Mengapa Agama menjebak dan mengikat manusia dalam pemahaman yang terbatas ?

Agama jika kita pelajari merupakan ilmu yang membawa manusia menuju pembebasan Jiwa, tapi pada kenyataan yang ada, mengapa agama malah menjebak manusia dan menjadikannya terikat pada pemahaman yang terbatas ? Dan seiring perkembangan jaman, agama malah membuat jiwa manusia terikat pada dualitas kehidupan dari Dunia Material yang sifatnya Maya ini.
Tentunya kita tau bahwa Agama itu berisi ajaran-ajaran yang membebaskan Jiwa. Persis seperti saat kau ingin berenang bebas di samudra yang luas, maka yang terpenting bukanlah perahu yang kau tumpangi melainkan pelajaran tentang bagaimana bisa berenang tanpa tenggelam di samudra itu.

Jika perahu itu yang terpenting bagimu, mungkin kau bisa bertahan untuk sementara waktu di atas samudra. Namun begitu badai datang dan menjatuhkanmu ke lautan, kau akan mudah tenggelam jika tidak mempraktekkan ajaran berenang dalam badai di tengah samudra.
Agama itu serupa perahu. Lalu ajaran-ajaran moral di dalamnya mirip seperti pelajaran berenang dan penyelamatan diri. Dan pengetahuan kesemestaan di dalamnya mirip seperti pengetahuan tentang samudra agar kau bisa menikmati keindahan di dalamnya.
Jika perahu membuatmu hanya mengapung di atas samudra dalam ruang terbatas, sedangkan pelajaran berenang membuatmu bisa menikmati keindahan samudra, maka renungkanlah, mana yang lebih penting bagimu. Perahu ataukah ajaran dan pengetahuan di dalamnya.
Jika disuruh memilih, saya akan memilih keduanya, karena Perahu dan pelajarannya yang bagus yang tidak memliki cacat(Simbol sifat Ego Agama) secara rohani akan membuat kita merasa bangga dan bahagia memiliki perahu dan pelajaran tersebut.

Pada hakikatnya pasti semua ajaran agama itu bersumber dari Tuhan semesta yang sama, dan pastilah ajaran itu mengandung kebaikan dan ajaran semsta yang sama. ibarat dari sumber air bening yang bersifat netral, ketika air bening itu dituangkan pada gelas yang sudah berisi kopi, susu, teh, sirup, serbuk jahe, atau lainnya, pasti akan menghasilkan sajian minuman yang berbeda.  Begitulah kejernihan pengetahuan semesta yang dialirkan pada pikiran sadar manusia, akan menghasilkan sajian kehidupan yang berbeda-beda sesuai dengan jenis muatan ego yang telah ada menemani pikiran sadar manusia itu. Mungkin jika orang yang sudah dimuati oleh ego dogma agama tidak menerima kenyataan ini, sekalinyapun menerima pasti egonya berbicara bahwa tidak ada agama lain yang sempurna selain agamanya, ya karena fikirannya sudah diselimuti ajaran ego dogma yang ada dalam agama tersebut. Maka dari itu berhati-hatilah pada ajaran yang dimuati ego, jika kau masih menginginkan pengetahuan semesta yang jernih dan murni bagi kemurnian Jiwamu.
Orang yang sudah melihat kebenaran pasti akan melihat kebenaran itu dimana-mana sebagai satu keutuhan yang sempurna. Ia akan berhenti saling menyalahkan.
Sedangkan ia yang masih terjebak pada pembenaran, akan melihat kebenaran secara sepenggal-sepenggal, seperti orang-orang buta yang menceritakan wujud Tuhan. Pikiran dan batinnya dipenuhi niat untuk saling menyalahkan dan menyalahkan.
Dan pada hakikatnya setiap agama yang meyakini doa/pemujaannya masin2 itu diterima oleh Tuhan YME, karena menurut sifatnya Tuhan YME yang adil dan mulia tidak terikat oleh suatu ciptaan dan tidak membela agama apapun. Karena kebenaran hanya milik Tuhan YME, jika ada agama yang mengaku dirinya benar dan yang lain salah, sudah dipastikan agama itu mengandung ego dan dogma yang kuat untuk saling menyalahkan.

Coba kita renungi sloka yang saya Terjemahkan dan saya tafsirkan untuk semua kalangan agama yang ada di Dunia ini:

Bagavad gita 9.23
Orang orang dari berbagai kalangan Agama dengan penuh keyakinan sesungguhnya hanya menyembah Tuhan semesta alam YME, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang keliru.

Arti dari sloka itu adalah ketika orang orang dengan berbagai kalangan agama memuja Tuhan menurut konsep atau cara agamanya masing2, mereka lupa bahwa mereka memuja yang sama dan hanya satu, yaitu Tuhan Semesta alam YME. Akhirnya mereka bertengkar karena sifat ego dan saling menyalahkan satu sama lain.
Disinilah penyembahan Tuhan menurut setiap agama dengan cara yang keliru, wahai keturunan Manu.

Om santih santih santih om.
Salam rahayu.

Tuhan Hindu mengadili dirinya sendiri ?


Om Awignam Astu Namo siddham
Om Swasty astu

Dari sebuah diskusi santun antar agama di media sosial facebook, ada salah satu seseorang yang mendiskusikan bahwa seluruh Alam Semesta beserta mahluk yang mewujud itu adalah manifestasi dari Tuhan yang Esa tak terfikirkan. Kemudian ada suatu pertanyaan yang bisa kita tarik menjadi topik pembahasan di Ulasan Segar ini. Pertanyaannya seperti ini; "jika semua Manusia yang mewujud adalah wujud dari Manifestasi Tuhan, lalu apakah Kebaikan sekaligus kejahatan yang ada dalam Manusia adalah berasal dari Tuhan ?
Mengapa Tuhan termakan oleh ciptaannya sendiri yang menjadikannya Tuhan mengadili dirinya senidiri ?"

Pertanyaan ini cukup gerah bagi yang belum mengetahui seluk beluk teologi Hindu.
Memang jika kita pelajari hakikatnya semua yang ada ini adalah Tuhan Yang Maha Esa, tapi hal ini jangan di fahami sesempit itu.

Dalam hubungan Tuhan dengan ciptaanNYA, orang Jawa juga menyatakan bahwa Tuhan menyatu dengan ciptaanNYA. Persatuan antara Tuhan dan ciptaannya itu digambarkan sebagai “curiga manjing warangka, warangka manjing curiga”, seperti keris masuk ke dalam sarungnya, seperti sarung memasuki kerisnya. Meski ciptaannya selalu berubah atau “menjadi” (dumadi), Tuhan tidak terpengaruh oleh perubahan yang terjadi pada ciptaanNYA. Dalam kalimat puitis orang Jawa mengatakan:

Pangeran nganakake geni manggon ing geni nanging ora kobong dening geni, nganakake banyu manggon ing banyu ora teles dening banyu.
Artinya, Tuhan mengadakan api, berada dalam api, namun tidak terbakar, mencipta air bertempat di air tetapi tidak basah.

Sama dengan pengertian "wyapi", "wyapaka" dan "nirwikara" dalam agama Hindu. Oleh karena itu Tuhan pun disimbolkan sebagai bunga “teratai” atau “sekar tunjung”, yang tidak pernah basah dan kotor meski bertempat di air keruh.

Dengan pengertian demikian maka jarak antara Tuhan dan ciptaannya pun menjadi tak terukur lagi. Tentang hal ini orang Jawa mengatakan:

“adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan”, artinya " Artinya: jauh tanpa batas, dekat namun tak bersentuhan".

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa pada hakekatnya filsafat Jawa adalah dari Hinduisme, yang monotheisme pantheistis. Karena itu pengertian "Brahman Atman Aikyam", atau Tuhan dan Atman Tunggal, juga dinyatakan dengan kata-kata “Gusti lan kawula iku tunggal”. Di sini pengertian Gusti adalah Tuhan yang juga disebut Ingsun, sedangkan Kawula adalah Atman yang juga disebut Sira, hingga kalimat “Tat Twam Asi” pun secara tepat dijawakan dengan kata kata “Sira Iku Ingsun” atau “Engkau adalah Aku”, yang artinya sama dengan kata-kata “Atman itu Brahman” dan pada filfasat hindu selanjutnya ada kalimat "Aham Brahmasmi" artinya Aku adalah Tuhan. Yang dimaksud "Aku" bukanlah wujud manusia, tapi yang dimaksud "Aku" adalah kebenaran yang sejati yaitu sang Roh/Atman. Pemahaman yang demikian itu tentunya memungkinkan terjadinya salah tafsir, karena menganggap manusia itu sama dengan Tuhan. Untuk menghindari pendapat yang demikian, orang Jawa dengan bijak menepis dengan kata-kata “ya ngono ning ora ngono”, yang artinya “ya begitu tetapi tidak seperti itu” dan orang Hindu mengatakannya dengan kalimat "Neti - neti" artinya Tuhan bukan ini, juga bukan itu. Mungkin sikap demikian inilah yang menyebabkan sesekali muncul anggapan bahwa pada dasarnya orang Jawa dan Hindu penganut pantheisme yang polytheistis, sebab pengertian keberadaan Tuhan yang menyatu dengan ciptaannya ditafsirkan sebagai Tuhan berada di mana saja, apa saja dan siapa saja, hingga apa saja dan siapa saja bisa di Tuhankan. Anggapan demikian tentulah salah kaprah, sebab Brahman(Tuhan) bukan Atman dan Gusti bukan Kawula walau keberadaan keduanya selalu menyatu. Brahman adalah sumber energi dan sumber asal mula, sedang Atman cahayanya. Kesatuan antara Krisna dan Arjuna oleh para dalang wayang sering digambarkan seperti “api dan cahayanya”, yang dalam bahasa Jawa “kaya geni lan urube”.

Dalam penciptaan semesta menurut filsafat Hindu dalam Regweda, elemen dasar dunia adalah "Asat" atau ketiadaan yang sama dengan "Aditi" yaitu ketidak terbatasan. Semua yang ada adalah "Diti" yaitu yang terikat. Ajaran dalam Regweda juga menyatakan bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan dari unsur yang sudah ada pada tuhan itu sendiri. Unsur itu iyalah Purusa dan prakerti. Kemudian alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap, demikian pula Tuhan menciptakan alam semesta tahap demi tahap. Setelah menciptakan alam semesta, kemudian  Tuhan meresapi seluruh ciptaan-Nya. Tidak ada segala sesuatu yang tidak berisi resapan Tuhan. Tuhan bermanifestasi melalui tenaganya untuk mewujudkan Alam Semesta, dan pada akhirnya zaman Alam semesta akan masuk kembali dengan sendirinya ke dalam tenaga Tuhan. Ya kenyataannya memang  seperti itu, karena jika tidak, apakah ada suatu yang lain untuk menjadikan asal mula alam semesta dan mahluk ini ? Tentu jika kita jujur, kita akan mengatakan "tidak". Karena kita percaya bahwa asal mula Alam semesta itu adalah Tuhan sendiri, kemudian setelah tercipta Tuhan meresapi/memasuki ciptaannya itu sendiri.

Perhatikan sloka berikut:

Bhagavad Gita 9.8
Seluruh susunan alam semesta di bawah-ku. Atas kehendaku alam semesta dengan sendirinya diwujudkan berulang kali. Atas kehendakku akhirnya alam semesta ini dileburkan.

Bhagavad gita 9.10
Alam material ini, salah satu di antara tenaga-tenaga Ku, bekerja di bawah-ku, dan menghasilkan semua makhluk baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Di bawah hukum-hukum alam material, manifestasi­ini diciptakaan dan dilebur berulangkali.

Bhagavad Gita 9.7
Pada akhir zaman, semua manifestasi material masuk ke dalan tenaga ku, dan pada awal zaman lain, Aku menciptakannya sekali lagi dengan kekuatanku.

Note:
(Kenapa alam semesta ini terwujud berulang kali ? Karena jika ada suatu keadaan, pasti akan ada suatu ketiadaan, begitupun sebaliknya. Itulah yang dinamakan siklus Alam semesta)

Tetapi dalam hal perwujudan yaitu Tuhan yang bermanifestasi untuk mewujudkan Alam semesta dan Mahluk, Tuhan sendiri tidak terikat oleh ciptaannya. Walaupun Tuhan bermanifestasi menjadi bentuk Alam semesta dan mahluk, dan walaupun segala suatu itu pasti bersandar pada Tuhan, tapi Tuhan tidaklah bersandar pada manifestasi ciptaannya itu sendiri. Yang artinya Tuhan tidak terpengaruh sama sekali dengan ciptaanya. Dia bersih tak ternodai oleh apapun. Bagaikan teratai yang selalu bersih dan tidak basah diantara kolam yang berlumpur. Itulah kehebatan Tuhan yang tidak terbatas. Maka dari itu dalam hindu Tuhan dikatakan "neti neti" bukan ini juga bukan itu.

Kita perhatikan sloka berikut

Bhagavad Gita 9.6
Semua mahluk hidup yang diciptakan bersandar di dalam Diri-ku bagaikan angin besar yang bertiup dimana mana selalu berada di angkasa.

Bhagavad Gita 9.5
Mengertilah walaupun aku wujud dalam alam semesta, namun segala sesuatu yang diciptakan tidak bersandar dalam Diri-ku. Lihatlah kehebatan batin-ku! Walaupun aku memelihara semua mahluk Hidup dan walaupun aku berada dimana mana, namun aku bukan sebagian dari manifestasi alam semesta ini, sebab Diri-ku adalah sebagai asal mula ciptaan.

Bhagavad gita 10.40
Perwujudan - perwujudan rohani-ku tidak ada batasannya. Apa yang telah kusabdakan kepadamu hanya sekedar petunjuk saja tentang kehebatan rohani-ku yang tidak terhingga.

 Jiwa itu manifestasi Tuhan, tapi Tuhan tidak bisas dikatakan Jiwa, karena Tuhan merupakan mewakili dari setiap jiwa, jiwa ibarat setetes air dan Tuhan ibarat samudera. Dalam tokoh filfasat hindu yang bernama Adi Shakara charya mengatakan bahwa Tuhan (Yang Mutlak) sajalah yang nyata, dunia ini tidak nyata dan jiwa manusia atau roh pribadi tidak berbeda dengan Brahman(Tuhan YME). Inilah yang merupakan sari pati dari filsafat Sankara (Masvinara, 1999:182)

Menurut Upanisad, Brahman(Tuhan) itu tidak dapat diuraikan dengan perantaraan sesuatu wujud yang terbatas, maka itu Brahman dikenal sebagai "neti-neti" yang artinya bukan ini bukan itu. Dipihak lain Upanisad menyatakan bahwa Brahaman memiliki sifat-sifat dan merupakan sumber dari segala sesuatu. Terhadap pernyataan Upanisad ini Adi Sankara Charya memberi penjelasan, bahwa Brahman(Tuhan) memiliki dua wujud yaitu para Brahman dan apara Brahman. Para Brahman adalah perwujudan Brahman(Tuhan) yang absolute tanpa sifat, tanpa bentuk, tanpa perbedaan dan tanpa pembatasan.

Dalam wujud seperti ini Tuhan disebut Nirguna Brahman. Nirguna juga disamakan dengan sunya, niskala, parama Siwa yaitu suatu istilah yang digunakan untuk memahami hakekat Tuhan dalam keadaan-Nya yang semula. Tuhan dalam sifat Nirguna Brahman tidak disertai dengan keterikatan dunia yang maya ini, tanpa adanya penciptaan, pemeliharaan dan peleburan alam semesta, artinya tidak ada yang namanya penciptaan mahluk, karena dalam hal ini semua yang ada itu adalah Tuhan itu sendiri. Wujud Para Brahman itu dipandang bukan dari alam manusia tetapi dari Brahman itu sendiri yang tanpa pribadi dan tanpa sifat.

Sedangkan Apara Brahman adalah perwujudan Brahman yang relatif dalam artian Brahman memiliki sifat-sifat dan pembatasan. Apara Brahman terjadi untuk manusia dalam pemujaannya terhadap Tuhan. Dalam wujud Apara Brahman Tuhan dipandang sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta beserta isinya, maka itu Tuhan dipandang sebagai Yang Maha Tahu dan Yang Maha Kuasa. Karena dunia dicipta oleh Tuhan maka dunia dianggap benar-benar real atau nyata. Dalam keadaan seperti ini Tuhan juga dinamakan Saguna Brahman atau Iswara yang dipuja atau disembah oleh umat manusia.
(Sumawa dan Raka Krisnu, 1993 : 210)

Menurut Sankara segala sifat peristiwa perbuatan baik maupun buruk atau perwujudan itu tidak nyata atau sementara/tidak abadi, yang merupakan hasil dari Avidya(kebodohan) atau kegelapan yang ada di pikiran manusia. Sankara menyangkal adanya kenyataan yang lebih dari satu selain Tuhan itu sendiri, karena segala sesuatu dialirkan dari satu asas yaitu Tuhan YME.
(Sumawa dan Raka Krisnu, 1993 : 209) )

Setelah melihat kenyataan di atas kita kembali ke topik pertanyaan.

Dalam setiap peristiwa yang ada di kehidupan ini, sesungguhnya bersifat netral dan memang demikian adanya. Persepsi pikiran Manusia kemudian menamainya kejahatan dan kebaikan, sesuai kepentingan itu sendiri, hal inilah yang sering kita sebut sebagai dualitas kehidupan.

Jadi gimana?, apakah kebaikan ataupun keburukan dalam kehidupan manusia juga termasuk perwujudan Tuhan ?

Jawabannya "Tentu tidak".
Saat melihat segala peristiwa kehidupan ini dari kacamata semesta atau dari Tuhan, segala peristiwa kehidupan ini adalah bagian dari kepentingan Tuhan semesta itu sendiri. Namun Tuhan tidak memberi penilaian atas kebaikan maupun keburukan terhadap setiap peristiwa yang ada, karena kepentingan itu dimaksud hanya didasari oleh kebenaran.

Perhatikan sloka berikut:

Bhagavad Gita 5.15
Tuhan Yang Maha Esa tidak mengambil kegiatan yang saleh(kebaikan) atau kegiatan yang berdosa(keburukan) yang dilakukan oleh siapapun. Akan tetapi, mahluk yang berbadan(manusia) dibingungkan oleh kebodohan(Avidya) yang menutupi pengetahuan mereka yang sejati(sang roh)

Pada hakikatnyapun Kebenaran sejati yang terletak pada diri manusia(sang roh), juga tidak terlibat atas kebaikan maupun keburukan yang ada. Karena memang hakikatnya semua yang ada ini bersifat netral.
Perhatikan Sloka berikut:

Bhagavad Gita 5.14
Sang roh di dalam badan, tidak menciptakan kegiatan untuk menghasilkan maksud perbuatan tertentu. Segala hal tersebut dilaksanakan oleh sifat2 alam material yang mengikat Indra manusia.

Dari kacamata panca indra manusia, peristiwa perbuatan semacam itu mendapat penilaian dan nama sebagai Kebaikan maupun keburukan/berkah dan bencana, karena sifat manusia memiliki kepentingan atas peristiwa itu yang didasari pada pembenaran dari objek indra kita.
Kenapa disini saya menyebutkan kepentingan itu didasari atas pembenaran ? Karena Jika suatu Kebenaran itu mempunyai alasan maksud tertentu, maka kebenaran akan berubah menjadi suatu pembenaran yang pembenaran itu didasari oleh maksud tujuan untuk membuahkan hasil tertentu.

Jika seorang sudah meninggalkan segala jenis perbuatan yang dimaksud untuk membuahkan hasil, baik itu kebaikan maupun keburukan, orang itu sudah bisa dikatakan sudah berada dalam kesadaran rohani sejati yang murni.
Perhatikan sloka berikut:

Bhagavad Gita 2.55
Apa bila seorang meninggalkan segala jenis keinginan untuk kepentingan objek indra, yang muncul dari pembenaran tafsiran pikirannya, maka pikirannya yang sudah disucikan dengan cara seperti itu, hanya puas dalam kesadaran rohani sang diri, dikatakan ia sudah berada dalam ke adaan rohani yang murni.

Orang yang teguh dan mantap akan dualitas Dunia ini tidak akan bingung dengan Kebaikan maupun keburukan yang tidak ada ini. Orang yang seperti itu akan melihat peristiwa itu secara netral dan seperti itu adanya.

Perbuatan buruk adalah bagian dari indra manusia, bukanlah dari sang diri(sang roh) maupun dari Tuhan. Karena sang diri(roh) dan Tuhan tidak memiliki ikatan yang menjadi suatu kepentingan atas hal itu, seperti halnya sifat baik. Selama manusia lahir hingga dewasa, informasi informasi tentang kedua sifat berbeda itu memasuki fikirannya dan menjadi pilihan saat menghadapi kehidupan. Orang orang menjadi baik karena lebih memilih bisikan-bisikan sifat baik dalam diri, demikian sebaliknya. Meditasi dan yoga adalah latihan untuk memfokuskan pikiran kepada hal hal yang ingin kita fokuskan menjadi seimbang dan netral.
Perhatikan sloka berikut:

Bhagabad Gita 2.48
Lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itulah yang disebut yoga.

Bhagavad Gita 2.50
Orang yang menekuni bhakti mebebaskan dirinya dari perbuatan yang baik dan buruk bahkan dalam kehidupan ini sekalipun. Karena itu, berusahalah untuk melakukan Yoga.

Bhagavad Gita 2.51
Orang yang membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari siklus perputaran kelahiran dan kematian(reinkarnasi/penitisan) dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan (Menyatu pada wujud yang sejati Tuhan Yang Maha Esa)

Untuk mewujudkan kita sebagai pribadi yang sejati dan sadar dalam rohani yang murni, kita harus menerapkan meditasi dan yoga dalam keseharian, dengan memfokuskan pikiran pada sifat-sifat yang tidak kita ingin tampilkan, maka dengan cara itu, kita akan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang sejati. Jika sudah dalam kesadaran rohani yang sejati, kita akan melihat apa yang terjadi itu tidaklah kekal dan segala peristiwa yang baik maupun buruk itu tidaklah ada dalam diri sejati setiap mahluk. Semuanya bersifat netral dan seperti itulah adanya. Jika sudah mencapai kesadaran seperti itu, tidak ada kemungkinan diri kita untuk mencapai ke yang Maha Tunggal dan Maha Sempurna ( Moksantram Jagadhita/Manunggaling kawulo lan Gusti ).

Menjadi satu dengan Tuhan/Manunggaling Kawulo Gusti


     Semua umat Hindu, dari berbagai sekte, sepakat mengenai filsafat di atas. Tetapi kesempurnaan bersifat absolut, dan yang absolut tidak bisa mempunyai sifat, tidak bisa bersifat individual. Jadi bila suatu jiwa menjadi sempurna dan absolut, maka ia akan menjadi satu dengan Tuhan; ia akan menyadari Tuhan sebagai kesempurnaan dan kenyataan dari sifat dan eksistensinya sendiri, Eksistensi absolut, Pengetahuan absolut, dan Kebahagiaan absolut. Kita sering sekali membaca bahwa keadaan ini disebut sebagai kehilangan individualitas dan menjadi batu.

    Saya mengatakan, tidaklah demikian. Jika di ibaratkan ini dengan senyawa air tawar yang merupakan individualitas yang kecil dan bergerak kelaut yang sangat luas yang merupakan individualitas yang universal. Air tawar jika sudah menyatu dengan air laut maka seolah olah sudah menyatu dan menjadi air laut, padahal senyawa yang terdapat pada air tawar akan tetap sama dan tidak kehilangan individualitasnya. Karena itu, individualitas kecil yang penuh derita ini harus dihilangkan guna mencapai individualitas universal. Kematian akan sirna ketika saya menjadi satu dengan kehidupan, penderitaan akan berhenti ketika saya bersatu dengan kebahagiaan, dan semua kesalahan pupus ketika saya bersatu dengan pengetahuan itu sendiri. Inilah kesimpulan ilmiah yang amat penting. Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa tubuh saya adalah satu raga kecil yang selalu berubah di dalam lautan materi yang tak terputus. Karena itu diperlukan Advaita (Kesatuan) antara tubuh dengan mitra saya yaitu jiwa.

   Ilmu pengetahuan hanyalah sebuah upaya mencari kesatuan. Begitu ilmu mencapai kesatuan yang sempurna, ia akan berhenti berkembang ketika berhasil menemukan satu unsur yang bisa dijadikan bahan baku untuk semua benda lain. Fisika akan berhenti berkembang apabila sudah berhasil menemukan satu energi yang dapat memanifestasikan semua energi lain. Dan, ilmu agama akan menjadi sempurna apabila sudah menemukan ia yang merupakan satu-satunya kehidupan di dalam semesta kematian, ia yang konstan di dalam dunia yang selalau berubah, Ia satu-satunya Jiwa yang memanifestasikan semua jiwa lain. Artinya, persatuan terakhir dicapai melaui multiplisitas dan dualitas. Agama tidak bisa bergerak lebih maju lagi. Ini adalah tujuan dari semua Ilmu.

   Semua ilmu akan mencapai kesimpulan ini dalam jangka panjang. Manifestasi, bukan penciptaan, adalah kata kunci dalam ilmu dewasa ini. Orang Hindu senang bahwa sesuatu yang ia pelihara dalam pelukannya selama berabad-abad kini akan diajarkan dalam bahasa yang lebih jelas, berlandaskan temuan-temuan ilmiah yang mutakhir.

Beberapa Hal Yang Mungkin Anda Belum Tahu (Atau Lupa) Tentang Karma [bagian 2]

apa yang kita tabur itu yang kita tuai

Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma  bagian II adalah artikel lanjutan dari Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma bagian I, jadi jika anda belum membaca bagian satu saya sarankan anda untuk membacanya terlebih dahulu 

Hukum Karma atau Karma Pala adalah salah satu hukum yang mengatur keseimbangan alam ini. Umat Hindu dan Budha sangat terbiasa dengan hukum ini karena ini adalah salah satu landasan utama dari dua agama tersebut. Namun ternyata banyak yang belum memahaminya. Artikel ini dibuat sebagai pembelajaran bagi yang belum paham, dan pengingatan bagi yang lupa. Artikel ini bukan hanya diperuntukan bagi anda yang beragama Hindu dan Budha. Mengapa demikian akan saya jelaskan dibawah. 

Saya akan memulai membahas Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma bagian dua.

Keempat Karma pala bersifat universal. Bersifat universal disini berarti tidak hanya mengikat mereka yang memeluk agama tertentu. Hal ini bisa dijelaskan bila kita menganalogikan karma pala sebagai listrik. Listrik sudah mengalir di dunia ini sejak lama, dan walupun ada suatu peradaban yang menyatakan bahwa mereka tidak percaya listrik, mengaggap listrik itu tidak ada, mereka akan tetap matang bila tersambar petir. Sebenarnya Karma Pala diajarkan oleh semua ajaran dengan bahasa yang berbeda. Bagi beberapa ajaran karma pala lebih dikenal dengan dosa dan pahala atau konsep tabur tuai. 

Kelima Apa yang anda terima adalah buah dari karma anda. Ini adalah hal yang sangat sering Kita lupakan. Sering pada saat kita mendapat suatu perlakuan yang tidak enak dari orang lain, kitamulai menyalahkan. Menyalahkan orang yang memperlakukan kita secara tidak mengenakan, menyalahkan diri sendiri, bahkan menyalahkan Tuhan dan mengklaim bahwa Tuhan tidak adil. Ini menunjukan bahwa kita belum memahami Karma Pala. Padahal ketidakadilan ini adalah ketidak adilan yang adil. 

Mungkin kita tidak tahu apa yang sudah kita lakukan pada mereka yang memberikan perlakuan tidak enak pada kita. akan menjadi wajar bila mereka memperlakukan kita dengan buruk bila di masa lalu kita memperlakukan mereka dengan buruk. 

terdengar abstrak memang, bamun ini dapat dianalogikan dengan hutang. Misalnya tiba tiba tanpa sebab yang jelas Pak Dogler datang secara tiba tiba mengambil uang Pak Gede sebanyak seratus juta rupiah. Pak Gede akan merasa hal tersebut sangat tidak adil. Ya itu memang suatu tindakan yang sangat tidak adil bila kita hanya melihat saat ini. Namun setelah anda selidiki, suatu saat dimasa lalu, mungkin bukan di kehidupan ini, Pak Gede mengambil sesuatu yang sebanding dengan seratus juta dari Pak Dogler. Jika anda melihatnya dengan cara demikian tentu saja Pak Gede tidak berhak untuk marah. Pak Dogler hanya mengambil apa yang menjadi haknya. 

Keenam, Bagaimana Reaksi kita adalah suatu karma baru. Dan tentu saja akan memberikan buah baru yang sesuai dengan apa yang kita tanam. Kembali ke cerita diatas. Apabila pada saat Pak Dogler tersebut mengambil seratus juta dari Pak Gede dan Pak Gede marah. Pak Gede mengejar Pak Dogler dan memukulnya, saya akan ucapkan selamat, Pak Gede baru saja menanam karma baru, dan tentu bukan suatu Karma yang baik. Karena Karma bersifat pasti dan perlu waktu, suatu saat nanti akan di atur oleh Tuhan dimana Pak Dogler akan memukul (atau menyakiti) Pak Gede. 

Namun bila Pak Gede memahami butir ke lima tadi dan menyadari bahwa itu hanyalah suatu pembayaran Karma, dan Pak Gede memaafakan dan meminta maaf pada Pak Dogler (tidak harus secara fisik, tapi secara batin saja sudah cukup) maka hutang itu selesai. Bila ternyata itu adalah karma terakhir antara pak Gede dan pak Dogler, maka di masa depan Pak Dogler tidak akan mengusik Pak Gede lagi. 

Beberapa orang tidak puas dengan cara seperti itu, mungkin karena menurut mereka itu tidak adil. bila pun merasa perlu dipolisikan, silahkan, karena itu adalah hukum manusia, dan dengan mengambil seratus juta milik Pak Gede, Pak Dogler sudah melanggarnya. Namun yang penting secara batin Pak Gede harus memahami mengapa hal tersebut terjadi dan menahan diri agar tidak menanam makin banyak karma buruk. 

Sepertinya bahasan kali ini lebih berat ya.. hehehehe namun ini adalah bahasan yang penting, karena tanpa memahami karma kita tidak akan bisa melepaskan diri dari samsara dan penderitaan. Jadi, walaupun masih banyak yang ingin saya bahas, mari kita sudahi dulu artikel kali ini dan mari kita resapi, pahami dan mulai mengaplikasikannya dalam hidup kita sehari hari. 

Bila anda berminat membaca blog pribadi saya, silahkan main ke GitaJiwa

Mencintai Tuhan Demi Cinta itu Sendiri


    Inilah doktrin cinta yang dinyatakan dalam Veda. Kali ini kita akan membahas bagaimana doktrin ini dikembangkan dan di ajarkan oleh Khrisna, yang dipercaya oleh kaum Hindu sebagai Inkarnasi Tuhan yang turun ke Bumi.
                                                                                                                           
    Ia mengajarkan bahwa manusia seyogyanya hidup di dunia ini seperti daun teratai, yang hidup di air tapi tidak pernah dibasahi air itu sendiri; jadi manusia seharusnya hidup di dunia, tapi hatinya tetap mengarah kepada Tuhan dan tangannya tetap kepada pekerjaannya.
                                                                                                                                        
    Mencari Tuhan dengan harapan mendapatkan imbalan saat ini maupun di dunia lain memang baik. Tetapi lebih baik mencintai Tuhan demi cinta itu sendiri. Ada doa permohonan berbunyi: ''Tuhan, saya tidak menginginkan kekayaan, atau anak, atau kepintaran. Jika kau berkenan, saya ingin menjalani kelahiran demi kelahiran, namun beri saya satu berkah saja, agar saya bisa mencintaiMu tanpa mengharapkan imbalan - mencintai tanpa pamrih demi cinta itu sendiri''.
                                                                                                                                        
    Salah seorang pengikut Krishna, yang waktu itu adalah Kaisar India, diusir dari kerajaannya oleh musuh-musuhnya dan harus tinggal di hutan bersama Ratunya yang bukan lain adalah para Putra Pandu dan Ibu Kunti dari serial kisah Mahabrata. Pada suatu hari, sang Ratu(Ibu Kunti) bagaimana bisa, ia, Manusia yang berbudi paling luhur, harus menanggung derita yang sedemikian besar ? Yudistira putra tertua menjawab ''Wahai Ratuku, lihatlah betapa Indahnya dan megahnya Himalaya; Saya begitu mencintainya. Gunung itu tidak memberikan apa-apa kepadaku, akan tetapi sifatku adakah mencintai semua yang indah dan megah, dan karenanya saya mencintainya. Demikian pula, saya mencintai Tuhan. Ia adalah sumber semua keindahan dan semua kelembutan. Ia adalah satu - satunya obyek untuk di cintai; adalah sifatku mencintainyaNya dan karenanya aku mencintainya. Saya tidak bersembahyang untuk apapun; dan saya tidak meminta apapun. Kumohon jika aku berdoaNya hanya karena takut akan Nerakanya, maka bukalah Nerakamu bagiku, Jika aku beribadah kepadanya karena menginginkan surganya, maka tutupulah Surgamu bagiku. Biarkan Ia menempatkanku sesukaNya. Karena aku harus mencintaiNya demi cinta. Saya tidak bisa memperdagangkan Cinta.


Beberapa Hal Yang Mungkin Anda Belum Tahu (Atau Lupa) Tentang Karma. [Bagian 1]

Tentang Karma
Beberapa hal yang mungkin anda belum tahu (atau lupa) tentang Karma. [Bagian 1]



Dalam ajaran Hindu dan Budha kita sering mendengar istilah Karma Phala atau hukum sebab akibat. Hukum ini adalah salah satu dari banyak hukum alam yang mengatur dunia ini. Sekilas hukum Karma ini hanya dipahami oleh Agama Hindu dan Budha, namun hukum ini sebenarnya diajarkan di semua kepercayaan dengan pembahasan dan bahasa yang berbeda. Saudara kita yang beragama lain mengenal konsep Dosa dan Pahala, suatu konsep bahwa apa yang dilakukan seseorang akan dicatat, dan dikembalikan kepada orang yang melakukan dengan ukuran yang tepat dan pasti. Terdengar familiar bukan? Tentu saja itu terdengar sangat familiar, hanya menggunakan bahasa yang berbeda. Namun bahkan tidak semua orang Hindu dan Budha mengerti dan memahami apa itu Karma dan bagaimana Karma bekerja.

Karma adalah salah satu hal yang menarik untuk dibahas karena dengan memahami karma phala atau hukum sebab akibat kita akan lebih mudah menjalani hidup kita dengan indah, dan kita dapat “mengatur” apa yang akan kita terima di masa depan. Tentu semua menginginkan hidup yang indah, berkecukupan dan damai. Dan hal hal tersebut hanya akan anda rasakan dengan memahami hukum karma pala. orang yang tidak memahami karma akan merasa bahwa dunia ini tidaklah adil walaupun sebenarnya Ketidakadilan yang dirasakannya adalah suatu Ketidakadilan Yang Adil.

Secara harafiah, Karma berasal dari bahasa Sansekerta dari urat kata “Kr” yang berarti membuat atau berbuat, maka dapat disimpulkan bahwa karmapala berarti Perbuatan atau tingkah laku. Dan Phala berarti buah atau hasil. Hukum Karma Phala berarti : Suatu peraturan atau hukuman dari hasil dalam suatu perbuatan.  

Disini saya akan bagikan beberapa hal yang tidak dipahami (atau terlupakan) oleh banyak orang. Bagi anda yang belum memahami apa yang saya tulis, saya harap ini akan memberikan pandangan pada anda tentang hukum karma, dan bagi anda yang sudah mengetahuinya, semoga ini menjadi penguatan dan mari sama sama kita berlatih untuk menerapkan semua dalam hidup sehari hari kita. Karena suatu ilmu tanpa diamalkan tidak akan membawa kebaikan bagi kita. 

Pertama, Pada hukum karma dikatakan bahwa kita akan mendapatkan (memanen) apa yang kita tanam. Jadi jangan harap kita mendapatkan sebuah kemakmuran bila kita tidak menanam kemakmuran, jangan berharap kita mendapatkan kesehatan tanpa menanam kesehatan, dan yang sering tidak kita sadari, jangan berharap kita memanen kesehatan setelah menanam kemakmuran karena hukum karma bersifat pasti dan adil dan tepat. Tentu saja anda tidak akan mendapatkan mangga bila menanam tanaman selain mangga. 

Kedua karma perlu waktu untuk berbuah. Sama seperti sebuah pohon, karma perlu waktu untuk menghasilkan pala. Hal ini yang sering dilupakan oleh banyak orang. Ada orang yang dalam beberapa tahun melakukan hal buruk dan bertobat, namun setelah beberapa minggu mencoba menjadi orang baik tapi terus merasakan kesialan dan akhirnya berpikir bahwa percuma melakukan hal baik karena akhirnya akan mengalami kesialan juga. 

Ini dapat dianalogikan sebagai seorang petani yang sudah menanam ubi selama bertahun tahun. Petani itu sudah memanen satu lumbung penuh dengan ubi. Suatu hari petani itu memilih untuk menanam padi. Dia mulai menanam padi dan setelah dua minggu dia merasa percuma karena walaupun menanam padi dia harus tetap memakan ubi hasil panennya sebelumnya. Ya wajar saja dia masih harus makan ubi, padi yang dia tanam memerlukan waktu untuk dapat dipanen dan dia sudah punya satu lumbung penuh ubi. Ya mau tidak mau dia masih harus memakan ubi nya. 

Ketiga  Karma bersifat tepat dan pasti. Artinya siapa yang menanam, dia yang harus menuai. Banyak pemahaman diluar sana bahwa apabila kakeknya melakukan suatu kesalahan, ada kemungkinan cucunya yang akan menerima phala nya. Hal ini tidaklah mungkin. Karma bersifat personal dan tidak dapat di pindah nama kan. Pada saat berdonasi mungkin kita bisa lakukan mewakili ayah/ibu kita, namun karma yang sudah tertulis  atas nama kita ya harus kita terima pada saat matang nanti. Kita dapat menghindar, namun itu hanya suatu penundaan. Karena kita harus menerimanya ya kita pasti menerimanya. 

Masih banyak yang dapat dibahas yang berhubungan dengan karma, namun untuk sekarang biarlah kita meresapi tiga poin yang saya jabarkan diatas. Ingat suatu pengetahuan tidak akan bermakna bila tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari kita.
Semoga artikel ini bermanfaat

-Mahotama Seputra-
Untuk membaca artikel artikel saya yang lain dapat diakses di blog pribadi saya GitaJiwa

Fakta Menakjubkan Dari Nenek-Moyang Kita

Masyarkat Indonesia adalah masyarakat yang budayanya lebih cenderung ke budaya timur. Ditimur sana merupakan salah satu gudangnya filsafat, walaupun indonesia tak kalah hebat dengan filsafatnya, namun kali ini kami ingin mengulas leluhur dari Timur yang sangat berjasa untuk dunia teknology.
   
Fakta historis tentang beberapa jenius India dan penemuan asli mereka luar biasa.

Ini mungkin mengejutkan, banyak dari kita beranggapan bahwa banyak penemuan ilmiah yang diklaim berasal dari Barat, sebenarnya berasal sebagai tanah India oleh para ilmuwan India yang besar dan filsuf. Sebelum itu, kami ingin menjelaskan sedikit tentang sebutan Acharya untuk orang India. Acharya merupakaan salah satu sebutan Guru kerohanian atau Peneliti atau Filsuf bagi masyarakat India. Disini kami ingin menjelaskan Acharya dari timur yang kejeniusannya tak kalah dengan ilmuan modern, diantaranya adalah :

Acharya Kapila (3000 SM)
BAPAK KOSMOLOGI

Dikenal sebagai pendiri filsafat Samkya, Acarya Kapila dipercaya lahir pada tahun 3000 SM dari hasil perkawinan orang suci Kardama dan Devhuti. Beliau mempersembahkan kepada dunia apa yang dikenal dengan nama Sekolah Pikiran Samkhya. Karyanya memberikan pencerahan dalam bidang prinsip – prinsip Jiwa Tertinggi (Purusha) Materi mula (Prakrti) dan penciptaan.

Konsepnya tentng transformasi energi dan penjabarannya yang luar biasa tentang atma, anatma dan elemen halus dari kosmos menempatkan beliau ke dalam posisi kelas elit Sang Master – tiada tertandingi oleh ahli kosmologi manapun. Dalam penjabarannya, Prakrti terinspirasi oleh Purusha, sehingga dikatakanlah bahwa Prakrti adalah ibu dari penciptaan kosmis dan sumber dari segala energi. Layaklah kiranya bila dikatakan bahwa Acarya Kapila mengkontribusikan babak baru bagi dunia kosmologi. Karena observasi beliau yang ekstrasensorik dan penyingkapan tabir rahasia penciptaan ini, beliau dikenal dan diberi penghargaan sebagai Bapak Kosmologi. 

Dalam Bhagavad Gita, Sri Bhagavan Krishna juga menyebutkan : 
                                                                     Bhagavad-gita 10.26
Di antara semua pohon, Aku adalah pohon beringin. Di antara resi-resi di kalangan para dewa Aku adalah Narada. Di antara para Gandharva Aku adalah Citraratha, dan di antara makhluk-makhluk yang sempurna Aku adalah resi Kapila.

http://en.wikipedia.org/wiki/Kapila






Acharya Bharadwaja (800 SM)
PERINTIS TEKNOLOGI PENERBANGAN
Acharya Bharadwaja melewatkan masa hidupnya di kota bernama Prayaga dan merupakan penggubah Ayurweda dan fisika mekanik. Beliau mengarang kitab “Yantra Sarvasva” yang telah menyertakan juga penemuan luar biasa tentang ilmu penerbangan, ilmu ruang angkasa dan mesin terbang. Beliau telah menjelaskan tiga kategori mesin terbang:
1) Mesin terbang yang terbang di bumi dari satu tempat ke tempat lainnya.
2) Mesin terbang yang melintasi satu planet ke planet lainnya.
3) dan mesin terbang yang melintasi satu alam semesta ke alam semesta lainnya.

Beliau mendesain dan mendeskripsikan sesuatu yang bahkan hingga pada masa sekarang pun masih tetap mencengangkan dunia penerbangan. Kecemerlangannya dalam bidang teknologi penerbangan tercermin dari teknik yang dijelaskan oleh beliau:
1.) Rahasia Tertinggi: Teknik untuk membuat mesin terbang agar tidak terlihat dengan penerapan hukum cahaya matahari dan udara.
2.) Rahasia Kehidupan: Teknik untuk membuat mesin angkasa menjadi terlihat melalui penerapan hukum listrik.
3.) Rahasia Spionase: Teknik rahasia untuk mendengarkan percakapan di pesawat lain.
4.) Rahasia Visual: Teknik untuk melihat apa yang terjadi di pesawat lain.
Melalui penemuan yang inovatif dan brilian ini, Acharya Bharadwaja telah dikenal sebagai perintis teknologi penrbangan.
Sumber: vimanas


Acharya Kanada (600 SM)
PENEMU TEORI ATOM
Sebagai penemu “Vaisheshik Darshan"- salah satu dari enam folosofi dasar India - Acharya Kanad adalah seorang jenius di bidang filosofi.Beliau dipercaya terlahir di Prabhas Ksethra di dekat Dwarika di Gujarat. Beliau adalah pionir di bidang realisme, hukum sebab – akibat dan teori atom. Beliau mengklasifikasikan semua benda menjadi sembilan elemen, yakni : bumi, air, cahaya, udara, ether, waktu, ruang, pikiran dan jiwa. Beliau berkata,: Setiap benda ciptaan berasal dari atom – atom yang pada gilirannya berhubungan satu dengan yang lainnya untuk kemudian membentuk molekul.” Pernyataannya mendahului John Dalton sekitar 2500 tahun berselang. Kanad juga menggambarkan dimensi dan pergerakan atom dan reaksi kimianya dengan atom – atom lainnya. Sejarahwan terkenal, T.N. Colebrook, pernah menyatakan, “Dibandingkan dengan para ilmuwan Eropa, Kanad dan ilmuwan – ilmuwan India lainnya adalah para pakar global dalam bidangnya.”http://en.wikipedia.org/wiki/Kanada


Acharya Charaka (370-283 SM)

Acharya Charaka telah dinobatkan sebagai Bapak Pengobatan. Karyanya yang termasyur, "Charaka Samhita", dianggap sebagai ensiklopedinya Ayurveda. Prinsip, diagnosis,dan penyembuhannya masih relevan karena mengandung kebenaran ilmiah, bahkan setelah beratus – ratus tahun lamanya berselang. Ketika sains anatomi dibingungkan oleh berbagai teori di Eropa, Acharya Charaka menyingkap tabir melalui kejeniusannya yang tak tertandingi itu fakta – fakta tentang anatomi manusia, embriologi, farmakologi, sirkulasi darah dan berbagai macam penyakit, seperti diabetes, tuberkulosis, penyakit jantung, dan lain – lain.


BAPAK KEDOKTERAN
Dalam “Charaka Samhita” dia telah menjelaskan kualitas medis serta fungsi dari 100.000 tanaman herbal. Dia telah pula menekankan pengaruh diet dan aktivitas terhadap pikiran dan tubuh. Dia telah membuktikan korelasi antara spiritualitas dan kesehatan fisik yang dikontribusikan luas melalui diagnosis dan sains kuratif. Dia juga mengusulkan kode etis bagi para praktisi pengobatan, dua abad sebelum dikumandangkannya sumpah Hippokrates di bidang kedokteran. Melalui kejeniusan dan intuisinya, Acharya Charak memberikan sudut – pandang yang sangat menyeluruh bagi pembelajaran Ayurweda. Dia selamanya dikenang dalam sejarah sebagai salah satu rsi-ilmuwan yang terbaik dan terhormat.

 http://en.wikipedia.org/wiki/Chanakya


Acharya Patanjali (200 SM)
FATHER OF YOGA
Sains Yoga adalah salah satu dari sekian banyak kontribusi India bagi dunia. Hakekat Yoga adalah pencarian Kenyataan Sejati melalui latihan yang berkesinambungan. Acharya Patanjali, sang penemu, terlahir di Gonda (Gonara), Uttar Pradesh. Beliau mengembangkan metode pengaturan prana (nafas hidup) sebagai sarana mengendalikan badan, pikiran dan jiwa. Hal ini memberi manfaat yang melimpah juga bagi kesehatan dan kebahagiaan di dalam diri. ke-84 posisi yoga Patanjali dengan efektif meningkatkan efisiensi sistem pernafasan, sirkulasi darah, sistem saraf, pencernaan , sistem endokrin dan banyak organ lainnya di dalam tubuh. Yoga memiliki delapan tahapan dimana Acharya Patanjali menunjukkan cara mencapai rahmat Tuhan yang tertinggi melalui disiplin yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dhyana dan dharana. Sains Yoga telah meraih popularitas karena pendekatan dan manfatnya yang ilmiah. Yoga juga menempati tempat terhormat sebagai salah satu dari enam sistem filosofi di India. Acharya Patanjali akan selamanya diingat dan dikenal sebagai seorang perintis dalam bidang ilmu tentang disiplin – diri, kebahagiaan sejati dan kesadaran – diri.

Patanjli Maharishi Meditating
http://en.wikipedia.org/wiki/Patanjali
_________________________


Nagarjuna (100 M)
SANG AHLI KIMIA
Terlahir di desa bernama Baluka, Madhya Pradesh, dia mendedikasikan waktunya untuk melakukan penelitian selama 12 tahun, hingga menghasilkan penemuan – penemuan luar biasa di bidang kimia dan metalurgi. Mahakarya tertulis seperti “Ras Ratnakar,” “Rashrudaya” dan “Rasendramangal” adalah kontribusi fenomenalnya di bidang sains kimia. Saat alkemis Inggris gagal dalam eksperimennya, Nagarjuna telah menemukan proses kimia mentrasmutasi besi menjadi emas. Selain dikenal sebagai pengarang buku – buku kedokteran seperti “Arogyamanjari” dan “Yogasar,” dia juga memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pengobatan kuratif. Karena kejeniusan dan ke”mahabisaan”nya ini, dia krmudian dipercayakan menjadi Penasehat di universitas terkenal, University of Nalanda, dan sampai saat ini masih tetap mengundang decak kagum ilmuwan modern.
Sumber


ARYABHATT (476 M-550M
PAKAR ASTRONOMI DAN MATHEMATIKA
Aryabhatt lahir pada 476  Masehi di Kusumpur. Beliaulah yang menjelajahi batas – batas matematika dan astronomi. Pada 499 M, pada saat beliau berusia 23 tahun, beliau menulis teks tentang astronomi dan risalat non – paralel dalam matematika berjudul “Aryabhatiyam.” Beliau merumuskan proses kalkulasi pergerakan planet – planet dan saat – saat gerhana. Aryabhatt adalah yang pertama kali memproklamirkan bahwa bumi berbentuk bundar, berputar pada sumbunya, mengitari matahari - 1000 tahun sebelum Copernicus mempublikasikan teori heliosentris.

Beliau juga dikenal karena menghitung p (phi) hingga empat digit di belakang koma: 3,1416 dan juga membuat tabel trigonometri. Beratus – ratus tahun kemudian, pada tahun 825 M, matematikawan Arab, Mohammed Ibna Musa mengamini bahwa nilai phi diambil dari India, “Nilai ini telah diberikan oleh Hindu.” Dan yang terpenting, kontribusinya yang paling spektakuler adalah konsep angka nol, yang tanpanya tak mungkin ada teknologi komputer moderen seperti sekarang ini. Aryabhatt adalah Sang Virtuoso dalam bidang matematika.
http://en.wikipedia.org/wiki/Aryabhata


Varahamihira (505-587 M)
AHLI ASTROLOGI DAN ASTRONOMERA TERKENAL
Warahamihira lahir di kapitthaka pada masa 505 M - 587 M, beliau  adalah seorang ahli astrologi dan astronomi yang merupakan salah satu dari sembilan permata Raja Vikramaditya di Avanti (Ujjain). Buku Warahamihira berjudul “Pancha Siddhanta” mendapatkan tempat yang sangat terhormat di bidang astronomi. Dia mencatat bahwa bulan dan planet – planet bersinar bukan atas sinarnya sendiri, melainkan karena memantulkan cahaya matahari. Dalam bukunya yang lain, :"Bhurad Samhita” dan “Bhurad Jatak,” beliau menyingkap tabir cabang ilmu alam, seperti geografi, konstelasi, sains, botani dan ilmu hewan. Dalam risalahnya tentang botani, Varahamihira menyajikan penyembuhan atas berbagai macam penyakit yang sering dialami oleh tanaman. Rsi- ilmuwan masih tetap eksis melalui kontribusinya yang unik bagi sains astrologi dan astronomi.
http://en.wikipedia.org/wiki/Var%C4%81hamihira


 Bhāskarāchārya II (1114-1185 MASEHI)
Sang Jenius Aljabar
Bhaskaracharya lahir di desa bernama Vijjadit (Jalgaon) di Maharastra. Karya – karyanya meliputi Aljabar, Aritmetika dan Geometri, bidang ilmu yang membuatnya kemasyuran dan keabadian. Karya matematikanya diberi judul "Lilavati" dan "Bijaganita" dan dipandang sebagai karya yang tak tertandingi dan fenomenal karena menunjukkan kecerdasannya yang luar – biasa. Karena itulah, tidak mengherankan jika karya – karyanya itu telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa – bahasa dunia.

Dalam salah satu risalahnya, "Siddhant Shiromani" dia menuliskan posisi planet, gerhana, kosmografi teknik matematika dan perlengkapan – perlengkapan astronomi. Dalam "Surya Siddhant" dia membuat sebuah catatan tentang gaya gravitasi: “Benda – benda terjatuh ke bumi disebabkan oleh gaya tarik bumi. Oleh sebab itu, bumi, planet, konstelasi, bulan, dan matahari tetap berada di dalam orbitnya disebabkan oleh gaya tarik ini.” Bhaskaracharya adalah orang pertama yang menemukan teori gravitasi, 500 tahun sebelum Sir Isaac Newton. Dia adalah jawara di antara para matematikawan pada masa abad pertengahan India. Karya – karyanya membakar imajinasi ilmuwan – ilmuwan Persia dan Eropa, yang melalui penelitian terhadap karya – karyanya mendapatkan kemasyuran dan popularitas.
http://en.wikipedia.org/wiki/Bh%C4%81skara_II


Banyak ilmuwan barat terkemuka termasuk pemenang hadiah nobel mengakui atau memuji kesamaan ajaran-ajaran Agama Hindu dengan Ilmu Pengetahuan. Beberapa diantaranya adalah:
  
 Max Muller: Veda akan terus dikagumi dan dihargai selama samudera dan gunung masih ada di atas bumi.
  
 Ralph Waldo Emerson: Veda memuliakan hidup kita. Seluruh filsafat dan ilmu pengetahuan Barat tampak kecil dan tak berarti di hadapan Veda. Seluruh manusia di bumi ini harus kembali ke Veda.
  
 Pall Thema: Veda adalah dokumen mulia, dokumen yang tidak saja bernilai dan menjadi kebanggaan India tetapi bagi seluruh umat manusia, karena di dalamnya kita melihat manusia berupaya untuk mengangkat dirinya di atas keberadaan dunia ini.
  
 Arthur Schoupenhour: Ini meyakinkan orang banyak bahwa Veda adalah abadi dan tidak dapat dijawab oleh manusia dan bahwa Veda berasal dari Brahman, yang adalah penciptanya.
  
 Prof. Heeren: Veda berdiri tegak sendirian dalam kemegahannya sebagai mercusuar cahaya suci bagi gerak maju kemanusiaan.
  
 Lord Morley: Apa yang ditemukan dalam Veda, tidak ada di tempat lain.
  
 Leo Tolstoy: Agama Veda tidak hanya agama yang tertua tapi juga agama yang paling sempurna. Ia menempati posisi pertama dan yang paling utama di antara agama-agama dunia.
  
 Gerald Heard mengatakan, ”Vedanta sangat ilmiah tentang – hukum-hukum yang mengatur alam semesta.”
  
 Dr. Kenneth Walker yang menyanjung kebijaksanaan Veda dan mengatakan, ”Vedanta merupakan suatu usaha untuk meringkas seluruh pengetahuan manusia dan membuat manfaat seluruh pengalaman manusia. Pada suatu saat ia adalah agama, pada saat lainnya filsafat dan saat lainnya lagi ilmu pengetahuan.” Dengan kata lain 3 pilar ilmu pengetahuan dunia, terdapat di dalam kitab suci Hindu (Veda) yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.

    Sarvepalli Radhakrishnan: Setelah musim dingin selama beberapa abad, kita sekarang berada pada periode kreatif dari agama Hindu. Kita mulai melihat pada agama kita yang telah berusia berabad-abad dengan pandangan mata segar.

    Albert Enstein: Ketika saya membaca Bhagavad Gita lalu merenungkan tentang bagaimana Tuhan menciptakan jagat raya ini, segala hal lain terasa begitu tidak bermakna.Kita berhutang   banyak kepada orang India yang mengajarkan kita bagaimana   menghitung, tanpa itu penemuan yang bermanfaat ilmiah ini tidak mungkin dilakukan.

    Dr. Arnold Joseph Toynbee: “Sekarang telah menjadi jelas bahwa satu bab yang memiliki awal Barat akan seharusnya memiliki satu akhir India bila dia tidak ingin berakhir dalam penghancuran diri sendiri dari ras manusia. Pada saat yang amat sangat berbahaya dari sejarah manusia, satu-satunya jalan keselamatan adalah jalan kuno Hindu. Di sini kita memiliki sikap dan semangat yang dapat membuat mungkin bagi ras manusia untuk tumbuh bersama dalam satu keluarga tunggal. Jadi sekarang kita berpaling ke India : hadiah spiritual ini, yang membuat manusia (memiliki) kemanusian (that make a man human), masih tetap hidup dalam jiwa-jiwa India. Teruslah memberikan hal ini pada dunia. Tidak ada apapun yang lain yang dapat memberikan demikian banyak untuk membantu ras manusia (mankind) menyelamatkan dirinya dari penghancuran.” (Sejarawan Inggris 1889 – 1975).

    
W. Heisenberg: “Setelah perbincangan tentang Filosofi India, beberapa ide mengenai Fisika Quantum yang tampaknya gila tiba-tiba menjadi lebih masuk akal.” (Ahli fisika Jerman, 1901-1976)
     Prof. Brian David Josephson: ''Vedanta dan Sankhya memegang kunci proses hukum-hukum pikiran yang berhubungan dengan Bidang Quantum. Seperti operasi dan distribusi partikel-partikel pada level atom dan molekul.” Ahli Fisika Wales, penerima Nobel termuda

    Jean-Sylvain Bailly (1736-1793) seorang Astronom Perancis menyatakan: "Perjalanan bintang dihitung oleh orang-orang Hindu sebelum 4500 tahun bahkan tidak berbeda satu menit pun dari tabel Cassine dan Meyer (digunakan di abad 19). Tabel-tabel Hindu memberikan variasi tahunan yang sama dari bulan sebagai yang ditemukan oleh Tycho Brahe, suatu variasi tidak dikenal sekolah Alexandria dan juga orang Arab yang mengikuti kalkulasi-kalkulasi dari sekolah itu...".
Masih banyak para ilmuan barat yang mengikuti ajaran Upanisad seperti Oppenheimer, Sagan, Capra, Carl Jung, Pierre de Simon, Laplace, Nicola Tesla, dan masih banyak lagi.

     Huston Smith (1919) seorang filsuf, penulis paling fasih, sarjana Agama termasyur yang mempraktekkan Hatha Yoga. Ia berkata, "Selagi barat masih berpikir, barangkali tentang 6.000 tahun usia alam semesta,, Umat Hindu telah memikirkan berbagai zaman, dan beribu-ribu tahun, dan galaksi-galaksi sebanyak pasir dari Gangga. Alam semesta sedemikian luas sehingga Astronomi (ilmu perbintangan) modern terselip kedalam pelukannya tanpa suatu riak."

Sumber artikel : - http://www.cortona-india.org
                           - www.bhupendratechniques.com

Follow us on Facebook

Translate