lalu dirusak lagi. Inilah yang diulang oleh murid Weda setiap hari;  "Matahari dan bulan, yang di ciptakan oleh Tuhan, seperti matahari dan bulan dari siklus yang lalu". Dan, hal ini sesuai dengan ilmu pengetahuan modern.

Saya adalah Jiwa, bukanlah raga


     Saya berdiri di sini dan bila saya menutup mata serta mencoba melahirkan eksistensis saya sendiri "saya" "saya" "saya"--- apa gagasan yang ada dalam diri saya? Suatu tubuh. Lalu, apakah saya bukan apa2 tetapi hanya kombinasi substansi material? Veda mengatakan "Tidak". Saya adalah jiwa yang hidup dalam sebuah tubuh. Saya bukanlah tubuh. Tubuh akan mati, saya tidak akan mati. Saya ada dalam tubuh; tubuh akan hancur, tapi saya akan terus hidup. Saya juga mempunyai masa lalu. Jiwa tidak diciptakan, karena penciptaan berarti suatu kombinasi, yang artinya pasti akan terdisintegrasi di masa datang. Jika jiwa diciptakan, maka ia harus mati (sama halnya seperti badan yang di ciptakan dan mati)

Baca juga: - Mengenal kematian

Beberapa orang dilahirkan penuh kebahagiaan, mempunyai kesehatan baik, dengan tubuh yang indah, mental yang kuat dan semua kebutuhan terpenuhi. Orang lain dilahirkan, ada yang tanpa tangan atau kaki, ada yang idiot, dan menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan. Jika semuanya diciptakan, mengapa Tuhan yang maha adil dan pemurah menciptakan suatu orang bahagia tetapi yang lain tidak bahagia? Mengapa ia pilih kasih?
 Tidak ada artinya mengatakan bahwa mereka yang sengsara pada kehidupan ini akan menjadi lebih baik di kehidupan mendatang serta tidak ada artinya jika semua itu adalah cobaan untuk manusia yg dipilih oleh tuhan. Mengapakah manusia harus sengsara bahkan di sini, dalam rengkuhan tuhan yang adil dan pemurah?

Gagasan Tuhan sebagai pencipta tidak menjelaskan anomali di atas, melainkan hanya mengungkapkan tindakan kejam dari mahkluk yang mempunyai kekuasaan penuh, disini kita menggunakan fikiran terbuka. Karena itu, harus ada sebab, sebelum kelahiran, yang membuat seseorang manusia sengsara atau bahagia, yaitu tindakannya di masa lalu.
Kita tidak bisa menolak bahwa tubuh mendapatkan kecenderungan tertentu karena keturunan. Tetapi kecenderungan trsbt hanyalah konfigurasi fisik sebagai sarana bagi pikiran tertentu untuk bertindak dalam cara tertentu. Ada kecenderungan lain dalam jiwa yang disebabkan oleh tindakannya di masa lalu. Dan, sesuai hukum afinitas, suatu jiwa yang mempunyai kcenderungan tertentu akan lahir dalam tubuh yang paling sesuai untuk menampilkan kecenderungan trsbt. Hal ini sejalan dengan sains, karena sains ingin menjelaskan segala sesuatunya melalui kebiasaan; kebiasaan diperoleh dengan repetisi atau mengulang ulang. Jadi, pengulangan diperlukan untuk menjelaskan kebiasaan alami dari jiwa yang baru. Dan karena kebiasaan trsbt tidak diperoleh pada kehidupan saat ini, tentunya hal itu diperoleh dari kehidupan yg lalu.

Ada gagasan lain. Mengapa sya tidak dpat mengingat sesuatupun dari kehidupan lalu saya? Ini dapat dijelaskan dengan mudah. Sekarang saya sedang berbicra dalam bahasa ingris, yang bukan bahasa ibu saya. Bahkan tidak ada satu katapun dalam bahasa ibu saya yang saat ini terlintas dalam kesadaran sya. Tetapi kalau saya mencoba mengeluarkannya, maka bahasa ibu saya akan muncul dalam benak sya. Hal ini menunjukan bahwa kesadaran hanyalah permukaan dari samudra mental dalam samudra itulah tersimpan semua pengalaman kita. Coba dan cobalah, maka pengalaman itu muncul, dan anda akan sadar mengenai kehidupan yang lalu.
Bukti trsbt sudah jelas. Verifikasi adalah bukti sempurna dari sebuah teori. Dan itulah tantangan yang dihadapi para resi( orang suci ). Kami telah menemukan rahasia bagaimana samudera memori yang amat dalam bisa dimunculkan, cobalah dan anda akan memperoleh ingatan menyeluruh tentang kehidupan anda di masa lalu.

Jadi seorang hindu percaya bahwa dia adalah sebuah jiwa. Ia yang tidak bisa ditusuk oleh pedang- ia yang tidak bisa dibakar oleh api - ia yg tidak bisa dicairkan oleh air - ia yang tidak bisa dikeringkan oleh udara. Seorang hindu prcya bahwa setiap jiwa adalah sebuah lingkaran, yang kelilingnya tidak berada dimana², tetapi pusatnya terletak di dalam badan. Dan, bahwa kematian berarti perpindahan inti tersebut dari sbuah badan ke badan lain. Jiwa juga tidak terikat oleh kondisi material. Pada dasarnya, jiwa adalah bebas, tidak terikat, suci murni, dan sempurna. Tetapi karena sesuatu sebab, jiwa menemukan dirinya terikat pada materi dan berfikir bhwa ia adalah materi.

Fanatisme lebih buruk dari takhyul

Sekarang marilah kita tarik aspirasi filosofis turun ke agama masyarakat awam. Dari awal, saya ingin tekankan bahwa tidak ada POLITEISME di agama Hindu Dharma. Jika seorang mendengarkan dengan baik, di setiap kuil terdengar para pemuja memberikan semua atribut Tuhan kepada gambar/patung, termasuk atribut omnipresent atau hadir di semua tempat. Kondisi ini juga tidak bisa disebut henoteisme. "Bunga mawar tetap akan harum walaupun tidak disebut mawar". Nama bukanlah penjelasan.

                 - Maha Dewa syirik ?

Saya ingat, pada masa kanak - kanak, saya mendengar seorang misionaris kristen berkotbah kepada kumpulan massa di india. Di antara kata² yang manis, ia bertanya, jika ia memukul patung Dewa dengan tongkat, apa yang bisa dilakukan patung tersebut? Salah seorang pendengar dengan tajam jawab "Jika saya menghina Tuhan anda, apa yang dapat Dia lakukan?". Si pengkhotbah menjawab "Anda akan dihukum ketika anda mati". Maka orang Hindu itu menjawab kembali, "Demikian pula, patung saya akan menghukummu ketika anda mati".

Pohon dikenal dari buahnya, bila melihat mereka yang disebut sebagai pemuja berhala, saya melihat orang² yang penuh dengan moralitas, spritual dan cinta yang tidak saya jumpai ditempat lain. Maka sya bertanya pada diri sendri, "bisakah dosa melahirkan ksucian?"
Saudara2ku, kita tidak bisa berfikir tentang apapun tanpa membayangkannya dalam pikiran kita, sama seperti kita tidak bisa hidup tanpa bernafas. Sesuai hukum asosiasi, citra material menimbulkan gagasan mental dan sebaliknya. Karena itulah kaum Hindu menggunkan simbol eksternal ketika berdoa. Orang Hindu akan mngtkan bahwa gambar membantu pikirannya berkonsentrasi pada yang dipujanya. Iya tahu, seperti juga anda tahu, bahwa gambar dan patung bukan Tuhan. Patung tidak bisa berada di mana² seperti Tuhan.Tetapi kata² omnipresent (ada di mana²) juga hanyalah sebuah simbol. Biasanya kita mengasosiasikan gagasan tentang tak terhingga (infinitas) dengan gambaran tentang langit yg biru, atau lautan luas; demikian pula kita menghubungkan gambaran tentang ksucian, kemurnia, kebenaran dengan gereja, mesjid atau salib.

Kaum Hindu mengasosiakan gagasan tentang kesucian, kemurnian, kebenaran, omnipresent, dan sebagainya dengan berbagai bentuk dan patung. Namun ada perbedaan yg besar. Kenyataan menunjukan banyak orang membaktikan seluruh hidupnya untuk patung di gereja, tapi tidak pernah mengembangkan diri maju ke tataran yang lebih tinggi. Karena bagi mreka agama hanya berarti peningkatan intelektual terhadap doktrin² tertentu dan berbuat baik pada sesamanya. Sementara bagi orang Hindu, agama berpusat pada kesadaran.

 Manusia menjadi suci dengan menyadari kesucian. Patung atau kuil atau gereja atau buku hanyalah pendukung, yang membantu meningkatkan spritualitasnya; tetapi ia harus maju dan mengembangkan dirinya sendiri. Iya tidk boleh berhenti di suatu tempat. Kitab suci mengatakan "pemujaan eksternal, penyembahan material adalah tingkat yg terendah; tahap selanjutnya adalah perjuangan untuk mencapai pemujaan secara mental yg lebih tinggi; tetapi tahap tertinggi adalah ketika seorang menyadari Tuhan". Anda perlu memperhatikan orang yang bersujud di depan patung dan mengatakan "Matahari, bulan, bintang ataupun kilat, bahkan api tidak mampu menggambarkannya. Melalui Dialah semuanya bersinar". Tetapi ia tidak menghina siapapun ataupun menyebut pemujaan patung sebagai dosa. Ia mengerti bahwa itu adalah tahapan yg perlu dilalui dalam kehidupan. "Anak adalah ayah bagi manusia". Apakah dibenarkan jika orang tua mengatakan bahwa masa kanak-kanak adalah dosa atau masa muda sebagai dosa?

[  Pada februari 1891, Vivekananda tiba di alwar, Rajputana (India Bagian Barat) dan bertemu dengan maharaja mangal singh. Maharaja menganut pandangan barat. Walaupun seorang Hindu, ia tidak percaya pada pemujaan terhadap citra - menurutnya citra hanyalah patung tanah liat atau batu. Vivekananda mencoba menjelaskan bahwa kaum Hindu hanyalah memuja Tuhan, dan menggunakan citra sebagai simbol. Tapi sia - sia, mahraja tidak teryakinkan. Vivekananda lalu meminta Perdana Menteri menurunkan potret Maharaja yang digantung di dinding.

Bhgvad gita 9.4Aku berada dimana mana diseluruh alam semesta dalam bentukku yang tidak terwujud. Semua makhluk hidup berada dalam diriku, tetapi aku tidak berada didalam mereka.



takhyul adalah musuh besar manusia, tetapi fanatisme lebih buruk. Mengapakah orang kristen pergi ke gereja? Mengapa salip dianggap suci? Mengapa wajah ditengadahkan ke langit ketika berdoa? Mengapa ada banyak gambar dan patung di Gereja Katolik? Mengapa ada bnyak citra dalam benak kaum protestan ketika mereka berdoa? 

        Vivekananda memegang potret itu dan meminta Perdana Menteri serta orang - orang lain untuk meludahinya. Semua orang merasa kaget. Vivekananda berkata kepada semuanya, "Potret ini hanyalah sepotong kertas; tubuh maharaja tidak terdapat di dalamnya, tidak juga tulang, daging ataupun darahnya. Foto ini tidak berbicara, berlaku atau bergerak seperti Maharaja, tetapi anda semua menolak meludahinya karena anda melihat bayang - bayang maharaja dalam foto ini. Dengan meludahi foto ini, anda merasa menghina raja. Ia berpaling kemaharaja dan berkata, "Anda lihat, Yang Mulia, walaupun foto ini bukanlah anda dalam arti tertentu, tetapi juga adalah anda dalam arti yang lain. Karena itulah para pembantu anda kebingungan ketika saya minta mereka meludahinya". Maharaja menyadari kesalahannya dan memohon berkah dari Swamiji. ]

Baca juga: - Weda bukan hanya sekumpulan kitab

                 Fakta menabjukan nenek moyang Hindu



[ WTS By Book: Agama Hindu Universal Bunga Rampai pemikiran Swami Vivekananda. ]

Follow us on Facebook

Translate